Friday, 21 Jun 2019
Temukan Kami di :
News

Rizieq Shihab Sebut "Keislaman Prabowo Tak Jelas", Masih Mau Pilih Prabowo Jadi Pemimpin ?

Indah Pratiwi Budi - 27/03/2019 11:31

FOKUS : Prabowo

Beritacenter.COM - Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Prof Yusril Ihza Mahendra mengutip perkataan Rizieq Shihab bahwa Keislaman Prabowo tak jelas, karena itu harus ada ulama yang mendampingi Prabowo meskipun akhirnya Ijtima ulama yang digaungkan Rizieq Shihab ditolak oleh Prabowo dan lebih memilih Sandiaga dari golongan pedagang yang secara materi memang bergelimang namun tak jelas juga secara agama.

Prof Yusril Ihza Mahendra mengatakan, bahwa Ijtima yang dilakukan ulama tersebut hanya sebuah acara kumpul-kumpul yang tak memiliki daya ikat dan kekuatan hukum. Ijtima juga lebih condong kepada kepentingan politik. Terlebih Prabowo yang dijagokan malah lebih memilih Sandiaga yang tak memiliki latar belakang agama yang kuat. Para ulama yang berada dibalik Prabowo-Sandi hanya menjadikannya tameng atau kendaraan untuk memuluskan agenda tersembunyi.

Banyak diantara Ulama yang berdiri di belakang Prabowo-Sandi, terbukti menuai kasus. Model kampanye ulama-ulama tersebut pun tak lebih dari rentetan ujaran kebencian, bahkan kepada para pemimpinnya sendiri yang seharusnya dihormati dan dijaga marwah dan derajatnya. Secara tak langsung, ulah para ulama yang berada di belakang Prabowo-Sandi telah mendegradasi definisi ulama menjadi ke arah negatif dan jauh dari kesejukan seperti sebelumnya.

Sebagai pendahuluan Prof Yusril menilai Prabowo beserta Ulama pendukungnya memiliki pemikiran yang terbalik-balik. Faktanya Jokowi yang mengambil inisiatif sendiri, tanpa ada komando dari siapa pun memutuskan KH. Ma’ruf Amin sebagai cawapres.

Keulamaan KH Ma’ruf Amin tentu tidak diragukan lagi, kalau publik meragukannya, tidak mungkin beliau sampai memimpin Majelis Ulama Indonesia. Di sisi lain, Prabowo yang didorong untuk menunjuk cawapresnya dari kalangan Ulama, sempat disebut kandidatnya adalah Ustadz Abdul Somad atau Habieb Jufri, malah memutuskan untuk menggandeng Sandiaga Uno yang seorang pedagang.

Menurut Prof. Yusril, Jokowi keislamannya lebih terjamin dibanding Prabowo, kalaupun kubu Prabowo ingin membandingkannya, kedua belah pihak, baik Jokowi maupun Prabowo, tidak ada perbedaan dan tidak bisa kubu Prabowo mengklaim mereka lebih Islami.
Adapun kumpul-kumpul para ulama, mereka hanya menyepakati satu pilihan saja, apakah Jokowi atau Prabowo ? Kalau mau dikatakan Ijmak, Ijmaknya dari mana ? Keputusan ini bukanlah bicara masalah hukum. Kalau keputusan hukum, sedikitnya memiliki daya ikat, tapi kalau hanya kumpul-kumpul, kemudian diputuskan mendukung Prabowo, selesai.

Jika kemudian partai Bulan Bintang diminta mentaati keputusan itu, maka jawabannya adalah maaf, kalau disuruh taat, sementara keputusannya bukanlah keputusan hukum. Apalagi jika dilihat seksama, Yusuf Martak dan Slamet Maarif adalah tim suksesnya Prabowo.

Kesimpulannya lebih banyak kepentingan politik, tapi jangan paksa kami dari partai Islam mentaati selera mereka, dan jangan pula mencap kami menjadi kafir, halal darahnya dan lain sebagainya. Kemudian tidak berhenti di keputusan memilih capresnya.

Pak Jokowi ini mendapatkan stigma, misalnya dianggap membiarkan PKI, atau pak Jokowi ini temannya China, anti Islam, sebaliknya Prabowo dibayangkan sebagai sangat Islam. Saya juga kurang percaya, aku Yusril, termasuk sosok Sandi apa iya mereka berasal dari organisasi gerakan Islam ? Apakah Sandi pernah masuk HMI atau PII sebagai wadah mahasiswa dan pelajar Islam ?

Sebagai contoh, waktu terjadi isu Kampung Luar Batang mau digusur, malah saya yang datang duluan, membela masyarakat di sana.Setelah situasi aman barulah Sandiaga datang ke sana. Jadi citra Islamnya ya begitu. Tapi sekarang ini image memang bisa dibangun, walaupun kenyataannya tidak sesuai
Ironisnya, jika Prabowo dan Sandiaga Uno menisbatkan kubunya didukung sekumpulan Ulama, maka perlu juga menelisik Ulama manakah yang menjadi pendukung mereka ?
Sungguh lucu keterangan yang diberikan Yursil setelah berdialog dengan Ulama pendukung utama bagi Prabowo, ternyata Capres yang didukung oleh Ulama itu, diakui oleh pendukungnya bahwa Islamnya saja tidak jelas.

Aneh dan ajaib, kenapa mereka mendukung pemimpin seperti itu, hal ini menegaskan bahwa Prabowo hanya mereka jadikan sebagai tameng, dan tidak lebih dari sekedar mereka jadikan alat atau kendaraan untuk memuluskan agenda tersembunyi.

Ternyata banyak diantara Ulama yang berdiri di belakang Prabowo-Sandi, terbukti banyak menuai kasus. Dan bahkan sebagian berstatus DPO. Memang sulit untuk bersembunyi dari status tak elok seperti itu, meskipun memiliki label Ulama.
Lalu bagaimanakah mereka menjalankan misi untuk memuluskan dua kontestan pilpres ini meraih suara dari kalangan Islam ? Sungguh disesalkan, karena seperti terekam dalam berbagai media, kampanye Ulama-ulama itu pun tak lebih dari rentetan ujaran kebencian.

Ujaran kebencian mereka bukanlah kepada orang biasa, melainkan justru kepada para pemimpin mereka sendiri, yang seharusnya dihormati dan dijaga marwah dan derajatnya sebagai pemimpin.

Namun alih-alih menghormati. Para figur yang menyandang label terhormat itu, menggunakan mulutnya untuk mengumbar fitnah, semata-mata agar dia sendiri mendapatkan pujian sebagai orang yang berani menyuarakan kritik, namun bukan kritik yang keluar, melainkan cercaan dan hinaan tanpa ampun.

Kita pasti mudah membedakan kritikan dengan cercaan atau hinaan. Karena kritik adalah berlandaskan data dan fakta, diteliti keabsahan dan validitasnya. Sebuah kritik sangat bermanfaat, jika disampaikan secara santun dan langsung kepada individu yang dikritik, tanpa terlihat oleh orang ke tiga.

Namun beda dengan cercaan dan hinaan, kedua kata itu sengaja digunakan untuk perkataan yang dilemparkan dengan maksud si korban mendapatkan predikat tercela dan terhina di mata orang banyak. Patut jika kasus ini dibawa ke ranah hukum, maka pengujarnya dikenakan kasus hukum karena melanggar Undang-undang tindak pidana.

Betapa ruginya jika kita sebagai komponen bangsa, menjadi korban dari pasukan penyebar fitnah kepada pemerintah dan pemimpin bangsa, sehingga termakan oleh ujaran-ujaran keji dari pengais kekuasaan.

Semakin terasa miris, jika korban yang mereka fitnah itu, justru tidak menunjukkan tanda-tanda seperti yang dituduhkan kepadanya. Bahkan sebaliknya, para korban itu dengan sepenuh upaya dan tenaga, menjalankan amanah bagi bangsa dan rakyatnya agar mengarungi kehidupan dalam bernegara dan bermasyarakat, terutama menjalankan ibadah kepada Tuhannya, diayomi, difasilitasi.

Sungguh menyesakkan jika kita tidak menepis upaya kotor seperti yang dilakukan pasukan berpeci, yang mentereng dan berpenampilan berkarisma, namun ucapannya sungguh berbisa lebih mematikan dari binatang berbisa sekalipun.




Berita Lainnya

Kemukakan Pendapat


BOLA