Selasa, 02 Juni 2020 - 21:17 WIB

Ada Apa Sebenarnya Dengan KPK?

Oleh : Indah Pratiwi | Budi | Kamis, 19 September 2019 | 20:09 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin


Apa jadinya jika kejahatan korupsi antara kepentingan Kelompok Oligarkhi bersinergi dengan kepentingan Kelompok Ideologi? Tiga tahun lalu pada bulan Maret 2016, saya pernah diundang oleh Komisioner KPK Irjen Pol Basaria Panjaitan dalam sebuah forum diskusi tertutup. Forum yang mengundang pegiat Anti Korupsi dari berbagai elemen itu, diantaranya membahas salah satu modus korupsi yang nyaris sempurna. Yaitu pembobolan uang negara melalui modus kredit fiktif. Sebuah modus korupsi melalui perbankan yang jauh lebih canggih daripada modus Bank Century. Bedanya, disini sasarannya adalah bank sehat (Plat Merah), bukan bank sakit seperti Century. Dana disuntik dari bawah melalui Kredit Program, bukan Bail Out dari atas. Pencucian Uangnya diduga melalui IPO, dan Lembaga Penjamin dibentuk melaui BUMD yang dinamakan Jamkrida (Jaminan Kredit Daerah). Intinya, sistem dibangun nyaris sempurna tanpa mengotori tangan pelakunya. Sehingga susah diendus!

Ngerinya lagi dalam modus ini, negara diduga "terlibat". Sistem pengawasan perbankan bisa dikatakan "kosong" dalam waktu interval satu tahun. OJK yang seharusnya sudah bisa bekerja efektif per 31 Desember 2012, justru baru bisa menjalankan tugasnya secara penuh setahun kemudian atau per 31 Desember 2013. Dengan begitu, kelompok oligarkhi begitu leluasa mengeruk uang negara. Dengan nilai yang sangat fantastis mencapai trilliunan rupiah. Saat itu, ada dua propinsi yang menjadi sorotan KPK. Yaitu Jawa Timur dan Jawa Barat. Bahkan Abraham Samad selaku Komisioner KPK saat itu, sempat menyatakan bahwa Koruptor Kakap ada di Jawa Timur. Namun akhirnya ia harus tumbang oleh skenario Cicak vs Buaya.

Sementara di Jawa Barat, KPK juga bergerak. Bahkan sempat mengendus keterlibatan Gubernur Aher. Tapi apa lacur, sejak kejadian Cicak vs Buaya, pengusutan kasus korupsi dengan modus kredit fiktif di dua propinsi terbesar itu seperti tersapu angin. Dan tiba-tiba saja, komisioner pengganti seolah membawa angin segar akan membuka kasus tersebut. Termasuk melakukan diskusi dan kajian untuk mengurai dan membuka kotak pandora ATM Politik bermodus kredit fiktif di era pemerintahan SBY itu. Dihadapan para peserta diskusi, KPK berkomitmen akan membayar "hutang" kasus kakap tersebut.

Setahun setelah kajian dan diskusi itu, tepatnya 11 April 2017, tiba-tiba kita dikejutkan kejadian penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan (NB). Kejadian yang hanya selang beberapa jam setelah KPK mengeluarkan Surat Cekal terhadap Setya Novanto (SN) yang terbelit kasus eKTP. Disitulah kejanggalannya! Menurut analisa saya, apa yang menimpa NB seharusnya tidak terjadi secepat itu jika memang dilatar belakangi terbitnya Surat Pencekalan. Dibutuhkan waktu yang cukup untuk menyiapkan pelaku, alat dan observasi lokasi eksekusi. Namun, masyarakat terlanjur menyoroti SN dan surat cekalnya. Saya justru berpikir, jangan-jangan ada penumpang gelap yang hanya menunggu momentum ini. Artinya, SN hanya sebagai pengalih perhatian sekaligus menjadi "tertuduh". Padahal bisa jadi, NB juga sedang mengusut kasus lebih besar yang bisa mengusik kepentingan sebuah oligarkhi. Dan skenario intelijen tingkat tinggi dimainkan oleh mereka dengan umpan SN. Sebagaimana KPK pernah terseret skenario Cicak vs Buaya saat akan mengusut kasus ini.

Setelah kejadian penganiayaan itu, saya menaruh harapan sekaligus simpati setinggi-tingginya terhadap KPK dan khususnya pada Novel Baswedan. Berharap saat sudah pulih, ia semakin kencang membuka kasus yang sedang ditangani dan bisa jadi juga melatarbelakangi penyerangan tersebut. Namun janggalnya, seantero Republik ini fokus pada upaya pengungkapan pelaku penyiramanan. Bahkan ujung-ujungnya malah terbentuk narasi bahwa Jokowi berhutang mata pada Novel Baswedan. Padahal menurut saya, jika kita lebih mendorong pada kasus besar yang sedang ditangani NB, secara otomatis juga mendorong terungkapnya (dalang) kasus penyerangan itu. Inilah yang menurut saya cukup janggal. Bahkan tema "Hutang Mata" termasuk salah satu gorengan menjelang Pilpres 2019. Mirip dengan narasi "Koruptor Berhutang Budi Pada Jokowi" saat ini.

Kejanggalan mandegnya pengusutan ATM Politik di Jawa Barat juga semakin kentara sejak Kepolisian justru lebih aktif bergerak. Bahkan tak lama setelah dilantik, Pj Gubernur Jabar Komjen Pol Iriawan sempat menggeledah rumah dinas Wagub Jabar yang diduga terkait kasus yang membidik Aher. Kini kasus itu sudah ditangani Polri dan Aher juga telah dipanggil untuk diperiksa pada Maret 2019 lalu.

Kini saat isu Talibanisasi KPK vs Pelemahan KPK muncul, beberapa pertanyaan mengganjal dalam benak saya. Jika Talibanisasi benar adanya, bukankah tiga diantara lima Komisioner KPK adalah Non Muslim? Apa bisa? Jika isu itu benar, apakah berarti pengaruh Wadah Pegawai lebih dominan dari Komisioner dalam tubuh KPK?

Dan jika terpilihnya Ketua Komisioner yang baru dari Polri aktif dianggap sebagai pelemahan KPK, bukankah Polri akhir-akhir ini tidak kalah garang dengan mengungkap Kasus Korupsi Besar yang sempat mangkrak ketika ditangani KPK? Apalagi kasus itu menjerat Aher sebagai jajaran elit PKS yang ideologinya identik dengan Talibanisasi.

Yang terakhir, apakah perlunya pengawasan terhadap internal KPK akan memperlemah atau justru memperkuat KPK? Contohnya seperti kasus dugaan korupsi Aher yang sempat terkatung-katung di tangan KPK bisa dikatakan indikasi "lemah"nya KPK. Apakah justru itu pelemahan yang sesungguhnya? Karena jika kasus serupa di Jawa Timur diungkap, dampaknya akan mengusik Kelompok Oligarkhi. Sementara di Jawa Barat mengarah pada kepentingan Kelompok Ideologi.

Jadi, jangan sampai ada dusta di antara kita. Karena saya yakin antara Pemerintah dan KPK sudah sama-sama tahu simpulnya. Dan saya sebagai masyarakat biasa mengambil sikap "wait and see" sambil terus memantau di mana PKS berpihak. Simpel 'kan?

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan





Fokus : KPK


#KPK #KPK Kebakaran Jenggot #KPK Lembaga Adidaya #Polisi Taliban


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






53 menit yang lalu

Sri Mulyani Akan Selamatkan Ekonomi Melalui Cara Ini

Beritacenter.COM -Di tengah lesu ekonomi nasional lantaran pandemi Virus Corona atau Divid-19, pemerintah..
1 jam yang lalu

Jika Nanti Dibuka Kembali, Jokowi Minta Masjid Istiqlal Siapkan Protokol Kesehatan

Tadi saya titip untuk disiapkan protokol kesehatan hingga nanti pada saat kita melaksanakan sholat di Istiqlal semua aman dari Covid,
1 jam yang lalu

Alhamdulilah.. Nenek Berusia 100 Tahun Sembuh Corona di Surabaya

Beritacenter.COM - Sempat positif Corona (COVID-19), nenek Kamtin yang berusia 100 tahun akhirnya dinyatakan sembuh...
2 jam yang lalu

Begini Penjelasan Menkeu Sri Mulyani Perlunya New Normal

Beritacenter.COM - Dalam menerapkan kebijakan New Normal pemerintah menilai agar masyarakat bisa menjalani tantangan..
2 jam yang lalu

Warga Serang Kaget Ada Puluhan Butir Peluru dan 1 Granat Aktif Ditemukan di Rumah Kosong

Beritacenter.COM - Sebuah Perumahan Persada Banten yang berada di Kelurahan Kepuren, Kecamatan Walantaka, Kota..
3 jam yang lalu

Kasus Kepemilikan Ganja Aktor Dwi Sasono, Polisi Buru Pemasok Berinisial C

Beritacenter.COM - Pihak kepolisian melakukan pengembangan terhadap kasus kepemilikan ganja aktor Dwi Sasono. Polisi..
3 jam yang lalu

Pemkab Ponorogo Lakukan Uji Coba Penerapan 'New Normal'

Beritacenter.COM - Pemkab Ponorogo melakukan uji coba penerapan new normal di sejumlah tempat, mulai dari kantor..
3 jam yang lalu

Kapolri Perintahkan Jajarannya Berikan Beras Untuk Masyarakat Terdampak COVID-19

Beritacenter.COM - Kapolri Jenderal Idham Azis mengeluarkan perintah agar 11 ribu ton beras disalurkan kepada..
4 jam yang lalu

New Normal Harus Dibarengi Kedisiplinan Masyarakat Patuhi Protokol Kesehatan

Skenario the new normal sedang dicanangkan oleh pemerintah. Nanti pelan-pelan semua orang boleh keluar rumah dan..
4 jam yang lalu

Ada 62 RW Masuk Zona Merah Diwajibkan Karantina Lokal, Ini Daftarnya...

Beritacenter.COM - Pemerintah DKIJakarta menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Lokal (PSBL) di sebanyak 62..
4 jam yang lalu

Polisi Ungkap Modus Travel Gelap Angkut Pemudik Balik ke Depok, Lewat Jalur Tikus-Test Case

Beritacenter.COM - Sejumlah travel gelap pengangkut pemudik dari Jawa untuk kembali ke Depok, Jawa Barat, berhasil..
5 jam yang lalu

Serang Petugas Pakai Pisau, Pengedar 30 Kg Sabu Ditembak Mati Polisi di Sumut

Beritacenter.COM - Pria diduga pengedar narkoba bernisial DS (40) ditembak mati polisi di Sumatera Utara (Sumut)...
5 jam yang lalu

Usai PSBB Berakhir, Ganjil-Genap Akan Normal Lagi

Beritacenter.COM - Ganjil-genap di Ibu Kota Jakarta akan kembali normal setelah berakhirnya pembatasan sosial..
6 jam yang lalu

Pemerintah Batalkan Keberangkatan Jemaah Haji 2020, 39 Ribu Jemaah asal Jabar Terdampak

Beritacenter.COM - Menteri Agama Fachrul Razi mengumumkan pembatalan keberangkatan jemaah haji untuk seluruh warga..
6 jam yang lalu

WAJIB TAHU! Tiga Kesalahan yang Sering Dilakukan di Tengah Pandemi COVID-19

BeritaCenter.COM – Setiap orang dituntut tetap patuh dan secara ketat menerapkan protokol kesehatan meski..
6 jam yang lalu

Kaum Halu Menggoyang Jokowi dengan Isu Komunisme

Hari ini 1 Juni kita peringati sebagai Hari Lahir Pancasila. Momentum kelahiran Pancasila diambil saat Ir. Soekarno..
6 jam yang lalu

Sekelompok ABG Aniaya Operator SPBU Yang Minta Isi Bensin Full Tank

Beritacenter.COM - Sekelompok ABG yang berada di Kabupaten Bandung Barat berbuat aniaya dimana seorang operator pom..
6 jam yang lalu

Fenomena Aneh Mirip Tsunami Terjadi di Kawah Ijen, Begini Analisa Pakar Geologi ITS

BeritaCenter.COM - Fenomena gelombang mirip tsunami setinggi 3 meter yang terjadi di Danau Kawah Ijen sungguh..
6 jam yang lalu

Soal Pembukaan Masjid Istiqlal, Jokowi Serahkan ke Imam Besar

BeritaCenter.COM - Presiden Joko Widodo menyerahkan keputusan terkait pembukaan Masjid Istiqlal kepada Imam Besar..
7 jam yang lalu

Polisi Ungkap Aktor Dwi Sasono Konsumsi Ganja Sejak Lama

BeritaCenter.COM - Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Budi Sartono mengatakan bahwa aktor Dwi Sasono (40) konsumsi..
7 jam yang lalu

WHO Sarankan Gunakan Obat Ini Untuk Pasien COVID-19

Beritacenter.COM - Obat antivirus remdesivir untuk pasien COVID-19 dinilai terbukti untuk mengobati mereka yang..
7 jam yang lalu

Patuhi Protokol Kesehatan Songsong The New Normal

Saat ini istilah the new normal sedang banyak dibicarakan. Di era new normal, kita diharapkan bisa beraktivitas di..

+Indeks
Buat Artikel






 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi