Minggu, 11 April 2021 - 01:16 WIB

Menerka Metamorfosis Jamaah Islamiyah

Oleh : Indah Pratiwi | Rabu, 07 April 2021 | 13:05 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin

Oleh : Noor Huda Ismail

Densus 88 panen besar pada Desember lalu. Pasalnya, 23 terduga teroris, termasuk pentolan Jamaah Islamiyah, Zulkarnaen alias Arif Sunarso dan Taufik Buluga alias Upik Lawangga, dibekuk sebelum mereka melakukan aksi.

Setelah hampir tiga dekade kemunculannya, inikah lonceng kematian bagi Jamaah Islamiyah (JI), sebuah organisasi lokal berjejaring global ini? Apakah pendekatan keamanan seperti penangkapan, pengadilan, dan penjara memadai menghadapi kecanggihan gerak anggota JI yang mampu berbaur di masyarakat dengan baik ini? Perlukah pergeseran paradigma melihat kelompok JI?

Kontra hegemoni
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa meminjam konsep ”hegemoni” yang ditawarkan pemikir kiri Antonio Gramsci (1891-1937). Dalam Prison Notes Book, Gramsci menuliskan, ketika ada sebuah kekuasaan yang dominan (hegemoni), dapat dipastikan akan muncul kekuatan lain untuk melawan kekuasaan itu.

Proses pertarungan legitimasi kekuasaan ini disebut oleh Gramsci sebagai counter hegemony. Untuk melakukan kerja ”kontra hegemoni” ini, bagi Gramsci, diperlukan tahapan dan tahapan penggunaan brute force atau kekerasan kepada lawan politik haruslah dilakukan setelah melakukan tahapan pembentukan kebudayaan.

Dengan kerangka pikir ”kontra hegemoni”-nya Gramsci ini, fenomena JI harus dibaca sebagai sebuah kompetisi narasi untuk menjawab pertanyaan fundamental berbangsa, seperti apa itu konsepsi ”negara dan warga negara”, bagaimana ”identitas dan kepemilikan (belonging)” serta ”loyalitas dan legitimasi” dalam bernegara itu dioperasionalisasikan.

Dengan mengusung narasi besar di atas, sulit rasanya membayangkan JI akan berakhir jika negara hanya mengandalkan pendekatan keamanan. Pendekatan keamanan tentu sangatlah penting. Namun, pendekatan ini hanya mampu meredam salah satu aspek gerakan JI, yaitu aspek militeristik mereka. Adapun aspek kultural JI yang dibalut narasi kontra hegemoni itu belumlah tergarap dengan baik.

Di sinilah letak daya lentur JI menghadapi pendekatan keamanan ini sangatlah jelas. Misalnya, setelah peristiwa bom Bali I tahun 2002, JI belajar bahwa penggunaan teror sebagai upaya mencapai tujuan politik adalah tindakan yang sangat merugikan JI. Dalam rapat evaluasi internal JI setelah bom Bali ini disepakati bahwa ”Indonesia belum siap dijadikan lahan jihad dan, jika dipaksakan, masyarakat luas justru akan memusuhi gerakan JI”.

Berangkat dari kesadaran itu, JI mengubah cara kerja mereka dengan mengusung konsep ”jihad tamkin”. Ini adalah sebuah konsep gerakan yang ingin mengambil alih negara dengan rancang gerak jangka panjang dengan memadukan antara pembinaan teritorial, seperti dakwah dan pendidikan, serta pembinaan individu, seperti pelatihan militer.

Dengan tangan dingin Para Wijayanto, pemimpin JI yang tertangkap pada pertengahan 2019 di Bekasi, konsep ”jihad tamkin” ini dioperasionalisasikan dengan penguatan ekonomi JI. Sebagai mantan pekerja profesional terdidik, Para Wijayanto membuka usaha-usaha legal, seperti bisnis kelapa sawit dan juga pengumpulan dana infak masyarakat melalui lembaga sosial sayap JI, seperti Yayasan Abdurahman bin Auf. Dalam aspek pendidikan, menurut salah satu petinggi Densus, paling tidak ada 63 sekolah yang hari ini diduga berafiliasi dengan JI.

Bisa dikatakan, JI di era Para Wijayanto ini bertransformasi menjadi organisasi ”terbuka” dan ”modern”. JI merangkul banyak elemen umat Islam, terutama di kalangan LSM. Pola pendekatan baru JI ini dipilih untuk menarik simpati masyarakat luas. Tak berlebihan jika kemudian Para Wijayanto menaksir anggota aktif JI yang tersebar di seluruh Indonesia bisa sampai 6.500 orang.

Aturan organisasi JI pun jelas: ”Jika mereka sudah bekerja, maka 5 persen dari pemasukan mereka akan dipotong oleh organisasi untuk ’gaji’ para petinggi organisasi. Namun, jika ada anggota yang belum ada pemasukan, maka JI akan membantu mereka agar bisa mandiri”.

Dalam aspek militer, Divisi JI bersandikan ”Tholiah” aktif menjaga aset JI yang tersisa, seperti sosok Zulkarnaen dan Upik Lawangga. Divisi ini juga melakukan pengembangan kapasitas (capacity building) kepada para anggota muda mereka dengan mengirimkan program ”magang jihad” mandiri ke Suriah. Artinya, tujuan ke Suriah itu bukan untuk menjemput kematian seperti diidam-idamkan sebagian pendukung Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) di sini, melainkan para kader JI ini harus memperluas jaringan internasional dan belanja ide baru.

Yang juga membedakan dengan pendukung NIIS, utasan JI ini gagah karena mereka membawa duit sendiri sehingga tidak didikte oleh kombatan di Suriah. Setelah magang kelar, mereka wajib mengembangkan apa yang mereka dapatkan itu di Indonesia di kemudian hari.

Dalam konteks ini, terlihat bahwa ada proses regenerasi dalam tubuh JI. Bahkan, JI mampu berkembang seperti korporasi yang sehat meskipun instrumen keamanan dan hukum disasarkan ke kelompok ini oleh negara. Wajar kemudian kita bertanya: ”Jangan-jangan, negara selama ini baru mampu menangani ’puncak gunung es’-nya saja?”

Pertanyaan ini dapat diartikan penangkapan yang terjadi itu hanya melemahkan anggota JI yang ”terlihat” karena mereka terlibat aksi langsung atau menyembunyikan informasi. Anggota JI yang ”tidak terlihat” belum dijamah sama sekali.

Lalu, apa iya mereka yang ”tidak terlihat” ini semua akan diproses hukum formal? Hari ini saja, penjara kita masih kelimpungan menghadapi masalah klasik overkapasitas dan minimnya SDM, terutama dalam hal rehabilitasi sosial tahanan. Belum lagi, JI bukanlah pemain utama dalam aksi terorisme di Indonesia. Bahkan, bisa dikatakan, secara organisasi JI sudah enggan menggunakan teror.

Ada pemain teror baru muncul sejak deklarasi NIIS tahun 2014. Mereka itu terkait dengan Jamaah Anshorut Daulah (JAD), organisasi pendukung NIIS di Indonesia. Salah satu ciri utama anggota JAD adalah mereka ber-”sumbu pendek”. Proses perekrutan anggota JAD bisa cukup lewat internet. Dengan pola ini, mereka siap beraksi. Bisa dikatakan, gerak mereka mirip lone wolf atau serigala kesepian yang siap menerkam siapa saja yang dianggap lawan.

Jika sudah di penjara, anggota JAD ini seolah-olah menjadi ”panitia masuk surga”. Mereka dengan mudah mengafirkan petugas keamanan, psikolog, dan pekerja sosial yang ingin menderadikalisasi mereka. Intinya, mereka adalah kluster yang sangat berbeda dengan kluster JI yang diisi individu terdidik, santun, dan terkesan menghargai para petugas.

Pergeseran paradigma
Melihat kompleksnya masalah terorisme di Indonesia ini, Kepala Densus 88 Irjen Martinus Hukom menawarkan pergeseran revolusioner cara pandang dan pendekatan terhadap isu ini. ”Mereka ini orang-orang baik yang selama ini menjadi korban struktural dari proses pembangunan kita,” ujarnya dalam sebuah konferensi zoom yang diadakan universitas ternama di Jawa Timur. ”Densus 88 tidak bisa bekerja sendiri. Perlu ada kerja hulu dan hilir,” tambahnya.

Dari pernyataan di atas, barangkali, Kepala Densus pun menyadari bahwa JI akan hanya melemah sesaat. Konsep yang dibangun JI menghadapi regenerasi sangat adaptif. Misalnya para tokoh JI pada dekade awal dipimpin alumnus Afghanistan dan dekade berikut dipimpin alumnus pelatihan militer Filipina selatan.

Tak tertutup kemungkinan JI ke depan dipimpin alumni yang saat ini telah kembali dari Suriah. Mereka inilah yang akan meneruskan estafet perjuangan para senior mereka yang hari ini telah tertangkap.

Pergeseran paradigma yang ditawarkan Kepala Densus ini akan menjadi harapan hampa jika justru para elite bangsa ini menjadi pengkhianat Pancasila nomor wahid dengan melanggengkan praktik Orde Baru, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ketika hal ini terus terjadi, jangan pernah bermimpi JI akan berhenti melakukan kompetisi narasi untuk menjawab pertanyaan fundamental berbangsa, terutama tentang identitas diri sebagai Muslim yang baik.

Sumber : Status Facebook Noor Huda Ismail, Visiting Fellow RSIS, NTU Singapura





Fokus : Terorisme


#Terorisme #Teroris #Radikalisme #Kelompok radikal #Kelompok teroris #Bahaya Laten Radikalisme #FPI Teroris #FPI Tukang Ngebom #FPI Ormas Teroris #FPI Ormas Radikal


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






6 jam yang lalu

Pemotor di Lumajang Tertimpa Batu Besar Imbas Gempa Malang

Beritacenter.COM - Seorang pengendara sepeda motor dilaporkan tertimppa batu besar akibat gempa berkekuatan 6,7..
8 jam yang lalu

Detik-Detik Robohnya Patung di Wahana Batu Secret Zoo Akibat Gempa Malang

Beritacenter.COM - Pasca-gempa berkekuatan 6,7 magnitudo yang mengguncang Malang, Jawa Timur, beredar sebuah video..
9 jam yang lalu

Getaran Gempa 6,7 Magnitudo di Malang Terasa Kuat hingga ke Bali

Beritacenter.COM - Gempa dengan kekuatan 6,7 magnitudo yang berpusat di Kabupaten Malang, Jawa Timur, dirasakan..
10 jam yang lalu

Dihantam Gempa 6,7 Magnitudo, Perkantoran-Masjid di Malang Rusak Parah

Beritacenter.COM - Gempa berkekuatan 6,7 magnitudo yang mengguncang Malang, Jawa Timur, mengakibatkan sejumlah..
11 jam yang lalu

Soal Vaksin, Indonesia Terbaik Se Asia Pasifik

Indonesia Pernah Dibully sebagai Kelinci Percobaan Vaksin Sinovac. Sekarang Dipuji Terbaik se-Asia Pasifik. Upaya..
12 jam yang lalu

Pertarungan AHY VS Moeldoko Berlanjut

Banyak orang membilang kubu Moeldoko akan menggugat kubu AHY di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dengan objek..
13 jam yang lalu

Rebut TMII Dari Tangan Cendana, PDIP : Hebat Jokowi Berhasil Selamatkan Aset Negara Yang Dikuasai Keluarga Soeharto

Beritacenter.COM-Presiden Joko Widodo (Jokowi) berhasil mengambil alih Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mendapatkan..
14 jam yang lalu

Inilah 4 Cara Atasi Bau Mulut di Pagi Hari

Beritacenter.COM - Bau mulut di pagi setelah bangun tidur memang sangat menganggu aktivitas kita sehingga kita tidak..
16 jam yang lalu

Warga Digemparkan Penemuan Jasad Pemuda Membusuk di Kuburan China

Beritacenter.COM - Warga Kelurahan Deli Tua Timur Kecamatan Delitua digemparkan dengan adanya penemuan sesosok mayat..
17 jam yang lalu

Diduga Masalah Warisan, Seorang Gadis di Bekasi Nekat Gantung Diri

 Beritacenter.COM - Seorang gadis berinsial W (24) ditemukan tewas dalam posisi tergantung di rumah kontrakan..
18 jam yang lalu

Akhir Pekan, Hujan Akan Guyur DKI Jakarta pada Siang dan Dini Hari

Beritacenter.COM - Hampir seluruh wilayah di Ibu Kota Jakarta akan diguyur hujan pada akhir pekan, Sabtu (10/4/2021)..
23 jam yang lalu

Pemerintah Atur Skenario Vaksinasi Covid-19 Selama Ramadhan

Beritacenter.COM - Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan..
23 jam yang lalu

Lipi Sebut Vaksin Merah Putih Siap Diuji ke Manusia Awal 2022

Beritacenter.COM - Pengembangan vaksin Covid-19 buatan dalam negeri terus dilakukan. Salah satunya Vaksin Merah..
23 jam yang lalu

Tak Cekatan Tangani Bencana, Kepala BPBD NTT Dicopot dari Jabatan

Beritacenter.COM - Bencana angin siklon tropis, banjir bandang, tanah longsor, dan gelombang pasang menerpa sejumlah..
1 hari yang lalu

Jokowi Tak Ajak KPK Tagih Utang BLBI Rp 108 Triliun

Beritacenter.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2021, membentuk Satgas..
1 hari yang lalu

Gempa Darat M 4,5 Guncang Pidie Jaya Aceh

Beritacenter.COM - Gempa berkekuatan 4,5 mengguncang Pidie Jaya, Aceh pada Jumat (9/4/2021), pukul 22.14. Pusat gempa..
1 hari yang lalu

Resahkan Warga, 6 Bocah yang Nyamar Jadi Pocong Diciduk Polisi

Beritacenter.COM - MN (16) pelajar asal Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Blitar digelandang ke Mapolsek..
1 hari yang lalu

Kunjungi Korban Banjir Desa Nele NTT, Jokowi : 56 Warga Meningga, 1 Belum Ditemukan

Beritacenter.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi warga korban bencana banjir bandang di Desa Nele, Flores..
1 hari yang lalu

Wapres Ma'ruf: Tarawih itu Sunah, Jaga Diri dari Penularan Covid-19 Wajib

Beritacenter.COM - Wakil Presiden (Wapres) RI, Ma'ruf Amin mengimbau kepada masyarakat yang berada di zona merah..
1 hari yang lalu

Bukan 'LALAPAN' Biasa ! Ternyata Daun Kemangi Bisa Cegah Penyakit Jantung-Kanker

Beritacenter.COM - Daun kemangi mungkin lebih dikenal sebagai lalapan yang menambah cita rasa makanan yang disantap...
1 hari yang lalu

KKB Papua Berulah Lagi, Tembak Guru SMP di Beoga hingga Tewas

Beritacenter.COM - Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kembali melakukan penembakan terhadap seorang guru SMP di..
1 hari yang lalu

Bill Gates Buka Suara Usai Tuai Kritikan Karena Punya Tanah Seluas Hong Kong

Beritacenter.COM - Land Report dalam laporannya menyebut Bill Gates sebagai pemilik lahan pertanian terbesar di..

+Indeks

 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi