Selasa, 28 Januari 2020 - 21:49 WIB

Jokowi "TEGAS", Kedua Jenderal Ini "LEMBEK" Terkait Klaim Sepihak Tiongkok Terhadap Perairan Nutana, Ada Apa?

Konflik di Perairan Natuna yang melibatkan Tiongkok benar-benar telah membuat panas diskursus publik akhir-akhir ini. Ketegangan ini semakin diperparah dengan adanya perbedaan sikap antara Presiden Jokowi dengan menteri-menterinya, seperti Luhut Binsar Pandjaitan dan Prabowo Subianto, yang cenderung tak begitu tegas.

Oleh : Indah Pratiwi | Budi | Kamis, 09 Januari 2020 | 20:36 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin


Beritacenter.COM - Tidak ada yang namanya tawar-menawar mengenai kedaulatan, mengenai teritorial negara kita”. Begitulah pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara pada 6 Januari 2019 lalu dalam menanggapi konflik di perairan Natuna yang melibatkan Tiongkok.

Tidak hanya Presiden Jokowi, petinggi eksekutif lain alias para menteri juga memperlihatkan ketegasan serupa terkait konflik ini. Sebut saja Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi yang menegaskan tidak akan mengakui nine-dash line atau sembilan garis putus-putus yang membentang di 90 persen Laut China Selatan – termasuk perairan Natuna – yang diklaim secara sepihak oleh Tiongkok menjadi teritorinya.

Pun begitu dengan Menko Polhukam, Mahfud MD yang menegaskan akan mengerahkan segala kemampuan untuk mengusir kapal-kapal militer dan nelayan Tiongkok di perairan Natuna.

Tapi anehnya, kontras dengan sikap tegas tersebut, terdapat pula menteri-menteri Jokowi yang justru bersikap lunak, bahkan disebut lembek terkait pernyataannya dalam konflik tersebut.

Pada persoalan itu, mata publik utamanya tertuju kepada dua menteri yang dapat disebut sebagai “matahari” di kabinet Presiden Jokowi.

Sebelumnya, pada 3 Januari 2019 lalu, Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan bahwa masalah Natuna tidak perlu dibesar-besarkan. Tidak hanya itu, Luhut juga terlihat santai dan menganggap lumrah terkait masuknya kapal Tiongkok di perairan Natuna, yang disebutnya terjadi karena kurangnya kemampuan kapal yang dimiliki Indonesia untuk melakukan patroli di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).


Di kesempatan yang sama, Menteri Pertahanan (Menhan), Prabowo Subianto yang menyebut telah berkoordinasi dengan Luhut juga memberikan pernyataan yang bersifat “lembek” karena menyebutkan persoalan ini harus diselesaikan dengan baik. Bahkan ia menyebut Tiongkok sebagai negara sahabat.

Artinya, dapat disimpulkan bahwa suara Prabowo sebenarnya adalah perpanjangan dari suara Luhut.

Terkait pernyataan Luhut, mungkin banyak yang mengingat pada peran pentingnya dalam menjembatani hubungan ekonomi antara Indonesia dengan Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir ini. Konteksnya berbeda dengan Prabowo yang nampak menunjukkan wajah garang kepada Tiongkok selama masa kampanye Pilpres 2019.

Kompaknya Luhut dan Prabowo terkait Natuna sedikit tidaknya membangkitkan ingatan terkait keduanya pernah terlibat hubungan bisnis ketika sama-sama mengelola aset Kiani Kertas Nusantara yang diberikan Soeharto kepada mereka.

Kendati Luhut telah mengubah pernyataannya usai sidang kabinet paripurna dengan menegaskan tidak ada kompromi terkait masalah kedaulatan di konflik Natuna, publik tentu tidak akan lupa begitu saja dengan pernyataan kontras Luhut sebelumnya.

Tidak hanya kontras, publik juga menangkap terdapat ketidakselarasan yang kentara antara Presiden Jokowi, Luhut dan Prabowo. Sehingga tidak heran, perbedaan itu menciptakan kebisingan politik tersendiri menimbang pada berbagai pihak turut berkomentar.

Atas pernyataan Prabowo misalnya, Presidium Alumni (PA) 212 bahkan meminta Ketua Umum Partai Gerindra tersebut dicobot dari jabatannya sebagai Menhan karena menilai pernyataannya seharusnya sejalan dengan Presiden Jokowi selaku panglima tertinggi.

Jika terdapat pernyataan yang selaras antar pejabat eksekutif, yakni presiden dan menteri, sekiranya kebisingan-kebisingan semacam itu tentu tidak akan terjadi.

Atas persoalan ketidakselarasan pernyataan yang mengakibatkan kebisingan politik tersebut, hal ini menimbulkan pertanyaan. Mengapa fenomena tersebut dapat terjadi?

Presiden Tidak Memiliki Kuasa yang Cukup?

Ed Rogers dalam The Politics of Noise, menjabarkan bahwa kebisingan dalam politik sebenarnya adalah suatu hal yang lumrah. Akan tetapi, menurutnya, kebisingan tersebut dapat membuat publik menjadi tidak fokus pada inti masalah karena lebih menyibukkan diri membahas kebisingan yang tengah terjadi.

Apa yang disampaikan Rogers sekiranya tepat. Pasalnya, kita dapat melihat berbagai media massa justru menikmati dalam hal menabrakkan pernyataan-pernyataan para menteri dengan presiden ini.

Atas fenomena ketidakselarasan tersebut, dengan mudah kita mungkin dapat menarik kesimpulan bahwa telah terjadinya kurang atau tidak adanya sinkronisasi antara presiden dengan para menteri.

Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa mungkin tidak terdapat briefing atau pengarahan dari presiden agar para menteri tidak mengeluarkan pernyataan terkait suatu masalah apabila belum diberikan arahan.

Di luar persoalan ketiadaan sinkronisasi atau briefing tersebut, masalah yang lebih dalam mungkin menyangkut Presiden Jokowi itu sendiri. Merujuk pada pandangan Niccolo Machiavelli terkait kuasa dapat menjadi pengikat kepatuhan ataupun kesetiaan di dalam politik.

Dengan adanya respon cepat Luhut dan Prabowo terkait masalah Natuna, itu sebenarnya menunjukkan bahwa kuasa mantan Wali Kota Solo tersebut mungkin sebenarnya tidaklah cukup untuk membuat para menteri memiliki kepatuhan untuk mencegahnya mengeluarkan pernyataan tanpa menunggu arahan dari presiden.

Terkait hal ini, menarik untuk melihat opini Resty Woro Yuniar di South China Morning Post yang berjudul Indonesian President Jokowi’s Second Term: Free as a Bird or a Lame-Duck President?, yang menyebutkan bahwa terdapat kemungkinan Presiden Jokowi akan memiliki kuasa yang lemah pada periode kedua kekuasaannya yang disebut dengan istilah lame-duck president atau presiden bebek lumpuh.

Istilah ini biasanya merujuk pada presiden yang mulai kehilangan kuasanya di pemerintah, dan khususnya terjadi di periode kedua pemerintahan. Salah satu contoh presiden yang mengalaminya adalah Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Ini pula yang ditulis oleh Joel Achenbach di The Washington Post bahwa Presiden Obama sebenarnya tidak memiliki kuasa sebesar yang orang lain pikirkan selama ini.

Membuat perbandingkan skala kuasa atau pengaruh, baik Presiden Jokowi maupun Luhut – yang linear dengan Prabowo – sebenarnya sama-sama memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran Istana. Setidaknya terdapat dua hal yang dapat menjadi alasan kuat terkait pandangan tersebut.

Pertama, dalam tulisan Aaron L. Connelly, pertemuan Presiden Jokowi dan Luhut disebut pertama kali terjadi pada 2008 ketika Luhut mencari seseorang yang dapat mengubah kayu mentah dari konsesi hutannya di Kalimantan menjadi produk jadi. Sejak saat itu, mereka memiliki hubungan yang baik, baik dalam hal bisnis maupun kampanye politik.

Kedua, konteks hubungan baik Jokowi dan Luhut tersebut sangat berhubungan dengan tulisan Leo Suryadinata yang berjudul Golkar’s Leadership and the Indonesian President, yang menyebutkan bahwa Presiden Jokowi telah melakukan manuver dengan membangun hubungan yang baik dengan Partai Golkar sejak periode pertama kepemimpinannya karena menyadari terdapat banyak petinggi PDIP yang tidak menyukainya – mungkin juga termasuk Megawati Soekarnoputi.

Dua konteks itu kemudian membuat terdapat pihak-pihak yang menyimpulkan bahwa Presiden Jokowi sengaja menempatkan Luhut di lingkaran Istana untuk mengimbangi dominasi pengaruh Megawati.

Pandangan tersebut semakin diperkuat dengan diperluasnya peran Luhut di periode kedua yang terbukti dengan bergantinya Menko Kemaritiman menjadi Menko Kemaritiman dan Investasi. Sudah menjadi rahasia umum juga kalau Luhut benar-benar menjadi andalan Presiden Jokowi sebagai jembatan untuk mendatangkan investor.

Artinya, boleh jadi memang konteks perbedaan sikap ini karena pengaruh yang saling beriringan. Luhut tentu menjadi kunci hubungan Indonesia dengan Tiongkok di sisi investasi – hal yang kemudian sangat mungkin ikut mempengaruhi sikap Prabowo sebagai Menhan.

Sengaja Dilakukan?

Selain dugaan bahwa Presiden Jokowi mungkin tidak memiliki kuasa yang cukup untuk mengontrol menteri-menterinya, terdapat pula dugaan yang menyebutkan mungkin perbedaan pernyataan tersebut sengaja untuk dilakukan.

Melihat pada kasus-kasus sebelumnya, persoalan perbedaan pernyataan antara presiden dan menteri sebenarnya kerap terjadi atau bukan pertama ini terjadi. Atas hal ini, tidak heran terdapat pihak yang menyebutkan jangan-jangan terdapat pembiaran. Seperti yang disebutkan oleh Ed Rogers, hal-hal semacam itu sebenarnya umum terjadi di dalam politik.

Dapat pula disimpulkan bahwa jika benar terjadi pembiaran tersebut, mungkin itu dilakukan untuk mendistorsi atau mengalihkan perhatian publik terhadap isu-isu yang sebenarnya lebih urgen. Terlebih lagi, strategi-strategi pengalihan isu semacam itu sangat umum dilakukan dalam politik.

Lalu benarkah telah terjadi pembiaran tersebut? Lantas isu-isu apakah yang tengah ingin ditutupi oleh pemerintah dengan kebisingan politik yang marak terjadi? Terkait hal tersebut, tentu hanya pihak-pihak terkait yang mengetahuinya.

Di luar persoalan tersebut, satu hal yang pasti, bahwa Presiden Jokowi, Luhut dan Prabowo sudah memiliki pandangan yang selaras terkait konflik di Natuna. Atas hal ini tentu sangat menarik untuk menantikan bagaimana para pejabat eksekutif tersebut menyelesaikan konflik Natuna yang sebenarnya sudah menahun tersebut.

Sumber : pinterpolitik.com





Fokus : Konflik Di Laut Natuna


#Natuna Milik Indonesia #Natuna #Konflik di Laut Natuna #Jokowi Tegas Soal Natuna #Natuna Memanas #Perairan Natuna #China Klaim Laut Natuna #Laut Natuna Utara. #Jokowi ke Natuna


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






19 menit yang lalu

Arsenal Tertarik Pinjam James Rodriguez dari Real Madrid

Beritacenter.COM - Klub raksasa Liga Inggris Arsenal dikabarkan tertarik menggunakan satu pemain Real Madrid, James..
1 jam yang lalu

Suka Pedas ? Inilah Manfaat Cabai Rawit untuk Kesehatan

Beritacenter.COM - Bagi kamu yang menyukai pedas mungkin sudah tidak asing lagi dengan cabai rawit. Cabai rawit..
2 jam yang lalu

Pesta Sabu, 4 Pemuda di Jakarta Barat Diringkus Polisi

Beritacenter.COM - Sebanyak empat pemuda diringkus Satresnarkoba Polres Jakarta Pusat karena kedapatan sedang pesta..
3 jam yang lalu

Polri Akan Gelar Perkara Terkait Penentuan Status Hukum Sunda Empire

Beritacenter.COM - Polda Jawa barat (Jabar) akan gelar perkara terkait penentuan status hukum munculnya kelompok..
3 jam yang lalu

Pabrik Gas di Bekasi Meledak, Tujuh Orang Alami Luka Bakar

Beritacenter.COM - Sebuah pabrik gas PT Semar Gemilang yang berada di wilayah Kecamatan Sukawangi, Kabupate Bekasi..
4 jam yang lalu

Waspada !! BMKG Prediksi Hujan Lebat Hingga 3 Februari

Beritacenter.COM - Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan lebat akan mengguyur sejumlah..
4 jam yang lalu

Residivis Curanmor dan Begal di Makassar Ditangkap Polisi

Beritacenter.COM - Seorang pemuda bernama Sapto Prabowo alias Ade Bagong (21) ditangkap polisi usai melakukan..
5 jam yang lalu

Menkopulhukam Menghimbau Aparat Waspadai Terorisme

Beritacenter.COM - Menteri Kordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD menghimbau kepada..
5 jam yang lalu

Erick Thohir Kritik Keras Rumah DP Rp 0: Itu Tidak Mendidik!

BeritaCenter.COM – Menteri BUMN Erick Thohir memberikan kritikan keras terhadap penyedia hunian yang merapkan..
5 jam yang lalu

Dirjen Imigrasi Ronny Sompie Dicopot, Ini Alasannya

BeritaCenter.COM - Menteri Hukum dan HAM (Menkum HAM) Yasonna Laoly menegaskan telah mencopot Dirjen Imigrasi Ronny..
5 jam yang lalu

Polisi bongkar Bisnis Esek-Esek di Apartemen Kalibata City

Beritacenter.COM - Jajaran anggota kepolisian berhasil membongkar bisnis prostitusi yang melibatkan anak di bawah..
5 jam yang lalu

Polisi Ringkus 4 Pelaku Pembobol ATM di Jakut dan Bekasi

BeritaCenter.COM – Empat orang pelaku pembobol ATM berhasil diringkus aparat kepolisian dari Polres Jakarta..
6 jam yang lalu

Menkes Tegaskan Belum Ada Pasien Terjangkit Virus Corona Sampai Saat Ini

BeritaCenter.COM – Wabah virus corona yang berasal dari Wuhan, China, kini sudah menyebar banyak negara. Namun..
6 jam yang lalu

Polisi Ringkus 4 Orang Pelaku Pembobol Mesin ATM

Beritacenter.COM - Sebanyak 4 orang pelaku pembobol mesin ATM diamankan petugas Satreskrim Polres Jakarta Utara. Para..
6 jam yang lalu

Polisi Tangkap Pembunuh Rosidah yang Ditemukan Gosong di Ladang Kelapa Banyuwangi

BeritaCenter.COM – Polisi berhasil menangkap terduga pelaku pembunuhan Rosidah yang ditemukan gosong terbakar..
6 jam yang lalu

Putri Arab Lolowah Tertipu Pembelian Tanah dan Villa di Bali

Beritacenter.COM - Putri Raja Arab Faisal, Lolowah binti Mohammed bin Abdullah Al-Saud, mempolisikan seorang warga..
6 jam yang lalu

Sang Mega Bintang Cristiano Ronaldo Mengaku Sangat Sedih Atas Meninggalnya Kobe Bryant

Diketahui juga jika Kobe Bryant menjadi korban kecelakaan helikopter bersama dengan penumpang lainnya. Sedikitnya ada..
6 jam yang lalu

Menko PMK Sebut Indonesia Masih Aman dari Penyebaran Virus Corona

Beritacenter.COM - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy..
6 jam yang lalu

Indonesia Keluarkan Travel Warning ke Wuhan

Beritacenter.COM - Indonesia akhirnya mengeluarkan larangan perjalanan atau travel warning ke Provinsi Hubei, China...
7 jam yang lalu

Hidup Berpindah, Ini Kronologi Penangkapan Penculik Cabuli Bocah di Cianjur

Beritacenter.COM - Polisi membongkar kasus penculikan dan persetubuhan terhadap anak dibawah umur di Kecamatan..
7 jam yang lalu

Polisi Tahan Ayah, Kakak dan Sepupu yang Cabuli Siswi SMP di Sulawesi Barat

Beritacenter.COM - Kepolisian telah menetapkan ayah, kakak dan sepupu siswi SMP di Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar)..
7 jam yang lalu

Jelang Pilkada Serentak 2020, Polri Bentuk Satgas Khusus

Beritacenter.COM - Jelang Pilkada 2020, Polri bersinergitas bersama TNI siap mengawal dan menyukseskan pesta..

+Indeks

 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi