Sabtu, 04 Juli 2020 - 12:01 WIB

PANCASILA-TRISILA-EKASILA: BENARKAH PENGKHIANATAN TERHADAP BANGSA DAN NEGARA?

Oleh : Indah Pratiwi | Budi | Senin, 29 Juni 2020 | 01:05 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin


BULAN BUNG KARNO

Tidak sengaja saya mendapat tulisan/artikel di group WA dari Dr. Bambang Noorsena mengenai Pancasila, Trisila, Ekasila.

Semoga artikel dibawah ini bisa memberikan pemahaman, pencerahan yang berguna, bagi para pembaca yang budiman.

Sehingga kita sebagai generasi muda sudah layak dan sepantasnya untuk menghargai, berterimakasih dan bersyukur atas jasa dan pengorbanan para Pendiri Bangsa.

Semoga Arwah Para Pendiri Bangsa berbahagia di Surga dan bangga memiliki generasi muda yang tahu berterimakasih, hormat, mencintai bangsa dan negaranya.

Terimakasih dan mohon ijin kepada Dr. Bambang Noorsena,
atas tulisannya untuk saya viralkan.

Tetaplah Bersemangat Elang Rajawali !!!

Manunggal, 280620

PANCASILA- TRISILA-EKASILA: BENARKAH PENGKHIANATAN TERHADAP BANGSA DAN NEGARA?


(Catatan Refleksi dalam menyambut 50 Tahun Haul Bung Karno).

Oleh Dr. Bambang Noorsena

1. CATATAN PENDAHULUAN

RUUHIP menuai polemik publik. Beberapa orang menuduh bahwa Pancasila yang diperas menjadi Trisila dan Ekasila adalah merupakan bentuk pengkhianatan terhadap bangsa dan negara. Benarkah? Tuduhan itu khususnya berkaitan dengan Pasal 7 draf RUU Haluan Ideologi Pancasila yang memuat klausul mengenai Trisila dan Ekasila, sesuai dengan usulan Bung Karno mula-mula dalam pidatonya di depan sidang BPUPKI, tanggal 1 Juni 1945, yang akhirnya lebih dkenal sebagai “Lahirnya Pantja-Sila” tersebut.

Lebih jelasnya, Pasal 7 draf RUUHIP, yang dipersoalkan itu terdiri dari 3 ayat yang berbunyi:

(1) Ciri pokok Pancasila adalah keadilan dan kesejahteraan sosial dengan semangat kekeluargaan yang merupakan perpaduan prinsip Ketuhanan, Kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan/demokrasi politik dan demokrasi ekonomi dalam kesatuan;
(2) Ciri pokok Pancasila berupa Trisila, yaitu Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi dan Ketuhanan yang berkebudayaan.
(3) Trisila sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkristalisasi dalam Ekasila, yaitu gotong royong.

2. LALU, MANAKAH YANG DIANGGAP MENGKHIANATI BANGSA DAN NEGARA?

Faktanya, Trisila dan Ekasila justru berasal dari dokumen “Lahirnya Pantja-SIla”, pidato Bung Karno sebagai satu-satunya yang dibahas dalam sidang Panitia kecil yang akhirnya dicantumkan dalam Alinea 4 Pembukaan UUD 1945. Jadi, Trisila dan Ekasila terdapat dalam babon atau bahan dasar ideologi negara yang dibahas dalam sidang Panitia Kecil. Memang, istilah “diperas menjadi trisila”, “diperas lagi menjadi ekasila” itu bukan bahasa hukum, dan apa yang diucapkan Bung Karno itu baru usulan kepada sidang BPUPKI, yang akhirnya dibahas lebih mendalam dalam sidang Panitia kecil yang juga dilakukan atas prakarsa Bung Karno.

Bung Karno tidak sedang berbicara tentang "Stufentheory", atau hirarkhi perundang-undanga a-la Hans Kelsen. Kata “diperas” bukan bahasa hukum, tetapi harus dimaknai sebagai upaya mencari "meeting point" dalam proses dinamis pembahasan dasar negara untuk Indonesia merdeka yang akan didirikan bersama-sama. Lagi pula, substansi pidato 1 Juni 1945 itu juga bukan hal yang mendadak dan tiba-tiba muncul, melainkan lahir dari pergulatan pemikiran Bung Karno mengenai proses panjang sejarah perjuangan bangsa, khususnya berangkat dari fakta kemajemukan Indonesia.

Kita harus melihat pidato 1 Juni sebagai “helaan mandat sejarah” yang memang tidak bisa dilepaskan dari situasi zaman saat itu, yang tidak bisa lihat dari “kacamata” kita sekarang. Misalnya, mengapa Bung Karno mengusulkan sila pertama Kebangsaan? Karena menyebut Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama, mungkin untuk konteks zaman saat itu, bisa-bisa disalah mengerti sebagai sistem theokrasi oleh kaum kebangsaan yang menghendaki sistem legitimasi “non-agamis". Sebab saat itu belum lama munculnya sekularisme Turki yang lahir sebagai kritik kebablasan terhadap sistem kekhalifahan Utsmani, yang sebelumnya telah banyak dikritik oleh negara-negara Arab sendiri.

Sebaliknya, kalau Bung Karno berbicara tentang Nasionalisme an sich, rawan disalahfahami sebagai “chauvinisme" yang lagi panas-panasnya mengudara di langit Eropa. Itu gara-gara “sakit gila” Hitler dengan dalilnya: “Deutschland Uber Alles” (Tiada bangsa setinggi Jerman). Karena itu, Bung Karno menegaskan “Nasionalisme harus tumbuh subur di tamansarinya Internasonalisme”. Inilah yang disebut Bung Karno sebagai Sosio-Nasionalisme. Begitu pula, berbicara Demokrasi an sich akan dibaca sebagai kelemahan demokrasi liberal, yang hanya mengandung demokrasi politik tanpa keadilan sosial.

Karena itu, Bung Karno menggagas demokrasi politik dan demokrasi ekonomi yang harus berjalan bersamaan.Itulah yang disebutnya Sosio-Demokrasi. Jadi, Ketuhanan Yang Maha Esa, Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi adalah embrionya Pancasila yang akhirnya diusulkan oleh Bung Karno dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945. Trisila dan Pancasila itu laksana "pedhèt" (anak sapi) dan sapinya. Runutannya, Trisila lahir dari semangat ekasila atau gotong royong. dan Pancasila adalah wujud pendewasaan Trisila setelah melalui penggodogan dalam kawah “candradhimuka”-nya perjuangan rakyat Indonesia.

3. APAKAH “EKASILA” GOTONG ROYONG MENGHAPUSKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA?

Tuduhan bahwa “ekasila” Gotong Royong akan menghapuskan Ketuhanan Yang Maha Esa ini adalah bias Orde Baru yang berusaha melakukan “De-Soekarnoisasi”, dengan cara melepaskan Pancasila dari penggalinya. Mengapa? Gotong royong itu semangat dinamis dan tekad bulat segenap rakyat untuk bersatu dan bersama-sama mendirikan negara-kebangsaan (Nationale Staat), mengatasi sekat-sekat perbedaan dalam suku, adat istiadat, bahasa-bahasa daerah, agama dan perbedaan primordial lainnya.

Pancasila tidaklah muncul tiba-tiba. “Puluhan tahun dadaku telah menggelora dengan prinsip-prinsip itu”, kata Bung Karno dalam pidato Lahirnja Pantja-Sila. Ya, kita bisa melacaknya dari jejak juang bangsa Indonesia yang diformulasikan dalam ideologi perjuangan Bung Karno. Gagasan Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi telah menghiasi surat-surat kabar Hindia Belanda jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Karena itu, tuduhan bahwa ekasila akan menghapuskan Ketuhanan, sulit dimengerti akal sehat.

Bacalah, artikel “Sukarno” oleh Sukarno, yang dimuat Surat Kabar Pemandangan, 14 Juli 1941:

“…dalam cita-cita politiku, aku ini seorang nasionalis, dalam cita cita sosialku aku ini sosialis, di dalam cita-cita sukmaku aku ini sama sekali theis. Sama sekali percaya kepada Tuhan, sama sekali mengabdi kepada Tuhan". Jadi, Bung Karno dengan penghayatannya yang unik tentang agamanya dalam konteks kemajemukan, benar-benar seorang yang amat religius.

Sebab, di tengah-tengah berkecamuknya perang dingin antara “blok Kapitalis” dan “blok Komunis”, yang saat itu laksana membelah dunia, dengan lantang Bung Karno menawarkan Pancasila sebagai “hoggere optrekking” (sublimasi, pengangkatan ke taraf yang lebih tinggi) dari “Declaration of Independence”-nya Amerika dan Manifesto Komunis. Kritik bahwa demokrasi politik harus berjalan seiring dengan demokrasi ekonomi, disuarakannya dalam pidatonya Build The World A New (Membangun Dunia Kembali), di depan sidang Umum PBB, tanggal 30 September 1960.

“Declaration of Independence”, tegas Bung Karno “menuntut life, liberty and the pursuit of happiness, yaitu hak hidup,hak kebebasan,dan hak mengejar kebahagiaan bagi semua manusia. Padahal pursuit of happiness (pengejaran kebahagiaan) belum berarti reality of happiness (kenyataan kebahagiaan)”. Lalu manakah yang lebih baik? “Kita bangsa Indonesia”, lagi kata Bung Karno dalam Jalannya Revolusi kita, 17 Agustus 1960, “melihat bahwa Declaration of Independence itu tidak mengandung keadilan sosial atau sosialisme dan kita melihat bahwa Manifesto Komunis itu masih harus di sublimir, dipertinggi jiwanya dengan Ketuhanan yang Maha Esa”.

Apa yang disuarakan Bung Karno bukan sekedar “propaganda”, melainkan benar-benar “praxis” kehidupan bangsa-bangsa seperti yang dibuktikannya dengan diselenggarakannya Konperensi Asia Afrika, di Bandung, 18-24 April 1955. Gaung konperensi yang digagas Bung Karno ini membahana di langit Timur dan Barat, sehingga mata dunia terus menatap takjub kepada Indonesia. Karena spirit revolusi Indonesia, di Mesir pidato Bung Karno “Penemuan Kembali Revolusi kita”, 17 Agustus 1959, telah diterjemahkan dalam bahasa Arab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ”, diterbitkan oleh Dâr al-‘Arabiyyah li al-‘Ulûm, Cairo, 1959. Pada bagian akhir terbitan pidato Bung Karno dalam bahasa Arab ini, dicantumkan glossary tentang falsafah bangsa Indonesia.

Dalam glossary buku tersebut, Pancasila dialih-bahasakan "al-Mabâdi al-Khamsah”, “Bhinneka Tunggal Ika” diterjemahkan: “al-Ta’addud fî al-Wihdah”, dan dijabarkan maknanya “ay ‘an ‘Indunisiyâ bi ragmi min ta’addud ‘aqâlîmihâ wa qâbâ’ilihâ takûnu wahdatan mutamâsikatan” (yaitu bahwa Indonesia meskipun terdiri dari berbagai wilayah dan suku bangsa yang berbeda-beda tetapi bersatu-padu dalam kesatuan yang teguh). Sedangkan yang lagi viral, kata “gotong royong”, yang dalam pidato Lahirnya Panta-Sila disebut “ekasila”, dalam “Al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” diterjemahkan dengan “al-Ta’âwun al-Musytarak” (A.G. Sya’ban, 2015).

4. CATATAN PENUTUP

Sekali lagi, jangan curiga dengan kata “diperas”, dan jangan salah membacanya sebagai bahasa hukum. Berbeda dengan kata kekeluargaan yang statis, gotong royong adalah gawe, amal, karya bersama-sama yang dinamis, kristalisasi keringat, pembantingan tulang bersama demi cita-cita seluruh rakyat. Itulah “bahasa roh” yang menyala-nyala, bukan “bahasa hukum” yang baku dan kaku. Seperti adagium suci bahasa Yunani: “Gar gramma apoktennei to de pneuma zôpoiei” (Huruf itu mematikan tetapi roh itu menghidupkan).

Sekali lagi, dalam pidato Lahirnya Pantja-Sila, Bung Karno yang gandrung persatuan, di depan sidang Dokuritu Zyunbi Tyosa Kai saat itu menawarkan “philosofische gronslag” dalam sistematik Pancasila, Trisila atau Ekasila. “Tetapi terserah kepada Tuan-tuan, mana yang tuan-tuan pilih. Trisila, Pancasila atau Ekasila”, kata Bung Karno. Sidang panitia kecil akhirnya memilih lima sila itu, dengan beberapa perbaikan redaksional, lalu mencantumkannya dalam Pembukaan UUD 1945, meskipun menyebut Pancasila. Jadi, hanya dengan membaca pidato "Lahirnja Pantja-Sila" 1 Juni 1945 dan notulen sidang di Panitia Kecil kita bisa membaca “suasana batin” para bapa bangsa waktu itu, sebelum semua menyepakati Pancasila sebagai Dasar Negara.

"De Museum Cafe" Malang, 21 Juni 2020.





Fokus : RUU HIP


#RUU HIP #Pancasila


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






1 jam yang lalu

Barcelona dan Liverpool Bersaing Dapatkan Thiago Alcantara

Beritacenter.COM - Klub raksasa Barcelona dan Liverpool dikabarkan bersaing untuk mendatangkan gelandang Bayern..
2 jam yang lalu

JIKA BUKAN JOKOWI YANG MENJADI PRESIDEN INDONESIA

Presiden Jokowi hanyalah manusia biasa dan bukan manusia sempurna, tetapi Presiden Jokowi adalah Presiden Indonesia..
12 jam yang lalu

Satu Tersangka dan Satu Saksi, Ini Motif Eks Pegawai Starbucks Rekam Video Intip Payudara

Beritacenter.COM - Aksi tak senonoh eks pegawai starbucks intip payudara pelanggar dari CCTV, diketahui dilakukan..
14 jam yang lalu

Duh! Pesepeda Perempuan di Tegal Dapat Teror Pemotor Begal Payudara

Beritacengter.COM - Olaraga bersepeda belakangan menjadi tren yang digemari masyarakat ditengah pandemi COVID-19, tak..
15 jam yang lalu

NASIHAT BUAT ANAK PRESIDEN JOKOWI "Tirulah Anak Presiden Soeharto!"

Mas Gibran, sampeyan anak presiden gak usahlah jualan martabak. Contoh Om Tommy Soeharto, yang minta sama bapaknya..
17 jam yang lalu

Puluhan Pekerja Perusahaan Unilever Terpapar Covid-19

Beritacenter.COM - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menegaskan agar para pelaku usaha di bidang industri..
18 jam yang lalu

Pemerintah Prancis Terancam Bubar

Beritacenter.COM - Perdana Menteri (PM) Prancis Edouard Philippe dan pemerintahannya resmi memundurkan diri pada hari..
19 jam yang lalu

Tertunduk Lesu, Ini Tampang Eks Pegawai Starbucks yang Viral Intip Payudara di CCTV

Beritacenter.COM - Jajaran Polres Metro Jakarta Utara menghadirkan salah satu eks pegawai Starbucks pelaku yang..
20 jam yang lalu

Tabrak Belakang Mobil, Seorang Ibu Rumah Tangga Tewas Terlindas Truk

Beritacenter.COM - Rosidia Manulang seorang ibu rumah tangga warga Jalan Boxit Rel Lingkungan 1, Kota Bangun,..
21 jam yang lalu

Ratusan Pengunjung Dan PSK Terciduk Satpol PP di Diskotik

Beritacenter.COM - Satpol PP Jakarta Barat menggerebek Diskotik Top One di Jalan Daan Mogot, Grogol Petamburan,..
1 hari yang lalu

Calon Ibu Wajib Tahu 'Cara Mandikan Bayi Yang Benar'

Beritacenter.COM - Orang tua pastinya kebingungan bagaimana cara memandikan bayi yang baru lahir, terutama ibu baru..
1 hari yang lalu

KPK OTT Seorang Bupati di Kutai Timur, Jakarta dan Samarinda

Beritacenter.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Kutai Timur,..
1 hari yang lalu

DI PDI PERJUANGAN BANYAK KADER NAHDLATUL ULAMA DAN MUHAMMADIYAH

Zuhairi Misrawi, Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia, Cendekiawan Nahdlatul Ulama, dan Lulusan Universitas..
1 hari yang lalu

JOKOWI HEBAT, DIA DIAM TAPI LANGKAHNYA MEMATIKAN

Seperti menyatukan unsur Air dan Api, Presiden Joko Widodo membuat strategi agar mafia tidak berkutik sama sekali..
1 hari yang lalu

Group Lion Air Akui 2.600 Karyawan Dirumahkan

Beritacenter.COM - Lion Air Group mengklarifikasi soal ramainya pengurangan tenaga kerja yang dilakukan baik..
1 hari yang lalu

Pesta Pernikahan Berujung Maut, 80 Tamu Positif Corona Pengantin Pria Meninggal

Beritacenter.COM - Resepsi pernikahan jadi momen sakral yang digelar sekali dalam hidup. Hanya karna ingin membagi..
1 hari yang lalu

Terjerat Pinjaman Online, Mantan Karyawan Minimarket Rampok Uang Rp100 Juta

Beritacenter.COM - AM (22) nekat merampok minimarket di Kecamatan Lemahabang, Karawang, Jawa Barat dan membawa kabur..
1 hari yang lalu

Musnahkan 1,2 Ton Sabu, Kapolri: Bahaya Kalau Tidak Cepat, Iman 'Goyah' Segenggam Miliaran

Dari luar bisa orang luar, dari dalam bisa polisinya sendiri, kalau tidak cepat dimusnahkan, iman goyah. Pegang..
1 hari yang lalu

Danrem 142/Tatag Lakukan Kunjungan Kerja Ke Kodim 1402/Polmas

POLMAN - Komandan Korem (Danrem) 142/Tatag, Brigjen TNI Firman Dahlan, S.I.P, didampingi ketua persit KCK Koorcab Rem..
1 hari yang lalu

Begini Amanat dan Instruksi Presiden Jokowi di HUT Bhayangkara ke-74

BeritaCenter.COM – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan amanat dan memberikan instruksi di HUT..
1 hari yang lalu

Kapolri: Kalau Polisi Kena Narkoba Harusnya Dihukum Mati, Mereka Tahu UU, Tahu Hukum!

Kalau polisinya sendiri yang kena narkoba, hukumannya harus hukuman mati sebenarnya, karena dia sudah tahu..

+Indeks

 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi