Selasa, 14 Juli 2020 - 19:27 WIB

Kenapa HTI Dibubarkan, FPI Tidak?

Oleh : Indah Pratiwi | Budi | Sabtu, 30 Nopember 2019 | 09:06 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin


Terlalu dini untuk menilai buruk kepada Menteri Agama Jend (Pur) Fachrul Razi, Menkopolhukam Mahfud MD, serta Mendagri Tito Karnavian hanya karena tidak membubarkan FPI, dan malah ada wacana hendak memperpanjang izinnya. Mereka belum sampai 100 hari kerja. Jangan hanya karena ingin sekali melihat FPI dibubarkan, serta merta langsung skeptis kepada mereka. Pun sebaliknya, jika mereka membubarkan FPI pun, tidak serta merta mereka dianggap menteri yang berani, keren, sukses, dan pujian-pujian lainnya. Intinya membubaran FPI atau meneruskan izinnya bukan ukuran keberhasilan atau kegagalan Menteri Agama, Menkopolhukam, dan Mendagri.

 

Urusan FPI itu sebenarnya urusan yang remeh temeh. FPI hanya ormas kecil yang memang sedikit ‘brisik’. Tidak bisa dijadikan ukuran untuk menilai hasil kerja menteri. Bersikap sewajarnya saja dalam menyikapi kebijakan para menteri. Tak perlu mencaci jika kebijakannya tidak sesuai yang diharapkan. Pun sebaliknya, tak perlu memuji setinggi langit jika kebijakannya seuai dengan yang diharapkan. Bersikap sewajarnya saja.

 

Saya ingin menganalisa kenapa pemerintah terlihat keras ke HTI, namun lembek ke FPI. Bukan berarti saya pro dengan FPI dan ingin membelanya. Sama sekali bukan. Hanya mencoba positif thingking terhadap wacana izin FPI hendak diperpanjang.

 

Banyak masyarakat yang mungkin menganggap bahwa HTI dan FPI itu sejenis. Dari anggapan ini yang kemudian menjadi sebuah kesimpulan bahwa FPI itu layak dibubarkan sebagaimana HTI. Saya tidak peduli tudingan atau isu bahwa FPI itu peliharaan para jenderal. Konon yang menginisiasi FPI itu adalah para jenderal-jenderal yang sekarang sudah cukup udzur. Biarlah ini menjadi isu yang tak perlu diperjelas kebenarannya.

 

Meskipun FPI dianggap tak beda jauh dengan HTI, namun sebenarnya ada perbedaan mendasar yang mungkin membuat pemerintah memberikan perlakuan yang berbeda. Berikut perbedaannya:

 

Pertama, HTI adalah organisasi impor, sedangkan FPI adalah organisasi lokal. FPI masih asli Indonesia. Analogi sederhana, jika Indonesia diibaratkan sebuah keluarga yang menempati sebuah rumah, maka HTI adalah tamu, namun ingin menguasai rumah yang ditempati oleh keluarga tersebut. Tamu tersebut tentu harus diusir dan dienyahkan. Saya melihat FPI itu seperti anggota keluarga yang bandel, yang perlu bimbingan dan pembinaan dari orang tuanya agar menjadi lebih baik lagi.

 

Membubarkan FPI seperti mengusir anggota keluarga dari rumah. Hal ini tentu terlihat kurang elok. Sebandel-bandelnya FPI, bagaimanapun dia tetap anggota keluarga Indonesia. FPI hanya perlu bimbingan dan pembinaan lebih lanjut dari pemerintah agar bisa menjadi ormas yang baik, lebih soft dan santun dalam beramar ma’ruf nahi mungkar, bermanfaat untuk masyarakat luas, serta tidak mengganggu masyarakat agama lain.

 

Kedua, FPI tidak melakukan gerakan yang berpotensi menggulingkan pemerintah seperti kudeta, memberontak, atau melakukan konsolidasi untuk mengganti pancasila dengan khilafah. Hal ini berbeda dengan HTI yang gerakannya sangat terstruktur, masif, dan sistematis untuk mengganti ideologi pancasila dengan khilafah. Mereka bergerilya di kampus-kampus umum, sekolah-sekolah, serta kelompok masyarakat yang notabene masih awam pehamaman agamanya. Oleh sebab itu, HTI sudah selayaknya dibubarkan sebelum ideologinya mewabah dan menggunung.

 

Terlalu dini untuk menilai buruk kepada Menteri Agama Jend (Pur) Fachrul Razi, Menkopolhukam Mahfud MD, serta Mendagri Tito Karnavian hanya karena tidak membubarkan FPI, dan malah ada wacana hendak memperpanjang izinnya. Mereka belum sampai 100 hari kerja. Jangan hanya karena ingin sekali melihat FPI dibubarkan, serta merta langsung skeptis kepada mereka.

Pun sebaliknya, jika mereka membubarkan FPI pun, tidak serta merta mereka dianggap menteri yang berani, keren, sukses, dan pujian-pujian lainnya. Intinya membubaran FPI atau meneruskan izinnya bukan ukuran keberhasilan atau kegagalan Menteri Agama, Menkopolhukam, dan Mendagri.


Urusan FPI itu sebenarnya urusan yang remeh temeh. FPI hanya ormas kecil yang memang sedikit ‘brisik’. Tidak bisa dijadikan ukuran untuk menilai hasil kerja menteri. Bersikap sewajarnya saja dalam menyikapi kebijakan para menteri. Tak perlu mencaci jika kebijakannya tidak sesuai yang diharapkan. Pun sebaliknya, tak perlu memuji setinggi langit jika kebijakannya seuai dengan yang diharapkan. Bersikap sewajarnya saja.

Saya ingin menganalisa kenapa pemerintah terlihat keras ke HTI, namun lembek ke FPI. Bukan berarti saya pro dengan FPI dan ingin membelanya. Sama sekali bukan. Hanya mencoba positif thingking terhadap wacana izin FPI hendak diperpanjang.

Banyak masyarakat yang mungkin menganggap bahwa HTI dan FPI itu sejenis. Dari anggapan ini yang kemudian menjadi sebuah kesimpulan bahwa FPI itu layak dibubarkan sebagaimana HTI. Saya tidak peduli tudingan atau isu bahwa FPI itu peliharaan para jenderal. Konon yang menginisiasi FPI itu adalah para jenderal-jenderal yang sekarang sudah cukup udzur. Biarlah ini menjadi isu yang tak perlu diperjelas kebenarannya.

Meskipun FPI dianggap tak beda jauh dengan HTI, namun sebenarnya ada perbedaan mendasar yang mungkin membuat pemerintah memberikan perlakuan yang berbeda. Berikut perbedaannya:

Pertama, HTI adalah organisasi impor, sedangkan FPI adalah organisasi lokal. FPI masih asli Indonesia. Analogi sederhana, jika Indonesia diibaratkan sebuah keluarga yang menempati sebuah rumah, maka HTI adalah tamu, namun ingin menguasai rumah yang ditempati oleh keluarga tersebut. Tamu tersebut tentu harus diusir dan dienyahkan. Saya melihat FPI itu seperti anggota keluarga yang bandel, yang perlu bimbingan dan pembinaan dari orang tuanya agar menjadi lebih baik lagi.

Membubarkan FPI seperti mengusir anggota keluarga dari rumah. Hal ini tentu terlihat kurang elok. Sebandel-bandelnya FPI, bagaimanapun dia tetap anggota keluarga Indonesia. FPI hanya perlu bimbingan dan pembinaan lebih lanjut dari pemerintah agar bisa menjadi ormas yang baik, lebih soft dan santun dalam beramar ma’ruf nahi mungkar, bermanfaat untuk masyarakat luas, serta tidak mengganggu masyarakat agama lain.

Kedua, FPI tidak melakukan gerakan yang berpotensi menggulingkan pemerintah seperti kudeta, memberontak, atau melakukan konsolidasi untuk mengganti pancasila dengan khilafah. Hal ini berbeda dengan HTI yang gerakannya sangat terstruktur, masif, dan sistematis untuk mengganti ideologi pancasila dengan khilafah. Mereka bergerilya di kampus-kampus umum, sekolah-sekolah, serta kelompok masyarakat yang notabene masih awam pehamaman agamanya. Oleh sebab itu, HTI sudah selayaknya dibubarkan sebelum ideologinya mewabah dan menggunung.

Sedikit yang mungkin membuat masyarakat ingin agar FPI dibubarkan karena gaya beramar ma’ruf nahi mungkar FPI yang tidak sesantun NU dan Muhammadiyah. Untuk kultur masyarakat Indonesia, gaya FPI ini kurang cocok. Indonesia adalah negara yang sangat heterogen. Beramar ma’ruf dengan gaya ala FPI tidak efektif dan hanya menimbulkan perseteruan. Dalam hal ini FPI sepertinya perlu berbenah dan perlu belajar beramar ma’ruf nahi mungkar yang baik kepada NU dan Muhammadiyah.

Soal visi misi di dalam AD/ART FPI yang menyebut hendak menerapkan Islam secara kafah di bawah naungan khilafah Islamiyah melalui pelaksanaan dakwah, penegakan hisbah, dan pengawalan jihad tidak serta merta membuat FPI sejenis dengan HTI. Barangkali konsep khilafah yang diusung HTI berbeda dengan yang diusung oleh FPI. Oleh sebab itu, pemerintah memang perlu duduk bersama dengan FPI untuk membahas soal visi misi di dalam AD/ART FPI.

Terakhir, seberingas-beringasnya FPI, bagaimanapun Indonesia negara hukum. Jika sampai beramar ma’ruf dengan cara anarkis, hukum siap menjerat. Sebenarnya tidak hanya FPI. Siapapun yang melakukan tindakan melanggar hukum pasti akan dijerat. Pada titik ini, Menkopolhukam Mahfud MD harus tegas soal penegakkan hukum tanpa pandang bulu. Kesimpulannya, tak ada salahnya memberikan FPI kesempatan untuk bernafas, namun tetap harus ada pengawasan dari pemerintah.

Namun intinya hingga detik ini belum ada keputusan bahwa izin FPI resmi diperpanjang. Masih sebatas wacana. So, tak perlu terlalu dini untuk ribut, kecewa, menuding yang tidak-tidak seperti “Jokowi takut FPI”.

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)





Fokus : FPI


#FPI #Izin FPI #Polemik Izin FPI


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






49 menit yang lalu

Polri Selidiki 55 Kasus Penyelewengan Dana Bansos Covid-19

Beritacenter.COM - Bareskrim Polri selidiki 55 laporan terkait kasus penyalahgunaan bantuan sosial (bansos) untuk..
1 jam yang lalu

Disebut 'Menteri Titipan', Edhy Prabowo : Gapapa, Saya Fokus Membahagiakan Rakyat

Beritacenter.COM - Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo angkat bicara terkait sebutan masyarakat kepada..
2 jam yang lalu

Data Pengguna Tokopedia Diretas, Sejumlah Karyawan Diperiksa Polisi

Beritacenter.COM - Karopenmas Div Humas Polri Brigjen Awi Setiyono mengatakan, pihaknya terus melakukan penyelidikan..
3 jam yang lalu

AKU SELALU RINDU....!!!

Rindu pemimpin yang tidak memperkaya diri dan rendah hatiRindu pemimpin yang tidak memuliakan diri namun punya harga..
3 jam yang lalu

Ingin Tingkatkan Subscriber, Pemuda di Sampang Bikin Video Seret Biawak di Jalan Raya

Beritacenter.COM - Media sosial (Medsos) dihebohkan dengan aksi seorang pemuda bernama Abdullah (30), warga asal Desa..
4 jam yang lalu

Tidak Dibutuhkan, Real Madrid Siap Melepas James Rodriguez

Beritacenter.COM - Klub raksasa Real Madrid memberikan sinyal tidak akan memperpanjang kontrak James Rodriguez...
4 jam yang lalu

Besok! PSBB Masa Transisi di Kota Bogor Berakhir, Bupati : Masa AKB Sudah Disiapkan

Beritacenter.COM - Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masa transisi di kota Bogor akan berakhir pada 16 Juli..
5 jam yang lalu

BNNP Jawa Timur Musnahkan 5.139 Gram Sabu

Beritacenter.COM - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur (Jatim) memusnahkan barang bukti narkoba,..
6 jam yang lalu

Walikota Surabaya Terjun Langsung ke Pasar Keputran Sisir Warga Tak Bermasker

Beritacenter.COM - Walikota Surabaya Tri Rismaharini terjun langsung ke Pasar Keputran Utara dan Selatan, Selasa..
7 jam yang lalu

Positif COVID - 19, 1 Tenaga Medis Meninggal di RS Bahteramas Kendari

Beritacenter.COM - Kabar duka datang bagi perawat medis yang berperang melawan virus corona atau COVID- 19. Pasalnya,..
7 jam yang lalu

Babinsa Jajaran Kodim 1402/Polmas Dampingi Penyaluran BLT DD Tahap Ke III

POLMAN- Bintara Pembina Desa (Babinsa)  jajaran Kodim 1402/Polmas kembali melaksanakan berbagai kegiatan..
8 jam yang lalu

Ingin Berwudhu, Pria Paruh Baya di Bandung Jatuh ke Sumur

Beritacenter.COM - Seorang pria paruh baya bernama Muhammad Kamsyah (60) warga Jalan Babakan Baru RT 01/16, Kelurahan..
9 jam yang lalu

Vanessa Angel Lahirkan Putra Pertama

Beritacenter.COM - Kabar baik muncul dari salah satu artis FTV Vanessa Angel. Pasalnya, perempuan berusia 27 tahun..
9 jam yang lalu

KKP Ingatkan Pentingya Laut Lewat Film Dokumenter 'I Am The Ocean'

Beritacenter.COM - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merilis film dokumenter bertajuk Akulah Samudera atau 'I..
10 jam yang lalu

Gempa 5,1 Magnitudo Guncang Banten

Beritacenter.COM - Gempa berkekuatan 5,1 Magnitudo mengguncang wilayah Kecamatan Bayah, Banten. Badan Meterologi..
11 jam yang lalu

Sudan Cabut Hukuman Mati Bagi Orang Murtad Dan Izinkan non-Muslim Minum Alkohol

Beritacenter.COM - Sudan telah menyetujui amandemen hukum pidana yang luas. Termasuk didalamnya mencabut hukumanan..
11 jam yang lalu

KKP Genjot Ekspor Kerapu Untuk Dongkrak Ekonomi Selama Pandemi Covid-19

Beritacenter.COM - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi ditengah pandemi..
12 jam yang lalu

Wow, Penyanyi Seksi Ini Enggan Disebut Janda

Beritacenter.COM - Penyanyi Jenita Janet resmi bercerai dengan suaminya Alief Hedy Nurmaulid sejak 9 Juli 2020 lalu...
16 jam yang lalu

Taliban Lancarkan Bom Bunuh Diri ke Kantor Intelijen Afganistan, 11 Orang Tewas

Beritacenter.COM - Serangan bom bunuh diri mobilmenyasar ke sebuah kantor interlijen di Afaganistan. Bom bunuh diri..
18 jam yang lalu

Masuk Rumah Warga, Dua Rampok Penyandera Balita di Samarinda Dibekuk Polisi

Beritacenter.COM - Polisi berhasil membekuk dua rampok yang menyantroni rumah M Rizali, di Jalan Gerilya, Samarinda,..
18 jam yang lalu

Polisi Tangkap 5 Pelaku Tawuran di Jatiasih Bekasi yang Tewaskan 1 Korban

Beritacenter.COM - Polisi menangkap lima orang pria terkait tawuran yang mengakibatkan satu orang tewas di Jatiasih,..
19 jam yang lalu

Polisi Amankan Pengusaha Berinsial A yang Diduga Pesan Artis Hana Hanifa

Beritacenter.COM - Polisi mengamankan seorang pria berinisial A, yang diduga sebagai pemesan artis FTV Hana Hanifah..

+Indeks

 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi