Selasa, 26 Januari 2021 - 03:18 WIB

RANCANGAN / SKENARIO "KERUSUHAN 98" DIBALIK FRAMING JOKOWI OTORITER

Oleh : Indah Pratiwi | Budi | Kamis, 25 Juni 2020 | 11:00 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin

Oleh : Budiman

Yang membedakan antara pendukung Jokowi dan pendukung lawan Jokowi, jika saya boleh membuat penilaian pribadi, adalah radikalisme. Jika Jokowi tidak menang pemilu, saya yakin tidak akan ada semangat dari pendukung Jokowi untuk menggoyang pemerintahan yang terpilih. Sebagai warga negara yang baik, kita akan menerima hasil pemilu meskipun tidak sesuai dengan kehendak kita.

Ambil contoh ketika Ahok kalah pada Pilkada Jakarta oleh Anies. Apakah ada aksi protes yang keras dari para pendukung Ahok, yang saya yakin sebagian besar adalah pula pendukung Jokowi? Tidak ada. Mereka menerima saja meskipun Ahok diserang dengan kampanye hitam yang jelas-jelas tidak bermoral. Paling jauh, mereka hanya melakukan kumpul dan menyalakan lilin. Damai, santun, jauh dari ujaran-ujaran kebencian dan keinginan untuk merusak.

Kita tidak terobsesi dengan kekuasaan. Jika ada calon yang bagus, kita perjuangkan sebisanya. Tetapi jika kalah, ya sudah. Berbeda dengan kelompok seberang yang berontak dan tidak mau terima jika kalah. Mencari beragam alasan untuk membatalkan hasil pemilu, dan merencanakan penggulingan pemerintahan ketika upaya pertama gagal.

Bahkan pada periode pertama, pihak oposisi bahkan dengan berani meramalkan bahwa pemerintahan Jokowi akan tumbang sebelum masanya selesai. Pernyataan yang mencurigakan, karena disampaikan dengan sikap yang begitu yakin. Kita tahu, bahwa sesuatu hanya bisa betul-betul kita yakini jika kita sendirilah yang melakukannya. Seperti jika saya bilang bahwa piring di atas meja akan pecah, maka saya bisa sangat yakin jika saya sendirilah yang nanti memecahkannya.

Upaya makar pada periode pertama Jokowi malah pernah ditulis oleh seorang jurnalis asing bernama Allan Nair. Upaya makar itu sendiri dilakukan diam-diam dengan menunggangi kasus Ahok yang saat itu dituduh melakukan penistaan agama. Ujungnya, tertangkaplah banyak nama dan tokoh yang terbukti melakukan pertemuan-pertemuan rahasia dan seruan untuk menggulingkan pemerintah.

Meski gagal, aksi-aksi 212 tidak berhenti begitu saja, padahal Ahok sudah dipenjara. Apa alasannya? Bukankah tidak masuk akal lagi demo-demo 212 itu? Kembali, alasannya adalah menyerang Jokowi. Buktinya, demo-demo tersebut tidak luput dari seruan-seruan dan spanduk yang mengajak untuk menggulingkan presiden.

Pada 2019, mereka ramai-ramai berusaha menolak pelantikan Jokowi sebagai presiden, bahkan terjadi kerusuhan yang cukup mengerikan pada masa-masa tersebut. Prabowo bahkan harus turun tangan untuk menenangkan masa yang sudah terprovokasi. Kembali, usaha itu gagal.

Jokowi tidak bisa dijatuhkan begitu saja karena ia terpilih secara jurdil dalam pemilu. Selain itu, Jokowi tidak memiliki celah untuk diserang sebagaimana massa menjatuhkan Soeharto pada 1998 lalu. Karena itulah, pihak lawan Jokowi saat ini sedang membangun celah untuk disematkan ke Jokowi. Yaitu sebuah frame bahwa Jokowi represif, bahwa Jokowi otoriter.

Untuk itu, mereka perlu menciptakan kondisi yang mendukung, dan media sosial adalah senjata utamanya dalam mengiring opini. Dulu, framing Jokowi anti-Islam yang dikibarkan, tetapi tidak berhasil. Kini, Jokowi otoriter.

Berkaca pada penggulingan Soeharto, mereka melihat bahwa yang mereka butuhkan adalah kekuatan buruh dan mahasiswa. Selain itu, mereka merasa telah memiliki kelompok radikal berbalut agama yang siap menjadi mesin penggerak massa.

Ancaman-ancaman tidak jelas terhadap kelompok mahasiswa dan orang-orang yang mengkritik kerja pemerintah pun bermunculan. Seolah pemerintah antikritik, padahal tidak pernah terbukti siapa pelakunya. Saya yakin pelakunya mereka sendiri, karena kalau pemerintah mau, ada lebih banyak orang yang kritiknya lebih keras dan vokal kepada pemerintah, dan mereka hidupnya nyaman-nyaman saja.

Misalnya pengancam Bintang Emon, seorang komika yang mengkritisi persidangan kasus Novel, diancam oleh akun Twitter baru yang hanya punya satu pengikut. Siapa saja bisa melakukan pengancaman tersebut, tetapi secara logika, orang akan mengarahkan telunjuknya ke pemerintah. Seolah Jokowi melakukan pembungkaman.

Penggiringan opini itu pun semakin terlihat jelas ketika mereka memasang gambar Bintang Emon yang disejajarkan dengan aktivis-aktivis pada masa Orba yang memang betul-betul dibungkam. Framing yang begitu dipaksakan, tetapi bisa laku bagi mereka yang sejak awal antipemerintah.

Menurut Denny Siregar dalam videonya di CokroTV, upaya menyeret Bintang Emon ke dalam masalah ini adalah untuk menarik perhatian anak muda, khususnya mahasiswa. Dan puncaknya adalah ketika akan disahkannya undang-undang Omnibus Law. Undang-undang itu akan dijadikan sebagai provokasi untuk memanas-manasi buruh sehingga mereka melakukan aksi demo besar-besaran.

Aksi demo buruh, ditambah dukungan mahasiswa, dan ditambah lagi dengan kelompok Kadrun yang sudah lama kejang-kejang menyaksikan negara ini dipimpin Jokowi, adalah perpaduan yang lengkap untuk menciptakan skenario kerusuhan besar seperti pada tahun 1998.

Untuk sekarang, mereka akan terus mencari-cari bahan dan memaksakan penggiringan opini bahwa Jokowi otoriter. Kasus salah tulis oleh media-media besar tentang perintah PTUN supaya Jokowi minta maaf karena dianggap melakukan pemblokiran internet di Papua tahun lalu, adalah tanda-tanda bahwa ada yang tidak beres, karena bahkan media besar pun telah termakan oleh framing mereka. Seolah mereka pun mempercayai, bahwa Jokowi memang otoriter.

Karena itu, kitalah yang sekarang harus turun tangan. Perang medsos tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika kita lengah, merekalah yang akan berkuasa dan menjatuhkan pemerintahan yang sah. Tentu, mengerikan sekali jika hal itu terjadi..





#Presiden Jokowi #Jokowi #Joko Widodo #Jokowi Orang Baik #Jokowi Orang Hebat #Jokowi Presiden Ku


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






1 jam yang lalu

Polri Kirim 174 Ribu Lebih Paket Sembako untuk Korban Bencana di Kalsel dan Sulbar

Beritacenter.COM - Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengirim sebanyak 174 ribu paket sembako untuk korban..
2 jam yang lalu

Minta Anies Mundur dari Jabatannya, Ali Lubis Mendapat Teguran Partai Gerindra

Beritacenter.COM - Ketua DPC Partai Gerindra Jakarta Timur Ali Lubis meminta Gubernur DKI Anies Baswedan mundur dari..
3 jam yang lalu

Mantap ! Polisi Berhasil Tangkap 3 Tersangka Tawuran Maut di Bekasi, 2 Orang Buron

Beritacenter.COM - Polisi berhasil menangkap tiga pelaku tawuran maut yang terjadi di Medan Satria, Kota Bekasi, pada..
3 jam yang lalu

Polisi Cek Kejiwaan Pemeran Perempuan dalam Video Mesum di Halte Bus Senen

Beritacenter.COM - Polres Metro Jakarta Pusat mengetest kejiwaan pelaku pemeran perempuan yang diduga mesum dengan..
4 jam yang lalu

Kedapatan Bawa Sabu, Cucu Sultan Bali Ditangkap Polisi

Beritacenter.COM - Jajaran anggota kepolisian menangkap Cucu Raja Pemecutan, Denpasar, Bali lantaran kedapatan..
5 jam yang lalu

Diserang Isu Taliban dan Radikalisme, KPK : Kami Curiga ada Pihak yang Punya Tujuan Tertentu

Beritacenter.COM - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron memastikan tidak ada radikalisme dan..
5 jam yang lalu

Pesan 100 Unit GeNose C19, Ganjar : Saya Gatakut Kasus Covid-19 Meningkat Akibat Tracing

Beritacenter.COM - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo memesan sebanyak 100 unit GeNose C19 untuk ditaruh di..
5 jam yang lalu

Tim DVI Polri Kembali Identifikasi 4 Jenazah Korban Sriwijaya Air Hari Ini

Beritacenter.COM - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri kembali mengidentifkasi empat jenazah korban..
6 jam yang lalu

Mendagri Sebut Tanah Air Butuh Percepatan Vaksinasi Untuk Tingkatkan Herd Immunity

Beritacenter.COM - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebutkan bahwa percepatan serta kerempakan..
6 jam yang lalu

Chelsea Resmi Pecat Frank Lampard Hari Ini

Beritacenter.COM - Chelsea akhirnya resmi memecat Frank Lampard sebagai manajer. Keputusan itu disampaikan Chelsea..
7 jam yang lalu

Tommy Soeharto Gugat Pemerintah soal Penggusuran, ATR: Sudah Ganti Rugi, tapi Dianggap Kurang

Beritacenter.COM - Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto menggugat Kementerian ATR/BPN dan beberapa pihak lain..
7 jam yang lalu

Satgas COVID : Vaksin Tak Bisa Buat Kebal 100% dari Corona Jika Baru Sekali Suntik

Mengingatkan bahwa vaksin apabila baru satu kali disuntikkan dosisnya tidak bisa membuat kebal 100 persen dari Covid-19
7 jam yang lalu

Pulang Dinas dari Luar Kota, Bupati dan Wabup Pangandaran Dinyatakan Positif Covid-19

Beritacenter.COM - Bupati Pangandaran, Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati (Wabup), Adang Hadari dinyatakan positif..
8 jam yang lalu

Polisi : Perempuan Pemeran Video Mesum di RSUD Dompu Positif COVID-19

Beritacenter.COM - Pihak kepolisian menyebut perempuan pemeran video mesum di ruang isolasi pasien COVID-19 RSUD..
8 jam yang lalu

Pergoki Suami Selingkuh, Wanita Ini Nekat Naik ke Kap Mobil yang Melaju Kencang

Beritacenter.COM - Sebuah video memperlihatkan aksi seorang wanita yang nekat naik ke kap mobil yang tengah melaju..
9 jam yang lalu

Sempat Dilarang Trump, Biden Bakal Cabut Larangan Transgender Jadi Tentara

Beritacenter.COM - Presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Joe Biden, disebut bakal mencabut larangan transgender..
9 jam yang lalu

Rabu Pekan Ini, Presiden Jokowi Bakal Lantik Komjen Listyo Sigit Jadi Kapolri

Beritacenter.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan melantik Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri..
9 jam yang lalu

Bareskrim Panggil Ambroncius Nababan Terkait Kasus Rasisme ke Natalius Pigai

Beritacenter.COM - Penyidik Bareskrim Polri telah melayangkan surat panggilan kepada Ambroncius Nababan terkait kasus..
10 jam yang lalu

Arsenal Selangkah Lagi Datangkan Pemain Real Madrid

Beritacenter.COM - Klub raksasa Inggris Arsenal dikabakaran selangkah lagi akan mendapatkan pemain Real Madrid Martin..
10 jam yang lalu

PNS Terduga Teroris di Langsa Pegawai di Majelis Adat Aceh, Bekerja Sekitar 5-6 Tahun

SJ pegawai di Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Timur. Dia sudah di MAA sekitar 5 atau 6 tahun
10 jam yang lalu

Baru Saling Kenal, Wanita yang Oral Seks di Halte Senen Ngaku Dibayar Rp 22 Ribu

Beritacenter.COM - MA (21), Pelaku wanita yang melakukan aksi mesum oral seks di halte bus dekat SMKN 34 Kramat..
10 jam yang lalu

Kunjungi Warga Positif Rapid Antigen yang Dikucilkan Tetangga, Kapolres Nganjuk : Mereka Butuh Disimangati!

Betul saya mengunjungi pasien di rumahnya yang memang ada pengucilan dari warga sekitar. Kemarin siang Minggu sekitar..

+Indeks
Buat Artikel






 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi