Saturday, 25 May 2019
Temukan Kami di :
News

Ketua Lakpesdam PBNU Membongkar "Pasar Gelap Ustadz"

DR. Rumadi Ahmad Lc. MA yang merupakan salah seorang mubaligh di Indonesia telah menyampaikan kepada seluruh masyarakat di Indonesia agar selalu berhati-hati dalam memilih ustadz.

Sari Intan Putri - 23/02/2019 19:41

Beritacenter.COM - Akhir-akhir masyarakat Indonesia dikagetkan dengan munculnya beberapa orang yang mengaku sebagai ustadz, namun faktanya mereka tidak sanggup membawa kedamaian di dalam acara tausiyahnya.

DR. Rumadi Ahmad Lc. MA yang merupakan salah seorang mubaligh di Indonesia telah menyampaikan kepada seluruh masyarakat di Indonesia agar selalu berhati-hati dalam memilih ustadz.

"Jangan sembarangan mengundang orang untuk mengisi pengajian, memanggil dia ustaz, apalagi menyebutnya sebagai ulama," sebut Rumadi.

"Saya perlu semakin serius mengingatkan hal ini. Karena semakin banyak orang-orang yang hanya bermodal bisa pidato, berbaju gamis, mengumpat sana-sini diundang kemana-mana, dipanggil ustadz. Hafal satu dua ayat al-Quran dan hadis cukup menjadi modal," lanjut Rumadi.

Lebih lanjut Ketua Lakpesdam PBNU ini juga mengungkapkan jika adanya pasar gelap ustadz. Dimana, ucap Rumadi, pasar gelap tersebut terdiri dari dua kelompok besar.

"Pertama, para muallaf. Beberapa muallaf, meskipun tidak punya ilmu keislaman yang cukup, tiba-tiba dia menjadi ustadz karena modal bisa pidato. Yang paling banyak diceramahkan biasanya menjelek-jelekkan keyakinan lamanya. Dia ingin menunjukkan sekarang sudah mendapat “hidayah”. Tak lupa, biasanya juga menebar ketakutan, bahwa agama lamanya itu menjadi ancaman terhadap Islam. Kalau melihat orang seperti ini, saya sering jengkel sendiri, membayangkan kalau ada orang keluar dari Islam kemudian menjelek-jelekkan Islam dalam komunitas agamanya yang baru. Orang-orang seperti ini yang biasanya menaikkan ketegangan muslim dan non muslim," ucap Rumadi.

Kemudian, Rumadi juga menjelaskan kelompok yang satu lagi. Kedua, orang-orang yang dulu jauh dari Islam, suka maksiat dan sebagainya, kemudian berubah menjadi lebih religius, mengubah penampilan dan sebagainya. Orang-orang seperti ini biasanya menyebut diri sebagai orang yang sudah “hijrah”.

Modal kegelapan masa lalu dieksploitasi, seolah sekarang sudah benar-benar hidup dalam terang. Dengan modal bisa pidato, punya tim media sosial untuk menaikkan popularitasnya, mereka tiba-tiba dipanggil ustadz dan dijadikan rujukan dalam beragama.

Dua kelompok ini, intinya sama. Mereka tidak punya otoritas keagamaan, tapi dimanjakan oleh situasi. Mareka memanfaatkan media sosial untuk marketing.

"Yang saya heran, orang-orang seperti ini banyak yang tidak tahu diri soal kapasitas keislamannya," ucap Rumadi.

Kemudian, Pasar gelap ustadz ini bisa terjadi karena dua hal. Rumadi menjelaskan jika hal pertama yaitu Islam memang longgar dan tidak ada lembaga yang melakukan “stadarisasi” keulamaan seseorang. Pasar ustadz dalam Islam sangat terbuka. Semua sangat tergantung pada “pasar”.

"Jika Anda populer, ceramahnya disukai orang, maka Anda bisa masuk dalam pasar keulamaan," lanjut Rumadi.

Sedangkan yang kedua, Rumadi mengatakan jika saat ini banyak sarana yang bisa digunakan untuk branding. Jika dulu, untuk menjadi ustadz atau ulama membutuhkan waktu untuk diakui masyarakat, sekarang pengakuan itu bisa dilakukan dengan instan.

"Yang penting populer di medsos, sudah cukup," ucap Rumadi.

Lantas, siapa yang menjadi korban dari pasar gelap ini? Tentu saja masyarakat Islam itu sendiri. Orang-orang ini bicara atas nama Islam, padahal dia sama sekali tidak punya otoritas ilmu dan moral.

"Saya tak perlu menyebut nama sebagai contoh. Sekarang ini, masyarakat Islam suka marah-marah, sebagian merupakan hasil dari pasar gelap itu. Benar kata ahli yang mengatakan, di era disrupsi informasi maka akan lahir era matinya keahlian (death of expertise)," tegas Rumadi.

Yang menjadi rujukan masyarakat bukan orang-orang yang punya otoritas, tapi orang yang terkenal, terutama di media sosial. Lihat saja survey-survey tentang tokoh-tokoh agama yang mereka ikuti, sebagian adalah orang-orang yang lain di pasar gelap ustadz tersebut.

Terakhir, hal yang harus diperhatikan adalah masyarakat harus dididik agar mempunyai literasi keualamaan. Kalau mau menuntut ilmu keislaman, belajarlah pada orang-orang yang gurunya jelas, sanad ilmunya juga jelas.

"Jangan terpesona dengan tampilan luar. Saya senang, sekarang masyarakat sudah mulai kritis dan berani mempertanyakan ustaz yang menebarkan kebencian dimana-mana. Hanya masyarakat seperti ini yang bisa menghentikan pasar gelap itu," tutup Rumadi.




Berita Lainnya

Tim Kuasa Hukum BPN Tiba di Gedung MK

24/05/2019 22:20 - Indah Pratiwi
Kemukakan Pendapat


BOLA