Selasa, 18 Pebruari 2020 - 17:23 WIB

PDIP Warisi Keruntuhan Partai Demokrat ?

Oleh : Indah Pratiwi | Budi | Senin, 20 Januari 2020 | 20:30 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin


"Di Bawah Lindungan Tirtayasa”, begitulah judul tajuk laporan investigasi yang dimuat oleh Majalah Tempo terkait kasus korupsi yang turut menyeret nama Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto. Disebutkan dalam laporan tersebut bahwa Hasto disinyalir telah berlindung di dalam Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ketika hendak “diciduk” oleh tim penyidik KPK beberapa waktu lalu.

Menariknya, Tempo juga menulis bahwa pimpinan KPK ternyata tidak berani untuk menetapkan salah satu jenderal partai banteng tersebut sebagai tersangka.

Padahal, menurut keterangan Saeful Bahri, yang disinyalir sebagai salah satu staf dan orang terdekat Hasto, uang pelicin yang akan diberikan kepada komisioner KPU, Wahyu Setiawan ternyata berasal dari Hasto sendiri.

Tentu saja, atas dalih pengakuan tersebut, sudah menjadi bukti awal yang cukup untuk menyeret salah satu orang kepercayaan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri tersebut.

Kasus Hasto ini tentu menarik – seperti yang diungkap Tempo – ini adalah bukti nyata pelemahan lembaga anti-rasuah tersebut.

Di luar indikasi pelemahan KPK tersebut, sebenarnya terdapat satu hal lagi yang dapat dimaknai dari terseretnya nama Hasto ke dalam kasus korupsi. Fenomena ini sebenarnya dapat dimaknai pula sebagai indikasi awal kehancuran pamor partai seperti yang diperlihatkan oleh Partai Demokrat lebih dari lima tahun lalu.

Publik tentu mengingat, sebelum PDIP begitu berkuasa saat ini, Partai Demokrat juga pernah merasakan posisi yang sama. Akan tetapi, setelah sepuluh tahun berkuasa, partai yang diketuai oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut justru tidak menunjukkan tajinya lagi saat ini.

Menariknya, Nadia Bulkin dalam Indonesia’s Political Parties, menyebutkan bahwa selepas Partai Demokrat memenangkan Pemilu 2009, partai biru ini justru menjadi sasaran target investigasi kasus korupsi.

Imbasnya, berbagai pesohor partai tersebut, seperti Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng mendekam di balik jeruji besi karena kasus korupsi.

Tidak hanya itu, momen tersebut juga dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk melayangkan kritik keras, yang disebut berpengaruh besar terhadap penurunan elektabilitas partai yang terlihat jelas pada gelaran Pemilu selanjutnya.

Dan sekarang, preseden serupa nampaknya telah menghinggapi PDIP. Bahkan tidak membutuhkan waktu yang lama, belum genap setahun berjalannya pemerintahan di periode kedua, Hasto sekalu sekjen partai sudah harus berurusan dengan lembaga anti-rasuah.

Pertanyaannya, benarkah sejarah kejatuhan Partai Demokrat akan terulang di PDIP?

Perputaran Elite di Politik

Filsuf Michel Foucault pernah berujar bahwa sejarah sejatinya tidak linier, melainkan memiliki siklus yang berulang. Ujaran Foucault tentang sirkularitas sejarah ini terlihat jelas dari teori “sirkulasi elite” yang dikemukakan oleh Vilfredo Pareto.

Menurut Pareto, di dalam setiap pemerintahan, akan selalu ada yang disebut sebagai elite atau kelompok kecil orang (minoritas) yang lebih berkuasa atas mayoritas.

Akan tetapi, menurut Pareto, dalam setiap sejarah selalu ada yang disebut dengan sirkulasi elite atau pergantian elite. Entah itu elite yang satu diganti oleh elite yang lainnya, ataupun non-elite yang justru menggantikan elite yang tengah berkuasa.

Pada konteks pembahasan ini, kita dapat memahami bahwa sirkulasi elite tersebut terjadi pada kasus Partai Demokrat dan PDIP. Melihat pada posisi PDIP yang konsisten menjadi oposisi selama Partai Demokrat berkuasa, mungkin sulit untuk membayangkan bahwa partai banteng tersebut akan seberkuasa sekarang.

Seperti apa yang diungkapkan Pareto, sirkulasi elite menjadi suatu hukum alam yang niscaya terjadi. Dan sekarang, kita menjumpai bahwa Partai Demokrat yang justru tengah terseok-seok di tengah kekuasaan PDIP.

Faktor Kejatuhan Partai Demokrat

Kendati Pareto menyebutkan sirkulasi elite terjadi secara alamiah, namun, proses pergantian elite tersebut mestilah memiliki suata penyebab atau faktor tertentu.

Seperti yang diungkapkan sebelumnya, permasalahan korupsi menjadi faktor besar yang membuat Partai Demokrat mengalami kemerosotan pamor atau elektabilitas.

Menariknya, banyaknya kader Partai Demokrat yang merasakan dinginnya jeruji besi karena terkena kasus korupsi disebutkan justru karena faktor dari sang ketua umum partai atau SBY sendiri.

Hal ini ditulis oleh Politikus Partai Demokrat, Jemmy Setiawan dalam Pemberantasan Korupsi di era SBY Tercatat Paling Progresif di Dunia, yang menyebutkan bahwa SBY telah meminum “pil pahit” terkait komitmennya dalam mendukung penindakan terhadap kasus korupsi.

Menurutnya, SBY justru tidak memberikan perlindungan hukum kendati banyak kader partainya satu per satu diseret oleh KPK. Menguaknya kasus-kasus korupsi tersebut kemudian membuat elektabilitas Partai Demokrat mencapai titik terendah. Namun, SBY nyatanya tidak bergeming dan meneruskan konsistensinya.

Tidak hanya faktor banyaknya kader yang terjerat korupsi, SBY juga nampaknya memiliki kesalahan lain karena tidak dengan matang mempersiapkan penggantinya untuk bertarung di Pilpres 2014.

Ini mungkin tidak terlepas dari besarnya nama seorang SBY, sehingga akan begitu sulit untuk mengangkat nama yang sekiranya menyamai ataupun melebihi popularitasnya.

Dengan demikian, merangkum faktor menjatuhkan Partai Demokrat, kita dapat menemukan dua faktor utama. Pertama, sikap SBY yang justru tidak melindungi kader-kadernya yang terjerat kasus korupsi. Kedua, Partai Demokrat tidak mampu untuk menemukan suksesor pemimpin.

Bagaimana dengan PDIP?

Setelah mengidentifikasi faktor yang membuat Partai Demokrat terjatuh, sekarang pertanyaannya adalah, apakah faktor tersebut telah menampakkan diri di PDIP?

Merujuk pada laporan investigasi yang dibuat Tempo, PDIP nampaknya sangat memahami bahwa kasus yang menyeret nama Hasto dapat menciptakan efek “bola salju” atau dapat menyeret berbagai politisi PDIP lainnya.

Tidak hanya sekedar menyeret pengurus partai banteng lainnya, seperti pada kasus Partai Demokrat, hal tersebut juga dapat menjadi preseden atas jatuhnya eletabilitas PDIP.

Atas hal tersebut, cukup kentara terlihat sebenarnya bahwa Hasto benar-benar tengah dilindungi. Bahkan untuk melindungi sang sekjen, PDIP bahkan meminta Harun Masiku untuk menyerahkan diri ke KPK yang disebut oleh berbagai pihak sebagai “kambing hitam” dalam kasus tersebut.

Menelurusi perjalanan pimpinan KPK yang baru, PDIP nampaknya tengah mempersiapkan rencana untuk mengantisipasi kasus semacam ini. Pasalnya, dalam laporan Tempo beberapa bulan yang lalu, PDIP disebut adalah partai yang sejak awal meminta fraksi-fraksi yang lain untuk meloloskan Firli Bahuri sebagai Ketua KPK.

Laporan tersebut kemudian membuat berbagai pihak mengaitkan sosok Firli yang begitu dekat dengan PDIP. Bahkan, sebelum menjalani fit and proper test (FPT), Firli disebut sempat bertemu dengan Megawati.

Menariknya, dalam cover Majalah Tempo minggu ini, di depan sosok yang diduga sebagai Hasto, Tempo menggambarkan sosok berbaju KPK yang juga menunggangi banteng. Publik tentu bisa menerka-nerka siapa yang dimaksud.

Pada titik ini, mungkin dapat disimpulkan bahwa faktor pertama, di mana PDIP tidak memberikan perlindungan terhadap kadernya yang terkena kasus korupsi sekiranya tidak terjadi.

Lalu terkait faktor kedua? Sepertinya faktor ini juga tidak terjadi kepada PDIP. Pasalnya, baru-baru ini Megawati telah menarik Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menjadi Ketua DPP PDIP Bidang Kebudayaan. Selentingan kabar menyebutkan, Risma yang tidak lagi menjadi Wali Kota Surabaya akan diusung di Pilkada DKI Jakarta mendatang.

Menurut berbagai pihak, strategi ini mirip dengan cara PDIP menggaet Jokowi dulu, di mana seorang pemimpin lokal yang begitu populer kemudian dipertarungkan di Pilkada DKI Jakarta, yang kemudian berlanjut dipertarungkan di Pilpres.

Tidak hanya itu, waktu dekat ini Risma bahkan santer diisukan akan menjadi menteri apabila terjadi reshuffle kabinet.

Dengan kata lain, jika strategi mengusung Risma ini sukses, besar kemungkinan PDIP akan memiliki “Jokowi Kedua” atau kembali menempatkan kadernya sebagai presiden.

Tidak hanya itu, berbeda dengan Jokowi yang sebenarnya tidak jelas jabatan struktural di PDIP, Risma adalah kader partai yang memiliki jabatan struktural. Oleh karenanya, mungkin dapat disimpulkan bahkan Wali Kota Surabaya tersebut akan lebih penurut terhadap Megawati ketimbang Jokowi.

Pada akhirnya, mungkin dapat disimpulkan bahwa PDIP sepertinya telah benar-benar belajar dari kegagalan Partai Demokrat dalam mempertahankan singgasananya. Oleh karenanya, dua faktor utama yang sekiranya menjadi alasan kejatuhan partai berlambang mercedes tersebut nampaknya benar-benar telah diantisipasi.

Akan tetapi, hal sebaliknya di mana PDIP tetap terjatuh seperti Partai Demokrat juga dapat terjadi. Oleh karena itu, menarik untuk menunggu kelanjutannya.





Fokus : PDIP Terjerat Kasus Korupsi


#KPK #PDIP #OTT KPK #KPK VS PDIP #Kasus Suap Komisioner KPK #PDIP Terjerat Kasus Korupsi


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






20 menit yang lalu

3 WNI di Kapal Pesiar Jepang Positif Corona, Kemlu Kabari Pihak Keluarga

BeritaCenter.COM - Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan bahwa 3 dari 78 warga negara Indonesia (WNI)..
31 menit yang lalu

TERBARU! 3 dari 78 WNI di Kapal Pesiar Jepang Dinyatakan Positif Corona

BeritaCenter.COM – Tiga dari 78 WNI yang berada di Kapal Pesiar Diamond Princess di Jepang dinyatakan positif..
36 menit yang lalu

Batan : Paparan Radiasi Nuklir di Tangsel Tinggal 10 Persen

Beritacenter.COM - Badan Tenaga Nuklir (Batan) mengatakan bahwa paparan radiasi di lahan kosong Perumahan Batan..
47 menit yang lalu

Sebut 'PP Bisa Ubah UU' Salah Ketik, Mahfud Md: Keliru dalam RUU Sudah Biasa

BeritaCenter.COM – Sebuah Pasal dalam RUU Omnibus Law Cipta Kerja disebut ada salah ketik. Kesalahan ini ada di..
1 jam yang lalu

Airlangga Sebut Tak Mungkin Peraturan Pemerintah Gantikan Undang-Undang

Lebih lanjut Airlangga Hartarto juga mengungkapkan jika menurut aturan perundang-undangan, Peraturan Pemerintah tak..
1 jam yang lalu

Akibat Virus Corona, Direktur Rumah Sakit di Wuhan Meninggal

BeritaCenter.COM – Seorang dokter yang menangani pasien virus Corona di China ikut jadi korban. Dokter bernama..
1 jam yang lalu

SDN Teluk Pucung 1 Bekasi Dibobol OTK, 6 Unit Laptop serta 2 Infokus Hilang

Beritacenter.COM - Sekolah Dasar Negeri (SDN) Teluk Pucung 1 dibobol oleh orang tidak di kenal (OTK) pada Jum'at..
1 jam yang lalu

Adu Banteng, Yamaha Vixion VS Honda Supra Satu Orang Tewas

Beritacenter.COM - Kecelakaan maut terjadi di Jalan Raya Wonosari - Semanu, tepatnya di Munggi Pasar, Desa Semanu,..
1 jam yang lalu

Menlu Retno: 3 WNI Dinyatakan Positif Corona di Kapal Pesiar Jepang

Beritacenter.COM - Dari 78 WNI yangh menjadi kru kapal Diamond Princess di Jepang, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno..
2 jam yang lalu

Nasabah Segel Bank Lantaran Uang Rp2 M Hilang, Bank: Sudah Dibuktikan, Penarikan Wajar

Beritacenter.COM - Merasa kehilangan uang Rp2 miliar di rekening istrinya, nasabah bernama H Podda melakukan..
2 jam yang lalu

Salah Pengertian Pria Mabok "Bacok" Anak Penjual Es

Beritacenter.COM - Buyung Maulana (22) warga Ngabean Kidul, Desa Karangasem, Kecamatan Ponjong, Kabupaten..
3 jam yang lalu

Polisi Sikat 4 Pengedar Narkoba Satu Jaringan Madura

Beritacenter.COM - 4 orang wanita dan 1 pria pengedar narkoba jaringan Sampang, Madura, berhasil diringkus tim Sat..
5 jam yang lalu

Survei Buktikan "Anies Tidak Becus Urus Jakarta", Politikus Demokrat : Itu Benar Si Anies Emang Gak Becus....

BeritaCenter.COM - Mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dinilai publik sebagai pemimpin DKI paling..
6 jam yang lalu

MANTAP..! Polres Pasuruan "Bongkar" Pabrik Sabu Berskala Besar

Beritacenter.COM - Polisi berhasil bongkar pabrik sabu di sebuah perumahan mewah, serta mengamankan 7 orang pelaku..
6 jam yang lalu

Lagi Asik Main Judi, Lima Orang Dicokok Polisi

Beritacenter.COM - Lagi asik bermain Lima orang pria, warga Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur,..
6 jam yang lalu

Cambuk dan Tempeleng Anak, Ibu Tiri ini Diringkus Polisi

Beritacenter.COM - Satreskrim Polres Simalungun menangkap seorang ibu tiri yang tega mencambuk dan menempeleng..
7 jam yang lalu

Gagahi Dan Gasak Barang Berharga Seorang Dosen, TNI Gadungan Diamankan Polisi

Beritacenter.COM - Kusnan Ghoibi, warga Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, berhasil diamankan..
7 jam yang lalu

Pura-pura Bisa Gandakan Uang Hingga Jutaan Rupiah, Dukun Palsu Dicokok Polisi

Beritacenter.COM - Abdul Ghofur (38) warga Desa Gempol Tukmloko Kecamatan Sari Rejo Lamongan, harus berurusan dengan..
8 jam yang lalu

Perangi Narkoba, Gubernur DKI Tutup 3 Diskotek

Beritacenter.COM - Dalam rangka memerangi narkoba, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menutup 3 tempat hiburan malam..
8 jam yang lalu

Tak Terima Hamil Lagi, Ibu Muda Nekat Gantung Diri

Beritacenter.COM - Seorang ibu muda berinisal LS (29) warga Desa Dwi Karya Bakti di Kecamatan Pelepat, Kabupaten..
8 jam yang lalu

Terus Bertambah, 1.800 Orang Tewas Akibat Virus Corona di China

Beritacenter.COM - Sebanyak 1.800 orang tewas akibat virusCOVID - 19 atau virus corona yang melanda wilayah China...
9 jam yang lalu

Inilah 3 Manfaat Konsumsi Terong di Pagi Hari Untuk Kesehatan

Beritacenter.COM - Terong merupakan sayur - sayuran yang sering kita temui di pasar - pasar tradsional. Sayuran jenis..

+Indeks
Buat Artikel






 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi