Minggu, 24 Oktober 2021 - 13:03 WIB

Demokrat Di Persimpangan Jalan

Oleh : Indah Pratiwi | Rabu, 03 Maret 2021 | 19:03 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin

Oleh : Karto Bugel

Sedemikian jumawanyakah beliau hingga tak bertédéng aling-aling (frontal) berucap nama Moeldoko dalam marahnya?


Adakah dia lupa bahwa politik menyediakan demikian banyak bahasa dalam cara bertutur dengan segala keterselubungannya?


Atau, mungkin dia hanya ingin mencoba cara baru dalam berkomunikasi?

Sebab omongannya telah menuai kontroversi dan pantas bila Moeldoko tersengat. Moeldoko tak suka. Bagaimana pun juga, Moeldoko adalah seorang Jendral bintang 4 dan pernah menjabat KASAD dan bahkan Panglima TNI.

Bila ukuran yang dipakai sebagai perbandingan adalah prestasi pada jabatan di TNI, Moeldoko jauh lebih cemerlang. Ada dua posisi prestisius dicapai dalam karirnya, KASAD dan Panglima TNI. Tak penting kedua jabatan itu karena jasa SBY misalnya.

SBY secara administratif adalah bintang 3. Bintang 4 yang didapatnya bukan karena struktural, namun lebih bersifat politis. Bintang 4 di TNI AD secara struktural hanya milik KASAD dan SBY tidak pernah menjabat itu.

Moeldoko memberi perlawanan. Konsep ewuh pakewuh yang biasa menjadi aturan tak tertulis antara senior dan junior dalam tradisi militer selama ini terlanggar sudah. Moeldoko harus menjawab dalam tegas layaknya militer dan tak lagi harus peduli apakah itu pantas. Dan pak Moel sepertinya sudah berancang-ancang ke sana.

Ya sudah lah, tetap saja beliau pernah menjadi Presiden. Tetap saja dia pernah jadi atasan Moeldoko.

Dan bukankah narasi bahwa Moeldoko tak tahu diri mulai terdengar dari bawahan SBY? Dan bukankah karena sebab itu pula maka SBY merasa pantas dan perlu menegur seorang Moeldoko?

Entahlah, yang jelas kini riuh suasana dalam Partai Nasionalis itu menjadi semakin enak dijadikan obrolan apalagi sambil ngopi ditemani sepiring singkong goreng dengan kaki terendam air sebab banjir masih menggenang di Jakarta.

Polemik pertama kita dengar dari AHY ketika dia tiba-tiba berujar "orang yang ingin mengambil alih kursi Ketua Umum partainya ini berada di lingkaran terdekat Presiden Jokowi".

Cerita itu digulirkan oleh AHY dalam konferensi pers yang digelar Senin (1/2/2021) siang.

Sempat ramai dan kemudian muncul nama Moeldoko dan hingga dikemudian hari AHY merevisi sendiri ucapannya dan mengatakan bahwa Presiden tak tahu menahu setelah sekian lama suratnya tak pernah Presiden respon.

Sang ayah harus turun gunung atas repotnya si sulung menangkis keroyokan kader senior yang turut ribut dalam bersuara.

"Secara pribadi saya sangat yakin bahwa yang disebutkan Moeldoko adalah diluar pengetahuan Presiden Jokowi. saya juga yakin bahwa Presiden Jokowi memiliki integritas yang jauh berbeda dengan prilaku pembantu dekatnya itu,” demikian narasi pembuka SBY saat turun gunung Kamis (25/2/2021).

Bukan hanya Presiden Jokowi dianggap tak terlibat, SBY juga meyakini bahwa sejumlah pejabat pemerintah seperti Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD, Menkumham Yasonna Laoly, Kapolri hingga Kepala Bin hanya dicatut saja namanya oleh Moeldoko.

Moeldok disebut dalam benderang. Pantaskah Moeldoko marah?

Anehnya, kabar terakhir datang dari Kader Muda Demokrat (KMD) Aswin Ali Nasution yang berujar ingin membuat KLB di mana Moeldoko dicalonkan sebagai Ketua Umum dan gilanya, Ibas ,anak bungsu sekaligus adik sang Ketua Umum AHY, dijagokan untuk menjadi Sekjend.

"Loh pak Moel kan bukan kader, emang boleh?"

"Tidak ada satu klausul pun yang AD/ART partai Demokrat calon ketua umumnya itu harus memiliki KTA artinya ruang itu memang terbuka," demikian kata Aswin.

"Serius sudah separah itu? Apakah gak sayang Partai Nasionalis sebesar itu harus runtuh dari dalam?"

Seharusnya selesaikan saja dari dalam. Cari solusi dengan berbicara tanpa berisik dan tetangga dengar. Penyebutan nama Moeldoko apalagi dengan narasi dialah seolah kambing hitam atas semua kegaduhan itu justru bencana. Itu sama artinya mengundang orang luar masuk.

Dan pak SBY pasti sangat tahu bagaimana cerita sebuah Partai Polititk dengan mudah bisa berpindah tangan. Adanya dualisme, ribut dan terakhir undang Pemerintah melalui Kemenkumham.

Dulu, sewaktu pak SBY berpangkat Brigadir Jendral dan menjabat sebagai Kasdam Jaya, beliau tahu persis bagaimana proses berpindah tangannya kepemimpinan Partai PDI dari Megawati ke Soerjadi.

Dualisme kepemimpinan Partai di PDI tahun 1996 mengundang Pemerintah untuk melakukan intervensi. Sejarah mencatat bahwa 27 Juli 1996, menjadi salah satu lembaran hitam dalam perpolitikan di Indonesia.

Sebab, peristiwa yang dikenal dengan sebutan "Kudatuli" atau Kerusuhan 27 Juli itu menjadi pengingat bahwa dualisme partai politik yang terjadi di Indonesia dapat berujung perebutan pimpinan partai.

Bukan hanya itu, terkhusus pada peristiwa kudatuli bahkan telah terjadi tragedi yang mengakibatkan korban jiwa.

Peristiwa Kudatuli berawal dari upaya pengambilalihan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta.

Saat itu, kantor DPP PDI yang dikendalikan oleh pendukung Megawati Soekarnoputri berusaha dikuasai oleh pendukung Soerjadi.

Megawati adalah merupakan ketua umum PDI berdasarkan hasil Kongres Surabaya pada 1993 untuk kepengurusan 1993-1998. Sedang Soerjadi terpilih berdasarkan hasil Kongres Medan pada 22 Juni 1996 untuk periode 1996-1998, sebulan sebelum Peristiwa 27 Juli terjadi.

Pemerintahan Orde Baru saat itu merasa berhak untuk ikut masuk guna menyelesaikan permasalahan tersebut. Siapa yang menang, tentu yang lebih dekat pada pemerintah. Dalam hal ini Soerjadi.

Bahwa itu mengakibatkan munculnya korban jiwa yang tak sedikit, tahu sendiri kan jaman itu jaman semua diselesaikan dengan kekuatan senjata?


Pak SBY sangat paham bagaimana cerita ini bergulir.

Ketika SBY telah menjadi Presiden, peristiwa dualisme kepemimpinan partai kembali terjadi. Kali ini PKB.

Tahun 2008 muncul dua bersi PKB yakni PKB hasil MLB Parung di bawah GusDur dan PKB hasil MLB Ancol di bawah Muhaimin.

Keduanya sama-sama menggelar Muktamar Luar Biasa (MLB). 30 April-1 Mei 2008, kubu Gus Dur menggelar MLB di Parung, Bogor, dan kubu Muhaimin menggelar MLB pada 2-4 Mei 2008 di Ancol.

Kubu siapa yang menang dan akhirnya diakui legalitasnya, di sana peran pemerintah sangat besar. Ini politik. Bukan soal benar dan salah, seringkali ini hanya soal kemana si pemimpin partai yang sedang ribut itu menampakkan keberpihakannya. Semua tahu bagaimana akhir cerita itu.

Dan PKB pada 2009-2014 masuk menjadi partai koalisi pemerintah dimana sang Ketum menjadi Menaker.

Ini juga bukan tentang siapa lebih baik, SBY sebagai Presiden atau Jokowi, ini adalah cerita tentang politik.

Demikian pula peristiwa yang sama pun juga terjadi pada pemerintahan Jokowi. Kali ini PPP. Dualisme partai berlambang kabah ini memunculkan nama Romahurmuziy di satu sisi dan Djan Faridz pada sisi yang lain.

Dualisme itu sekali lagi mengundang sekaligus memberi celah bagi pemerintah untuk terlibat. Siapa yang menang, adalah dia yang lebih bisa diterima oleh pemerintahan saat itu.

Romahurmuziy memamg terlihat sangat dekat dengan Jokowi. Bahwa dia akhirnya tumbang dan diangkut ileh KPK, itu cerita berbeda.

Ketika Tommy Soeharto demikian yakin akan kembali bangkit karena memiliki kendaraan Partai yakni Berkarya, itu jelas sikap yang memunjukkan bahwa dirinya belum terlalu matang dalam berpolitik.

Siapa di belakang Muchdi PR sehingga mampu menyelenggarkan munaslub partai Berkarya dimana Ketuanya yang terdahulu adalah orang yang sangat kuat, sekaligus duitnya sangat banyak, tak seorang pun yang tahu. Itu akan tetap menjadi rahasia Muchdi.

Dualisme kepengurusan pun muncul setelah Partai Berkarya menyelenggarakan Munaslub pada 11 Juli 2020. Sekali lagi, pemerintah harus memilih karena itulah salah satu tugas mereka.

Lewat putusan Kementerian Hukum dan HAM pada 30 Juli 2020, pemerintah memutuskan Muchdi PR sebagai ketua umum partai menggantikan Tommy Soeharto.

Bagaimana dengan Tommy, dia tak lagi punya kendaraan dalam aksi politiknya. Dia hanya Tommy yang duitnya banyak namun sulit baginya maju dalam ranah politik.

"Apa hubungannya dengan Partai Demokrat?"

Partai Demokrat itu aset negara. Aset bagi demokrasi kita. Sangat disayangkan bila partai sebesar itu harus jatuh. Tak mungkin partai sebagus dan sebesar itu akan dibiarkan tenggelam. Bahwa di dalamnya kini sedang terjadi riak-riak dan sedkit gelombang yang tampak makin besar, partai itu pasti selamat.

Dia masih kendaraan yang sangat bagus bagi mereka yang ingin ngebut dalam politik. Bukan kendaraan itu kini yang sedang bermasalah, pengemudi di dalamnya sedang tak enak badan.

Akan terus mengeluh dan orang bosan dengar keluhannya dan kemudian dijadikan polemik dan kemudian pemerintah diundang masuk ke dalamnya, itu pasti bencana bagi dia yang saat ini menjadi pengemudi berikut seluruh crew-nya.

Moeldoko dan Ibas sudah mulai terdengar disandingkan. Bisa saja ini "guyon" tak lucu karena yang menarasikannya bukan mereka yang profesional. Namun menyepelekan suara itu dan masih sibuk mencari kambing hitam atas tak kompak warganya di dalam, itu adalah awal mereka yang di dalam sana terbuang dan tergusur.

Tommy Soeharto pernah. Gus Dur dan bu Megawati juga merasakan pahitnya skenario jahat itu. Djan Faridz bisa tertawa karena rasa marahnya telah diobati dengan fakta bahwa Romahurmuziy diangkut KPK.

Lantas, impossible-kah seorang SBY mendapat derita yang sama?


RAHAYU


Sumber : Status Facebook Karto Bugel

 





Fokus : AHY Akan Digulingkan


#Partai Demokrat #Demokrat #AHY Akan Digulingkan #Kudeta Demokrat #Demokrat Kudeta AHY #Demokrat Kudeta #KLB Partai Demokrat


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






1 jam yang lalu

Rumah Ambruk Timpa Ibu-Anak di Jakbar, Damkar : Ibu Peluk Bayinya saat Tertimbun

Beritacenter.COM - Nahas, nasib menimpa seorang ibu dan bayinya berusia 4 bulan di Jakarta Barat. Ibu-anak itu..
2 jam yang lalu

Elon Musk Digadang-gadang Bakal Jadi Triliuner 'Dolar' Pertama Dunia

Beritacenter.COM - Bos SpaceX dan Tesla, Elon Musk, digadang-gadang bakan menjadi triliuner pertama di dunia. Dimana..
4 jam yang lalu

Pemprov DKI soal Rapor Merah LBH Terkait Penggusuran Era Anies : Itu Penertiban!

Yang dilakukan oleh Satpol PP merupakan penertiban terhadap pelanggaran aturan daerah dalam menjaga ketertiban kota..
5 jam yang lalu

Tawuran Warga Kembali Terjadi di Makassar, 1 Orang Terluka Kena Anak Panah

Beritacenter.COM - Aksi tawuran antar dua kelompok warga kembali pecah di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Aksi..
16 jam yang lalu

Pemuda Asal Garut Hilang Tenggelam di Sungai Cimanuk Sumedang

Beritacenter.COM - Seorang pria bernama Dedi (45) dikabarkan tenggelam di Sungai Cimanuk, Kabupaten Sumedang. Saat..
17 jam yang lalu

Datang ke Blitar, Mensos Risma Bersihkan Makam Bung Karno

Beritacenter.COM - Menteri Sosial, Tri Rismaharini datang ke Kota Blitar. Kunjungannya kali ini, selain ziarah ke..
1 hari yang lalu

Inilah Efek Samping Konsumsi Buah Durian secara Berlebihan

Beritacenter.COM - Buah durian merupakan buah yang sering kita temui. Hampir kebanyakan orang menyukai dengan buah..
1 hari yang lalu

3 Permohonan Doa yang Dipanjatkan Rasulullah di Waktu Pagi Hari

Doa mutlak diperlukan manusia, karena manusia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sekarang dan yang akan datang...
1 hari yang lalu

Akhir Pekan, BMKG Mewaspadai Wilayah Jaksel dan Jaktim Diguyur Hujan mulai Siang hingga Malam Hari

Beritacenter.COM - Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mewaspadai hujan akan turun di sejumlah daerah..
1 hari yang lalu

Kerap Cari Mangsa di Bandara Juanda, 3 Orang Sindikat Pencuri Ditangkap Polisi

Beritacenter.COM - Polisi membekuk tiga pelaku pencurian dengan pemberatan (curat) di Sidoarjo. Korban adalah mereka..
1 hari yang lalu

Jangan Salah, Ini Manfaat Ganja yang Sebenarnya untuk Kesehatan

Beritacenter.COM - Ganja atau mariyuana adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, atau lebih dikenal sebagai obat..
1 hari yang lalu

Simak ! Ini Tiga Cara Cek Data Hasil PCR-Antigen Tercatat di PeduliLindungi

Beritacenter.COM - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengembangkan dan memperluas penggunaan..
1 hari yang lalu

Polisi Tetapkan Ibu Aniaya 2 Anak Kandung di Jakbar Jadi Tersangka

Beritacenter.COM - Seorang ibu berinisial LAF (38) yang tega melakukan penganiayaan kepada dua anak kandungnya..
1 hari yang lalu

Membongkar Modus "Penyelundupan" 3,4 Juta Ton Nikel Ke China

Revolusi kendaraan listrik menjadikan nikel sebagai mineral yang sangat berharga di masa depan. Logam berwarna putih..
1 hari yang lalu

Diterjang Angin Kencang, Kubah Masjid di Bojonegoro Terbang dan Jatuh Dekat Pemukiman Warga

Beritacenter.COM - Sebuah kubah masjid di Desa Sidomulyo, Kedungadem, Bojonegoro terbang diterjang angin kencang...
1 hari yang lalu

Hadiri Acara Ulang Tahun, Gadis ABG di Bengkulu Diperkosa Temannya hingga Histeris

Beritacenter.COM - Jajaran anggota kepolisian menangkap seorang pria berinisial YS (21). Warga Kabupaten Kepahiang..
1 hari yang lalu

Beginilah Cara Merubah Pecahan Campuran Menjadi Pecahan Biasa

Dalam mengubah pecahan biasa menjadi pecahan campuran ataupun sebaliknya, yaitu pecahan campuran menjadi pecahan..
1 hari yang lalu

Gerindra : Ada 12 Provinsi Minta Prabowo Maju Jadi Capres 2024

Beritacenter.COM - Ketua Harian DPP Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menyatakan, desakan dan dukungan agar Prabowo Subianto..
1 hari yang lalu

Terbongkar ! Begini Caranya Kirim WhatsApp saat HP dalam Keadaan Mati

Beritacenter.COM - Selama ini kalau mau kirim pesan WhatsApp disyaratkan HP dalam kondisi menyala. Tapi sekarang kamu..
1 hari yang lalu

MEMILIH MEREKA YANG BEKERJA DENGAN HATI

Tiga nama yang unggul dalam survei, Ganjar, Prabowo, Anies, memiliki peluang sangat besar untuk menang. Jika Pilpres..
1 hari yang lalu

TERNYATA Ini Fungsi Vitamin Dan Jenis Untuk Kesehatan Tubuh Kita...

Begitu banyak fungsi vitamin bagi kesehatan. Salah satunya adalah sebagai penunjang kinerja berbagai organ tubuh agar..
1 hari yang lalu

Beginilah Cara Simple Ganti Background Zoom di Hp dan PC

Ketika sedang melakukan video call, rapat, hingga belajar secara virtual melalui Zoom, ada kalanya pengguna merasa..

+Indeks
Buat Artikel






 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi