Minggu, 05 April 2020 - 14:51 WIB

Musibah dalam Narasi Agama

Oleh : Indah Pratiwi | Budi | Kamis, 27 Pebruari 2020 | 14:20 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin


Jakarta dan daerah penyangga, yaitu Bekasi, Depok, Bogor, dan Banten, pada tahun ini, 2020, kembali mengalami musibah banjir yang cukup parah. Banjir parah terjadi berjilid-jilid; yaitu awal tahun 2020, 23 Februari, dan 25 Februari. Di beberapa wilayah di Jawa dan Luar Jawa pun ada yang terkena musibah banjir. Airbah menyerbu perkampungan, kompleks perumahan, perkantoran, dan bahkan Istana. Mobil dan motor hanyut terbawa arus air yang begitu kuat menerjang. Ada rumah-rumah roboh. Ada nyawa melayang. Kerugian materi dan non-materi tak terkirakan.

Lalu bagaimana narasi agama dalam menyikapi musibah? Saya membagi ke dalam dua narasi, yaitu narasi agama sebelum terjadi musibah dan narasi agama setelah musibah itu terjadi.

Ikhtiar
Di dalam Al-Quran terdapat 77 kata musibah. Sebagian ulama berpendapat bahwa musibah adalah kejadian yang menyedihkan yang menimpa manusia. Sesuatu yang kedatangannya tidak disukai oleh manusia. Musibah identik dengan bencana dan malapetaka.

Sebagian ulama lain berpendapat bahwa musibah adalah segala sesuatu yang menimpa manusia, baik atau buruk, positif atau negatif, anugerah atau bencana. Ada musibah hasanah (baik) dan musibah sayyiah (buruk).

Pendapat pertama tersebut selaras dengan definisi kata musibah versi KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), yang dikatakan musibah adalah kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa. Dan dalam tulisan ini, saya menggunakan pengertian musibah menurut sebagian ulama yang pertama dan KBBI.

Imam Al-Ghazali membagi dua jenis musibah, yaitu musibah badaniyyun (bersifat fisik/materi) dan nafsiyyun (bersifat non-fisik). Keduanya bisa saling mempengaruhi. Musibah yang menimpa materi/fisik manusia akan berdampak pada mentalitas dan psikisnya. Sebaliknya, musibah yang menimpa mentalitas manusia akan berdampak pada materi/fisiknya. Karena itu, manusia harus bersabar dalam menyikapi musibah.

Di dalam narasi agama, terdapat beberapa penyebab terjadinya musibah. Di antaranya—dan yang paling utama—yaitu human error, yaitu keteledoran dan kesalahan manusia. Keteledoran itu bisa dilakukan oleh individu terhadap lingkungannya, seperti membuang sampah sembarangan atau menutup got jalan air, atau dilakukan oleh perusahaan terhadap lingkungan seperti menggunduli atau membakar hutan untuk kepentingan pabrik dan usahanya atau membuang limbang sembarangan atau problem amdal dan sederet problem yang lain, atau pemerintah melakukan pembiaran atas perusakan dan kerusakan lingkungan dan tidak melakukan ikhtiar secara maksimal dalam pencegahan musibah banjir.

Musibah yang disebabkan oleh human error telah dikatakan Al-Quran; “Adapun musibah yang menimpa kalian, akan merupakan hasil dari perbuatan tangan kalian sendiri” (Al-Syura: 30).

Dalam perspektif Islam, bahwa adalah wajib berikhtiar semaksimal mungkin agar terhindar atau tidak terkena segala bentuk musibah, misalkan banjir. Sebab, musibah merupakan hal yang dapat merusak yang harus dihindari. Dalam qawa’id al-fiqhiyah (kaidah-kaidah dasar fikih) dikatakan bahwa daru al-mafasid muqaddamun ‘ala jalbi al-mashalih (menghindari dan menolak kerusakan (madharat/mafsadat) harus diprioritaskan daripada mengambil kemaslahatan). Dalam hadits dikatakan ad-dhararu yuzal (madharat harus dihilangkan), dan la dharara wa la dhirar (tidak boleh merugikan/merusak diri sendiri, orang lain, dan lingkungan). Jika menggunakan prinsip ini, maka mengatasi musibah banjir dan musibah yang lainnya harus diprioritaskan daripada mengambil kemaslahatan sekalipun.

Ikhtiar menghindari dan menghalau berbagai jenis musibah pun demi mewujudkan maqashid al-syari’ah (tujuan-tujuan universal agama), yaitu menjaga jiwa (hifdzhu al-nafs), agama (al-din), akal, keluarga/keturunan (nasl), dan hartabenda (mal). Dampak musibah banjir sangat nyata di depan mata kita; yaitu menelan korban jiwa; di saat banjir pun ibadah dan ritual keagamaan tidak bisa khusyuk; aktivitas positif, sekolah dan mengaji, terganggu dan terpaksa diliburkan; tidak bisa kerja; aktifitas produktif lumpuh; psikologi mengalami kegalauan dan bahkan stres; kerusakan dan kerugian hartabenda tak terkirakan. Boleh dibilang, bahwa membiarkan musibah banjir sama saja dengan melanggar maqashid al-syari’ah.

Jika tidak ada human error dan ikhtiar sudah maksmial dilakukan dalam mencegah musibah, tetapi musibah tetap terjadi, maka hal ini suatu penegasan teologis bahwa manusia sejatinya tak punya dayaupaya dan tak punya kekuatan di hadapan Allah, la haula wa la quwwata illa billahi. Penegasan sikap tawadhu’ (redah hati), penegasan iman kepada takdir Allah, dan melatih kesabaran.

Akan tetapi, jika buru-buru mengatasnamakan musibah banjir sebagai takdir Tuhan tanpa melakukan ikhtiar secara maksimal, maka itu adalah sikap fatalistik dan mengingkari ikhtiar sebagai kewajiban yang harus dilakukan.

Kita dapat memetik pelajaran dari ungkapan sahabat Umar bin al-Khtahab yang memilih menghidari musibah dengan mengatakan, “Aku menghidar dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain”. Banjir adalah takdir Allah yang harus kita hindari, lalu kita memilih takdir Allah yang lain yaitu tidak banjiran.

Kita bisa memetik inspirasi dari Nabi Nuh As yang berikhtiar secara maksimal dan bersiap-siap dalam menghadapi banjir bandang dengan membuat perahu (safinah) dan mengisi berbagai kebutuhan pangan jauh sebelum waktu banjir itu tiba. Perahu Nuh disediakan bukan untuk pribadinya saja, melainkan juga untuk memberikan pertolongan kepada seluruh umat manusia dan binatang yang melata di bumi. Apa yang dilakukan Nabi Nuh selaras dengan pepatah, “siap payung sebelum hujan”.

Mental Menyikapi Musibah
Bagaimana jika musibah sudah kadung terjadi? Imam Al-Mawardi dalam kitab Adab al-Dunya wa al-Din menyatakan bahwa seseorang yang terkena musibah yang paling berat adalah mentalitasnya. Ia memberikan resep dalam menyikapi musibah, agar manusia tetap bermental stabil dan ringan dalam memikul beban. Pertama, menyadari segala sesuatu yang fana akan sirnah, lepas dari genggaman, masa yang terbatas, dunia tidaklah abadi dan makhluk tak ada yang kekal (baqa) di dunia.

Kedua, musibah adalah setetes dari limpahan nikmat dan rahmat Allah. Musibah pasti berlalu; sebelumnya tidak ada dan musibah pun tidak langgeng. Musibah berbatas waktu. Sedangkan nikmat dan rahmat-Nya tak berbatas.

Ketiga, manusia tahu cara menjaga diri dari musibah dan mencegah musibah yang akan datang yang lebih parah. Diberi husni ad-difa’ (sebaik-baiknya defen/pembelaan atau menangkal musibah), mencari solusi dan penangannya. Sebab, manusia yang menggunakan akalnya senantiasa mengambil pelajaran dari pengalaman hidupnya, termasuk mengambil pelajaran dari musibah nan pahit. Dengan demikian, manusia tidak terperosok ke lubang yang sama.

Keempat, menyadari bahwa hidup seringkali menghirup kebahagiaan seiring dengan kesengsaraan, nikmat seiring dengan musibah. Hidup tak selalu bahagia, dan tak selalu menderita. Hidup kadang Bahagia, dan kadang pula menderita. Menciptakan insan yang bijaksana, berpengalaman, sabar, dan tahan banting.

Kelima, berdoa dan husnu al-dzhan (baik sangka) kepada Allah, bahwa apa yang rusak dan hilang akibat musibah akan ada gantinya yang lebih baik dan ada hikmahnya. Ketika musibah terjadi, mengucapkan innalillahi wa innailaihi raji’un (Al-Baqarah: 156).

Keenam, wajib saling tolong menolong (ta’awun) dalam menyelamatkan yang terkena berbagai bentuk musibah, tak terkecuali banjir (Al-Maidah: 5:2). Sehingga banyak relawan yang membantu masyarakat yang terkena banjir. PWNU DKI Jakarta memiliki tim relawan yang cukup solid dan aktif khusus untuk membantu masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang terkena banjir, yaitu LPBI NU (Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdhatul Ulama).

Alangkah baiknya jika LBM (Lembaga Bahtsul Masail) PWNU DKI Jakarta bekerjasama dengan LPBNU "berencana" mendiskusikan (membahtsulmasailkan) al-fiqh al-biah (fikih lingkungan) dengan mengkaji lingkungan dalam perspektif fikih dan diperkuat serta dielaborasi dengan hasil penelitian lapangan (al-istiqra) studi kasus Jakarta. Hasilnya sikap keagamaan yang bisa disosialisasikan ke masyarakat dan rekomendasi kepada pemerintah. InsyaAllah.

Sumber : Status Facebook Mukti Ali Qusyairi





Fokus : Banjir Jakarta


#Gubernur terbodoh #Anies Gubernur Terbodoh #Anies Gubernur Pembohong #Gubernur Pembohong #Anies Baswedan #Anies #Anies Cuci Tangan Jakarta Banjir #Banjir #Azab Gabener Bodong #4nies Gabener Bodong #Jakarta Banjir Lagi #Jakarta Banjir Terus #Jakarta Dikepung Banjir


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






36 menit yang lalu

Polisi Tangkap Pemuda Penyebar Hoaks Corona di Puncak Jaya Papua

Beritacenter.COM - Jajaran anggota kepolisian berhasil mengamankan satu orang pemuda yang diduga menyebarkan berita..
1 jam yang lalu

Kapolri Instruksikan Anggotanya untuk Bantu Ekonomi Warga Terdampak Corona

Beritacenter.COM - Pandemi virus corona (COVID-19) sangat memberikan pengaruh besar bagi masyarakat, terutama di..
3 jam yang lalu

Doa Bersama Lawan Covid-19, Polisi dan Ulama di Banjar Gelar Istighosah Virtual

Beritacenter.COM - Jajaran Polres Kota Banjar menggelar doa bersama atau istigasah secara virtual meeting, Sabtu..
4 jam yang lalu

Covid-19 Tak Akan Pernah Selesai Jika Masyarakat Tak Patuhi Social Distancing

Ya sudah patuhi saja, kalau nggak dipatuhi mau sampai kapanpun nggak akan pernah selesai itu
5 jam yang lalu

Polda Metro Bakal Tindak Tegas Masyarakat yang Tak Indahkan Imbauan Social Distancing

Beritacenter.COM - Jajaran Polda Metro Jaya tak bosan-bosannya mengimbau agar warga DKI Jakarta senantiasa menerapkan..
6 jam yang lalu

Alhamdulillah, 18 PDP Corona di Cirebon Dinyatakan Sembuh

Beritacenter.COM - Sempat menjalani isolasi dan perawatan di rumah sakit, sedikitnya 18 pasien dalam pengawasan (PDP)..
7 jam yang lalu

Dua Kali Hasil Tes Negatif, Kajari Bantul Dinyatakan Sembuh dari Covid-19

Beritacenter.COM - Sempat menjalani perawatan dan isolasi lantaran positif Corona (Covid-19), Kepala Kejaksaan Negeri..
7 jam yang lalu

Teori Imunitas Yang Sudah Sembuhkan 150 Pasien Virus Corona

Beritacenter.COM - Pasien positif virus corona di Indonesia terkonfirmasi sudah mencapai 2.092 kasus. Dari angka..
8 jam yang lalu

Alasan Cegah Corona dengan Miras Oplosan, 5 Pria di Bekasi Meregang Nyawa

Beritacenter.COM - Entah apa yang ada di pikiran tujuh pria di Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Ditengah pandemi Corona..
18 jam yang lalu

Pemerintah India Ancam Lockdown Diperpanjang

Beritacenter.COM - Pemerintah India melakukan ancaman kepada rakyatnya bahwa lockdown bisa diperpanjang apabila..
18 jam yang lalu

Kabaharkam Sebut Melawan Corona Perlu Sinergitas Pusat, Daerah dan Masyarakat

Beritacenter.COM - Kepala Operasi Terpusat Kontinjensi Operasi Aman Nusa II-Penanganan Covid-19, Komjen Pol Agus..
19 jam yang lalu

Ini Yang Dilakukan Bill Gates Dalam Mencari Vaksin Corona

Beritacenter.COM - Bill Gates pemilik Microsoft mendorong para ilmuan untuk menemukan vaksin virus corona. Saat ini,..
20 jam yang lalu

2 Negara Sahabat Ini Kirim Bantuan Alkes ke RI Bantu Lawan Corona

Beritacenter.COM - Negara Singapura dan Rusia mengirim bantuan kesehatan kepada Indonesia untuk melawan pandemi..
21 jam yang lalu

Wakil Jaksa Agung Tewas Dalam Kecelakaan Mobil

Beritacenter.COM - Sebuah mobil Nissan GT-R alami kecelakaan di Jalan Tol Jagorawi, tepatnya berada di Km 13 B..
22 jam yang lalu

Barcelona Patok Harga Coutinho 80 juta euro, Chelsea Mulai Tertarik

Beritacenter.COM - Chelsea mengajukan tawaran untuk mendatangkan playmeker Barcelona Philippe Coutinho. Barcelona..
23 jam yang lalu

Manfaat Konsumsi Jahe Bisa Cegah Corona

Beritacenter.COM - Jahe merupakan bumbu dapur yang biasa digunakan oleh ibu rumah tangga. Selain untuk bumbu dapur,..
1 hari yang lalu

MUI Sebut Halangi Pemakaman Jenazah Corona Hukumnya Dosa

Beritacenter.COM - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebutkan bahwa mengalangi pemakaman jenazah korban virus corona..
1 hari yang lalu

4 Pemuda di Bekasi Tewas Usai Pesta Miras Oplosan

Beritacenter.COM - Sebanyak empat orang pemuda di Tambun, Bekasi, Jawa Barat tewas seketika usai mengkonsumsi miras..
1 hari yang lalu

Lockdown Bagi Rakyat Kecil

Perumahan mewah di Jakarta konon sudah melakukan lockdown karena ada warga terinfeksi covid-19. Si dia pilih..
1 hari yang lalu

#AyoLawanCovid-19, "Mari Belajar dari Peristiwa Tragis 1998 dan Kita Pasti Menang"

Apa yang terjadi saat itu? Fondasi sosial, politik dan ekonomi negara kita saat itu anjlok karena manajemen..
1 hari yang lalu

GOKIL...! Gak Mau Kalah Dengan Anies Baswedan, Anggota TGUPP DKI Jakarta "Sebar Hoaks" Terkait Virus Corona

Beritacenter.COM - Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) DKI Jakarta Tidak tahu apa dan bagaimana kerja..
1 hari yang lalu

Saat Wabah Covid-19 Melanda, Percayalah Pada Pemerintah

Kehidupan Kita selalu dikelilingi suka dan duka yang silih berganti pasti akan kita hadapi. Dan bangsa Indonesia saat..

+Indeks
Buat Artikel






 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi