Minggu, 13 Juni 2021 - 17:17 WIB

Cerita Professor Ngambekan

Oleh : Indah Pratiwi | Sabtu, 08 Mei 2021 | 14:15 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Seorang profesor, seorang guru besar universitas, menyatakan mengundurkan diri dan menyerahkan gelar profesornya kepada negara secara dramatis – lalu mempublikasikannya di media massa. Bikin upacara perpisahan dan nyinyir di sejumlah channel Youtube macam ibu ibu di kompleks. Alasannya, dia merasa gagal melaksanakan pendidikan, katanya. Buat saya, meski jarang terjadi, itu berita biasa saja. Di Indonesia ada 5.664 profesor. Kalau cuma mundur satu tak masalah.

Masalahnya adalah profesor itu merasa gagal mendidik wartawan! Mendidik pers. Dia mengaku gagal sebagai pengajar jurnalistik dan ilmu komunikasi selama 20 tahun lebih. Pada bagian ini saya tersengat. What?! Kok lebay amat?! Siapa dia ? Dia adalah Effendi Gazali. Lengkapnya

Prof. Drs. Effendi Gazali, M.Si., MPS.ID., Ph.D. Selama ini dia dijuluki pakar komunikasi, sering tampil di TVOne di ILC, penggagas acara “Republik Mimpi” juga. Selanjutnya saya sebut dia EG saja. “Sekarang saya mau mengundurkan diri, baik sebagai dosen di UI maupun di Universitas Prof Dr Moestopo Beragama,” kata EG sebagaimana diberitakan Liputan6.com. EG menyerahkan kembali gelar profesor dan guru besar bidang ilmu komunikasi kepada negara dan disampaikannya lewat kanal YouTube Refly Harun.

EG menjelaskan, alasan pengunduran dirinya karena merasa kecewa dengan dunia jurnalistik belakangan ini. “Padahal saya sudah mengajar jurnalistik dan komunikasi amat lama,” tutur EG, awal April 2021 ini .SEPENDEK pengetahuan saya, sejarah pers Indonesia maju dan terlibat dalam perjuangan serta mendirikan negara ini tidak bergantung kepada sosok akademisi, pakar komunikasi khususnya profesor. Baik satu profesor maupun banyak profesor. Maju mundur media massa di Indonesia ditentukan oleh pejuang pers. Di antara mereka adalah Adinegoro, H. Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, BM Diah dan Herawati Diah, Parada Harahap, Sumanang, PK Ojong, Abdul Azis dan Tuti Azis, Jacob Oetama, Goenawan Mohamad, Pia Alisyahbana, Lukman Umar, Dahlan Iskan, Ishadi Sk, dll. Dan tak ada satu pun bergelar profesor.

Dari mereka lahir ratusan bahkan ribuan wartawan hebat. Di kampus ibukota ada AM Hutasuhut, pendiri STP dan IISIP. Di UGM Jogya ada Ashadi Siregar yang melahirkan banyak wartawan. Di Akademi Wartawan Surabaya dan Univ Padjajaran banyak dosen publisistik yang melahirkan jurnalis hebat juga. Tak ada yang profesor. Di pelatihan jurnalis ada Amir Daud, Masmiar Mangiang, dan Prof. DR. Salim Said, dll. (Kalau Salim Said baru belakangan jadi profesornya.pen).

SEKARANG ada satu profesor di usia 54 tahun, yang merasa gagal mendidik wartawan sehingga saya pengin ketawa guling guling. Memangnya siapa dia ?! Emang siapa elu, EG?! Yang lebih menggelikan dan memalukan gagasan mundur itu bermula dari skandal.

Belum lama ini EG diperiksa KPK terkait kasus bansos. Itu lantaran dia memberi rekomendasi bansos pada UKM. Dan setelahnya EG merasa disudutkan oleh para jurnalis. Di-framing seolah olah dia terlibat kasus bansos – sebagaimana Mensos dan Menteri KKP, bossnya. EG pun mengaku dikepung puluhan berita/media yang memuat BAP (Berita Acara Pemeriksaan) palsu atau terperiksanya bohong (sehingga BAP itu harusnya direkualifikasi lalu masuk mesin penghancur kertas). Bahkan, beberapa media yang dilaporkan ke Dewan Pers sudah dinyatakan melanggar Kode Etik Jurnalistik.

Dari sana EG menyatakan, dia mundur dan menanggalkan gelar profesornya – yang didapat dari Universitas Moestopo (Beragama) lantaran merasa gagal mengajar jurnalisme dan komunikasi. Buat saya merasa dirugikan wartawan itu satu hal. Harus diakui banyak wartawan pemeras, gaya bodrex dan jadi makelar kasus (markus). Penyakit lama. Dan gilanya – seperti diungkapkannya di channel Youtube Ade Armando – wartawan pemeras itu ada di lingkungan KPK. Itu satu kasus. Laporkan saja ke Dewan Pers atau jadikan sebagai kasus hukum di kantor polisi dan pengadilan.

Tapi ketika dia menyebut dirinya merasa “gagal mendidik wartawan” adalah hal lain. Kasus lain. Saya tersinggung. Berat! Sebagai wartawan, saya – generasi saya maupun sesudahnya – tidak pernah dididik oleh EG dan tak pernah membaca satu pun bukunya. Khususnya yang bermuatan jurnalistik. Ada buku karya profesor yang saya baca yaitu Janet E. Steele – profesor jurnalisme di sekolah jurnalisme dan penulis di Universitas George Washington.

Kebetulan, dia menerbitkan buku tentang koleksi artikel surat kabar dari Indonesia. Dia orang Amerika, bukan Indonesia. Bukan profesor EG. Sejauh saya menyimak tak ada bukunya EG yang dijadikan pedoman kerja kewartawanan. Di ibukota maupun daerah. Saya pertaruhkan 38 tahun perjalanan saya di bidang tulis menulis sejak 1982 – untuk meneguhkan keyakinan – yang seyakin yakinnya – bahwa Effendi Gozali tak memberi kontribusi signifikan pada pers dan jurnalisme Indonesia. Bahwa dia pernah menjadi wartawan tabloid olahraga, itu dilakukan juga oleh banyak mahasiswa dan jurnalis otodidak.

Eros Djarot, orang film, musisi pembuat album “Badai Pasti Berlalu”, yang mendirikan tabloid “Detak” jauh lebih nyata di sejarah pers Indonesia dibanding EG yang “cuma” reporter – sorry to say – karena hasil liputan reporter masih harus melewati meja redaktur dan redpel. Insan pers, awak media, tidak hidup di ruang hampa. Sebagian dari mereka menjadi bejad karena berada di lingkungan bejad. Berkelindan. Praktisi hukum, agama, sekolah, industri medis, akademisi juga banyak yang bejad. Memperbaiki kehidupan pers tidak sepotong potong karena pada saat yang sama juga harus memperbaiki semua elemen bangsa. Tak terpisahkan.

EG berdalih dia sedang membongkar kasus ekpor bibit benur yang bernilai sepuluh triliun per tahun dan menghadapi mafia yang didukung politisi Senayan dan mengirim awak media untuk merusak integritasnya. Bahwa dia gagal berhadapan dengan mafia impor itu resikonya. Tapi menyerahkan gelar profesor dan guru besar karena gagalannya kok nampak kekanak kanakan. Halu. Bahkan ada dugaan trik market, cari cari perhatian. Atau menutupi rasa malu.

KONFLIK EG dan media bermula ketika dia ditunjuk menjadi staf ahli Kemaritiman, Kelautan dan Perikanan (KKP) era Edhy Prabowo. Penerus Menteri Susi Pudjiastuti. Tak lama kemudian beredar di media sosial daftar jurnalis kawakan yang diundang jalan jalan KKP era Susi Pudjiastuti, di antaranya Pemred Kompas TV Rosy Silalahi dan Pemred Tempo Wahyu Muryadi.

Dalam daftar itu, nama-nama pimpred media dibagi dalam beberapa kelompok dengan tujuan negara yang berbeda. Di antaranya Amerika Serikat, Prancis, Italy, Jepang, Uni Emirat Arab, Norwegia, Paris, Polandia, Monaco serta, Denmark.Dalam daftar peserta kunjungan KKP ke luar negeri tersebut diikuti nama jurnalisnya. Selain Kompas, Tempo, juga ada Metro TV, Detik, Kumparan, TVOne dan Jakarta Post, yang lengkap dengan biaya yang nilainya puluhan hingga ratusan juta per orang.

Isu dan frame yang dibangun lewat selebaran itu – Susi ngetop dan jadi “media darling” bukan karena terobosannya melainkan karena banyak ngajak jalan jalan wartawan ke luar negeri! Belakangan dalam debat di TV One EG mengaku dialah meminta data itu ke humas KKP untuk “penelitian” tapi mengelak menyebarkan dan membocorkannya di medsos . Intinya sebelum EG kena “framing” dia duluan yang membuat “framing” yang mendeskreditkan sejumlah jurnalis senior. Meski EG sumpah sumpah tidak mengakuinya. Karma gak pakai lama. Biasa bikin ‘framing’ kena ‘framing’. Lalu ngambek. Merasa gagal. Dan kembalikan gelar profesornya oleh dirinya sendiri. Tragis dan lucu. ***

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito





#Professor Ngambekan #Effendi Gazali Professor Baper #Effendi Gazali


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






1 jam yang lalu

Perempuan Palestina Tewas Ditembak Petugas Kemanan Israel di Pos Pemeriksaan

Beritacenter.COM - Penjaga keamanan Israel dan menewaskan seorang perempuan Palestina pembawa pisau di pos..
1 jam yang lalu

Pemerintah Perpanjang Diskon PPnBM 100 Persen untuk Pembelian Mobil Baru

Beritacenter .COM - Pemerintah resmi memperpanjang masa diskon pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) 100 persen..
2 jam yang lalu

Nahas, Seorang Montir Tewas Dilindas Truk yang Diperbaikinya

Beritacenter .COM - Nasib nahas menimpa seorang montir di bengkel yang berada di kawasan Kebun Handil, Jelutung,..
3 jam yang lalu

Resahkan Warga, Preman Jalanan di Rangkasbitung Diringkus Polisi

Beritacenter.COM - Sebanyak 3 preman dan pengamen jalanan di Rangkasbitung digelandang Tim Serigala Polres..
8 jam yang lalu

Kapolri dan Panglima Rangkul Tokoh Agama Bangkalan Tekan Penyebaran Covid-19

Beritacenter.COM - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto merangkul para..
10 jam yang lalu

Hamas Tunjuk Kepala Pemerintahan Baru di Jalur Gaza Menggantikan Mohammed Awad

Beritacenter.COM - Gerakan Perlawanan Islam Palestina Hamas dilaporkan telah menunjuk seorang pejabat baru untuk..
11 jam yang lalu

Dua Kapal Illegal Fishing Kembali Ditangkap di Laut Sulawesi dan Selat Malaka Berkat Sistem Pemantauan dan Intercept KKP

Beritacenter.COM - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) benar-benar tidak memberikan ampun para pencuri ikan di..
22 jam yang lalu

Hebat ! Ini 7 Cara Mudah Obati Pilek Dalam Sehari

Beritacenter.COM - Saat cuaca yang sedang ekstrim, beberapa penyakit seperti pilek dan batuk sering menghampiri. 7..
23 jam yang lalu

Polisi Amankan 22 Preman yang Kerap Lakukan Pungli ke Sopir Truk di Jakbar

Beritacenter.COM - Polisi menangkap 22 orang preman yang kerap melakukan pungutan liar ke sopir truk di wilayah..
1 hari yang lalu

Polisi Gerebek Kampung Narkoba di Sumsel, 17 Orang Ditangkap

Beritacenter.COM - Jajaran anggota kepolisian melakukan penggerebekan ke sebuah kampung narkoba di Musi Rawas Utara..
1 hari yang lalu

Truk Muatan BBM Hantam Truk di Exit Tol Rawamangun, 1 Orang Luka Parah

Beritacenter.COM - Terjadi kecelakaan di exit Tol Rawamangun arah Priok, pada (12/6/2021) sekitar pukul 11.40 WIB...
1 hari yang lalu

Donnarumma Selangkah Lagi Gabung PSG

Beritacenter.COM - Penjaga gawang tim nasional (Timnas) Italia, Gianluigi Donnarumma, nampaknya bakal segera..
1 hari yang lalu

6 Manfaat Konsumsi Rumput Laut untuk Kesehatan

Beritacenter.COM - Salah satu makanan dengan rasa gurih alami yang bisa ditemui pada berbagai jenis makanan adalah..
1 hari yang lalu

Ratusan Santri Ponpes di Pekanbaru Jalani Vaksinasi Covid -19

Beritacenter.COM - Sebanyak 150 orang terdiri dari santri, guru dan pengurus di Pondok Pesatren (Ponpes) Miftahul..
1 hari yang lalu

Kenalan Lewat Game Online, Seorang Pemuda di Tanggerang Perkosa ABG

Beritacenter.COM - Seorang pemuda bernama Kevin (17) diamankan satreskrim Polsek Pasar Kemis Polresta Tanggerang..
1 hari yang lalu

PERPRES JOKOWI (bukan) PERMEN PRABOWO

Sejatinya, kita ini seperti buih di lautan, selalu terombang ambing dalam ketidak pastian dan hanya selalu terbawa...
1 hari yang lalu

Berhaji Tanpa ke Tanah Suci

Hampir dapat dipastikan, pengumuman Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas pada Kamis (3/6/2021) lalu mengenai pembatalan..
1 hari yang lalu

Teladan Moral Buya Syafii Maarif

Akhir Mei kemarin, pada tanggal 31, Buya Syafii Maarif genap berusia 86 tahun. Momen hari kelahiran, menurut saya..
1 hari yang lalu

Masyarakat Bungkus

Tak cukup gelar Doktor honoris causa, sekarang ada profesor honoris causa untuk Megawati oleh universitas resmi...
1 hari yang lalu

Astaga! Tak Kuat Lihat Wanita Cantik, Pria Pengangguran Perkosa di Masjid

Beritacenter.COM - Aksi bejat dilakukan oleh seorang pengangguran bernama Wawan Harap (19) terhadap seorang wanita..
1 hari yang lalu

Gempa Bumi M 4,9 Terjadi di Pasaman Sumbar

Beritacenter.COM - Gempa bumi magnitudo (M) 4,9 mengguncang Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar). Gempa tersebut berpusat..
1 hari yang lalu

Ini Alasan Georginio Wijnaldum Gabung PSG

Beritacenter.COM - Paris Saint-Germain (PSG) resmi mendatangkan Georginio Wijnaldum dari Liverpool pada Kamis..

+Indeks

 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi