Rabu, 18 September 2019 - 09:08 WIB

Membongkar Modus Pembunuhan Bulutangkis Indonesia

Oleh : Indah Pratiwi | Budi | Selasa, 10 September 2019 | 16:20 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin

Oleh: Eko Kuntadhi

Adakah olahragawan sukses yang merokok? Atau adakah orang yang suka olahraga sekaligus perokok berat? Kayaknya gak ada. Artinya kalau mau mengurangi populasi perokok, salah satu caranya, budayakan olahraga.

Bagaimana cara budayakan olahraga, bikin event olahraga besar yang melibatkan banyak orang. Khususnya anak-anak. Agar mereka menjauhi rokok.

Tapi bagaimana jika yang membuat event itu justru perusahaan yang berafiliasi dengan pabrik rokok? Itulah, kerennya industri rokok.

Di bungkus rokok, sudah ada peringatan dengan gambar menyeramkan. Kata-katanya kasar. Tapi para perokok gak juga berhenti membeli. Piye?

Sebab yang menyebabkan orang merokok adalah lingkungan. Merokok adalah kebiasaan. Tanpa iklanpun, orang akan tetap saja merokok. Bahkan dengan iklan buruk sekalipun --seperti dalam gambar bungkus rokok-- gak ngaruh bagi mereka.

Untuk memerangi rokok, tidak ada jalan lain selain dengan pendekatan kebiasaan. Buoan dengan koar-koar. Kebiasaan berolahraga salah satunya.

Tapi apakah di dunia ini hanya rokok yang berbahaya? Asapnya merusak tubuh? Ohh, gak juga. Asap kendaraan juga bahaya. Asap pabrik juga bahaya. Buktinya Jakarta jadi kota dengan udara terburuk. Tapi gak ada batasan iklan untuk jualan mobil dan motor.

Bagi anak-anak, yang berbahaya juga makanan ber-SMG tinggi. Zat pewarna. Racikan kimiawi menyedap rasa dalam berbagai snack dan mie instans. Jenis zat ini sama adiktifnya dengan nikotin. Sama-sama menganggu kesehatan.

Bedanya dalam nikotin banyak juga manfaatnya bagi tubuh. Banyak pabrik farmasi memanfaatkan nikotin untuk pengobatan. Termasuk untuk menghentikan kebiasaan merokok.

“Tembakau melancarkan pencernaan, meringankan encok, sakit gigi, mencegah infeksi melalui bau-bauan. Tembakau menghangatkan yang kedinginan, sekaligus menyejukkan mereka yang berkeringat. Tembakau juga bisa dijadikan asap untuk penyakit tuberkolusis, diuapkan untuk sakit rematik dan semua penyakit hawa dingin dan lembab.” (John Joseslyn 1675, dikutip C.A. Weslager, Magic Medicines of the Indians, 1974)

Sejak 1988 terbit laporan Surgeon General AS untuk pertama kalinya menyatakan bahwa nikotin adalah zat yang menyebabkan kecanduan, mendorong kebiasaan (habituating) dan ketagihan (addiction).

Karena itu perlu ditangani dengan terapi. Sejak saat itu kampanye anti tembakau meluas di AS. Disambut hadirnya produk farmasi untuk berhenti merokok.

Sebut saja Johnson & Johnson, GlaxoSmithKline, Pharmacia & Upjohn, Advanced Tobacco Products, Inc, Hoechst Marion Roussel, Novartis, dan Pfizer. Mereka mendukung kampanye anti rokok sambil mendulang uang milyaran dolar.

Semua produk mereka berbasis nikotin. Ada yang berbentuk obat, koyo, atau permen karet. Sebab nikotin memang punya efek terapi bagi tubuh.

Pada akhir 2000, penjualan obat 'berhenti merokok' berbasis nikotin di Amerika mencapai US$ 700 juta. Tidak termasuk penjualan Zyban obat berhenti merokok non nikotin. Belum lagi di luar AS. Agar penjualannya laku, disasarlah pasar-pasar perokok seperti di Asia termasuk Indonesia.

Kampanye antirokok digalakkan. Dana marketing dikerahkan. Dampaknya pendapatan industri farmasi meningkat terus. Jangan kaget kalau Yayasan Lentera Anak pendukung KPAI juga dapat kucuran dana dari Blommberg untuk memerangi semua unsur rokok.

