Monday, 27 May 2019
Temukan Kami di :
Opini

Aplikasi Website KPU Down, Ini Tanggapan Praktisi IT Security Indonesia

Indah Dimata - 19/04/2019 21:52 Tampilan website KPU, subdomain pemilu2019.kpu.go.id

Beritacenter.COM - Sampai hari ini website Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak dapat diakses bahkan sejak pagi hari tadi. Webiste yang tidak dapat diakses tersebut adalah halaman utama KPU dan aplikasi perhitungan suara Pilpres 2019 di pemilu2019.kpu.go.id. Banyak kalangan menilai bahwa website KPU sedang diserang oleh para hacker. Dan ada upaya manipulasi suara di sistem KPU tersebut sehingga website tidak dapat diakses sama sekali. Bahkan sampai saat ini subdomain pemilu2019.kpu.go.id sudah hilang dari index search engine Google.

Menurut praktisi IT Security, Zico Ekel bahwa ada beberapa kemungkinan mengapa website KPU itu tidak dapat diakses alias down. Beberapa kemungkinan tersebut adalah serangan yang disengaja oleh beberapa kalangan untuk membuat website tidak dapat diakses.

“Apakah mungkin server real count KPU down karena diserang. Sebagai praktisi IT saya jawab ya. Downnya sebuah server public bisa saja karena diserang dengan sengaja melalui tekni flood, denial of service (DDoS) dan sebagainya,” kata Zico kepada Inisiatifnews.com, Kamis (18/4/2019).

Kemungkinan selanjutnya mengapa website KPU bisa down, Zico menyebut bisa saja karena overload lantaran server yang mengelola manajemen sistemnya tidak dapat menampung banjirnya akses oleh user. 

“Namun bisa juga karena kelebihan akses yang tidak sesuai dengan kapasitas fisik di infrastruktur. Yang lagi terjadi saat ini menurut saya adalah karena kapasitas server sedang overload, maklum ini hajatan Nasional jadi yang biasa gak buka website KPU jadi pada buka,” ujarnya.

Sementara itu ada asumsi dari beberapa kalangan bahwa sedang ada upaya manipulasi data suara di balik tumbangnya website KPU tersebut. Dan untuk asumsi ini, Zico pun menilai hal itu tidak mungkin terjadi karena persoalan teknis transaksi data yang tidak terpenuhi.

“Sudah menjadi standar jika sebuah data yang diunggah ke database akan dianggap gagal jika terjadi interupt. Misalnya jaringan putus akibat DDoS tadi. Bisa data dimarking menjadi gagal atau jika masuk hanya setengah akan dianggap corrupt,” jelas praktisi IT Security yang kini sibuk menjadi developer DracOS Linux.

Namun demikian, pendiri komunitas IT Security Indonesian BackTrack Team (IBT) itu menilai bahwa manipulasi data masih bisa dimungkinkan oleh para peretas. Namun harus ada standar kemampuan minimal yang harus dipenuhi yakni menembus akses provider internetnya.

“Bisa saja data masuk dimanipulasi dengan serangan-serangan berjenis MITM (man in the middle attack), bisa saja attacker mencegat jalur resmi kemudian memanipulasinya dengan fake data, namun untuk hal-hal tersebut bisa terjadi syaratnya adalah minimal si attacker harus mampu menembus ISP (internet service provider) dan menginvasi subnet network dimana server KPU ditempatkan,” paparnya.

Lantas bagaimana memastikan jika data pemungutan suara tetap aman meskipun webiste KPU tengah down. Zico menganggap bahwa data KPU tetap aman karena sejauh ini rekapitulasi suara masih dilakukan secara manual oleh lembaga penyelenggara pemilu itu.

“Saya kenal beberapa orang yang terlibat di dalam server real-count. Mereka di KPU, berkata bahwa real count dilakukan secara manual yang akan dicocokan nantinya di website real count resmi,” ujar Zico.

“Karena sejatinya website real count resmi hanya digunakan untuk menyiarkan data dan memudahkan masyarakat melihat hasil sementara bukan untuk perhitungan,” imbuhnya.

Terakhir, bagi pihak manapun yang merasa risau dengan hasil quick count maupun exit poll beberapa lembaga survei, Zico meminta agar semua pihak menjaga dan mengawal penuh hasil pemungutan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) serta pencocokan lembaran C1. Hal ini digunakan untuk melakukan compiring terhadap hasil rekapitulasi suara oleh KPU.

“Saran saya. kawal saja setiap hasil di TPS anda masing-masing terutama C1. Hal tersebut bisa dijadikan bahan audit atau pencocokan pada final real count nanti, kalo ternyata berbeda dengan data anda ada prosedur untuk protes, mekanisme dan perangkat demokrasi masih berjalan,” tutupnya.




Berita Lainnya

Tak Ada Lagi 01 dan 02, Adanya Persatuan Indonesia

25/05/2019 12:50 - Indah Pratiwi Budi

Pemerintah Sudah Kantongi Dalang Kerusuhan 22 Mei

24/05/2019 18:30 - Indah Pratiwi Budi
Kemukakan Pendapat


BOLA