Bahkan event olahraga seperti audisi bulutabgkis Djarum --yang justru sebagai kegiatan paling efektif mengurangi kebiasaan merokok-- ikut diperangi. Tujuannya bukan untuk mengurangi orang terpapar rokok. Sebab event olahraga justru berdampak orang menjauhi rokok. Tetapi agar diskursus soal bahaya merokok meluas. Agar industri farmasi dunia di belakangnya bisa menangguk untung.

Begini. Salah satu produk grup Djarum memang rokok. Tetapi even olahraga justru kampanye paling efektif untuk menjauhi rokok. Protes pada audisi bukutangkis Djarum, bukan bertujuan untuk menghindari anak terpapar rokok. Tapi lebih sebagai efek kampanye bahaya merokok. Sekaligus iklan buat industri farmasi.

Dan ketika kehebohan melanda publik karena penghentian audisi bukutangkis, justru itulah letak keberhasilan program yang diinisiasi Blommberg. Kehobohan itu yang dicari. Soal prestasi bulutangkis, tidak termasuk dalam agenda mereka.

Sebetulnya wajar PB Djarum menghentikan aktivitasnya. Buat apa buang-buang duit membangun prestasi bangsa tapi justru malah dituding mengeksploitasi anak. Wong, eventnya saja sudah paradoks dengan produk rokoknya. Artinya Djarum menggelar event olahraga justru sebagai bagian dari kampanye anti rokok. Anak-anak menggemar olahraga otomatis mereka menjauhi rokok. Artinya Djarum keluar duit ratusan miliar untuk 'membunuh' produknya sendiri.

Saya amat yakin, dari event audisi bukutangkis itu lebih banyak anak yang dijauhi dari rokok. Bisa disurvei kepada para peserta yang saban tahun meningkat. Apakah setelah itu mereka jadi giat merokok atau malah menjauhi rokok karena bermimpi jadi atlet?

Yang patut dipertanyakan justru KPAI dan Lentera Anak. Seberapa banyak anak-anak yang dijauhi dari rokok akibat program yang mereka hela.

Beginilah kalau orang hanya melihat bungkusnya saja. Mereka mengira anak yang memakai kaos berlogo Djarum, itu sudah mirip dengan bungkus rokok. Nah, soal kemasan itulah yang dihebohkan. Sebab memang tujuannya hanya memerangi kemasan.

Djarum mah, nyantai. Mau nyumbang untuk pembinaan atlet dipersulit, ya sudah. Duitnya bisa buat yang lain. Atau dialihkan untuk program iklan rokok secara terang-teranga. Toh, gak dilarang. Kan, asyik. Menambah kocek mereka.

Yang bodoh ya, bangsa ini. Atau lebih tepatnya lembaga-lembaga norak itu. Yang sibuk dengan agenda kepentingan orang lain ketimbang prestasi bangsanya sendiri.

"Mas, bagi rokoknya, dong," Abu Kumkum nyeletuk.

Hush! Nanti aku disemprot KPAI, Komisi Perlindungan Aki-Aki Indonesia...

(www.ekokuntadhi.id)





Fokus : KPAI Obok-obok Olah Raga


#KPAI #KPAI Obok-obok Olah Raga #KPAI Sok Bener #KPAI Bunuh Bibit Atlit Bulutagkis #Bubarkan KPAI


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






1 jam yang lalu

Komentar Ayu Ting Ting Tentang Kebakaran Hutan

BeritaCenter.COM - Kabut asap akibat Karhutla di beberapa daerah seperti Kalimantan dan Sumatra membuat beberapa..
1 jam yang lalu

Iran Tolak Bertemu Empat Mata dengan Donald Trump

Khamenei mengatakan para pemimpin ulama Iran sepakat bahwa semua pejabat di Iran dengan suara bulat mempercayainya.
1 jam yang lalu

Poin-poin Penting Revisi UU KPK

Mendasar pada rapat kerja antara Badan Legislasi (Baleg) DPR dengan pemerintah, Senin (16/9/2019) kemarin, ada tujuh..
2 jam yang lalu

Setelah Diaudit oleh BPK, PLN Boros Ratusan Miliar Rupiah

BPK mencatat jumlah pemborosan di PLN sebesar Rp 275,19 miliar. Secara lebih rinci temuan ini terjadi pada specific..
3 jam yang lalu

Ingin Terhindar Sakit ? Konsumsilah 5 Makanan Sehat ini

Beritacenter.COM - Semua orang ingin mempunyai badan yang sehat dan terhindar dari penyakit. Salah satu cara yang..
4 jam yang lalu

Persebaya Resmi Datangkan Diego Campos

Beritacenter.COM - Persebaya Surabaya resmi mendatangkan Diogo Campos dari Kalteng Putra, Selasa sore (17/9/2019)...
5 jam yang lalu

Dua Buruh Tewas Tertimpa Longsor Pasir di Karangasam

Beritacenter.COM - Dua orang buruh galian material tewas seketika terimpa reruntuhan longsing di tebing yang berada..
6 jam yang lalu

Bejat !! Tukang Susu di Bekasi Cabuli Bocah SD

Beritacenter.COM - Jajaran Satreskrim Polres Metro Bekasi Kota mengamankan seorang penjual susu karena berbuat..
8 jam yang lalu

Sulawesi Utara Diguncang Gempa 4,4 Magnitudo

Beritacenter.COM - Wilayah Kota Gorontalo, Sulawesi Utara diguncang gempa berkekuatan 4,4 magnitudo pada Selasa..
9 jam yang lalu

Satpol PP Kota Depok Gelar Razia Miras, Amankan 750 Botol

Beritacenter.COM - Petugas Satpol PP Kota Depok menggelar razia minuman keras (miras) dari berbagai jenis di wilayah..
10 jam yang lalu

Tempo, Topik Utama dan Kepentingan Bisnis

Beberapa waktu ini tempo membuat blunder. Ada banyak reaksi yg terjadi di dunia maya. Sebenarnya cara2 berani yg..
10 jam yang lalu

Makan Ikan Tongkol, Puluhan Siswi Keracunan Massal di Simalungun

Beritacenter.COM - Puluhan siswi di Asrama Putri GKPS Pematang Raya, Simalungun, Sumatera Utara (Sumut) mengalami..
11 jam yang lalu

Nyambi Jual Sabu, Pedagang Buah Ditangkap BNN

Beritacenter.COM - Anggota Badan Narkotika Nasional (BNN) Kotawaringin Barat (Kobar) Kalteng mengamankan seorang..
11 jam yang lalu

PARAH...! Novel Baswedan "Tuding" Jokowi Punya Kepentingan Revisi UU KPK

Beritacenter.COM - Tanggapan negatif yang dilakukan pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas revisi UU KPK..
12 jam yang lalu

Tempo dan Simbol Negara

Ketika sebuah media melansir satu berita, akan ada 2 kelompok yg bereaksi terhadap berita tersebut. Satu kelompok..
14 jam yang lalu

Robot AI Sophia Ngobrol dengan Menteri Kominfo, Ini Yang Dibahas...

Beritacenter.COM - Robot berteknologi Artificial Inteligence meramaikan acara panggung CSIS Global Dialogue. Dalam..
14 jam yang lalu

Nama BJ Habibie Diusulkan Jadi Nama Jalan di Jakarta

BeritaCenter.COM – Nama mendiang Presiden RI ke-3 BJ Habibie diusulkan menjadi nama jalan di DKI..
14 jam yang lalu

Ada 3 Miliar Orang di Dunia Yang Belum Kenal Teknologi

BeritaCenter.COM – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi saat ini, ternyata masih banyak yang belum kenal..
14 jam yang lalu

FIFA Tinjau Stadion Manahan Untuk Piala Dunia U-20 2021

Beritacenter.COM - Delegasi FIFA didampingi Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha Destia meninjau langusng..
14 jam yang lalu

Awas! Modus Pendanaan Terorisme Dengan Minta Sumbangan ke Masyarakat

BeritaCenter.COM - Koordinator Penelitian Penilaian Risiko Nasional PPATK Patrick Irawan mengungkapkan sejumlah modus..
14 jam yang lalu

Perang Dagang Ternyata Dampaknya Lebih Berbahaya dari Perang Dingin

Beritacenter.COM - Perang dagang antara Amerika Serikat(AS) dan China dinilai lebih berbahaya dibanding perang..

+Indeks

 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi