Rabu, 20 Oktober 2021 - 17:54 WIB

DEMOKRAT (makin) TERJERAT

Oleh : Indah Pratiwi | Senin, 02 Agustus 2021 | 08:34 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin

Ditulis Oleh : Karto Bugel

Sedemikian jumawanyakah mereka sehingga selalu merasa paling benar?

Sehebat apakah mereka dulu sehingga tak ada lagi benar pada pihak lain dan mereka kini sibuk untuk hanya selalu mencela?

Atau, apakah ini justru alibi dibuat karena ingin bersembunyi? Karena tak ada lagi tempat aman tanpa mereka berdalih?

Sebagai kendaraan politik, Demokrat adalah partai luar biasa hebat. Tak ada satu pun partai politik di negeri ini sanggup mengimbangi kiprahnya.

PDIP pada pemilu 1999 adalah pemenang pemilu namun partai itu tak mampu membawa sang Ketum menjadi Presiden. Bu Mega harus cukup puas duduk menjadi Wapres.

Demokrat sebagai Partai baru yang berada pada posisi ke 4 dibawah Golkar, PDIP dan PPP serta hanya mendapat 7,4% justru langsung mengantarkan SBY menjadi Presiden RI yang ke 6 pada pemilu 2004.

Pun pada Pemilu 2009, Demokrat melaju tanpa ada lagi yang dapat menghalanginya. Partai ini langsung berada pada posisi puncak dengan meraih suara terbesar dengan 20,81% dan sekaligus memperpanjang masa jabatan Presiden SBY hingga 2014.

"Kenapa langsung terjungkal pada 2014?"

Penarikan AHY dari militer untuk maju sebagai Cagub DKI pada 2017 bukan mustahil adalah sebagai cara untuk mendongkrak kembali suara yang hilang saat kalah total pada pemilu 2014 di mana PDIP mengantarkan Jokowi menjadi Presiden dan Demokrat merosot pada urutan 4.

Berharap menang dan kemudian nama Demokrat menjulang, AHY yang digadang itu justru langsung kalah pada putaran pertama dan Demokrat makin rontok. Pemilu 2019 adalah buktinya. Partai itu ditinggal para pendukungnya hingga hanya menempati urutan buncit yakni posisi ke 7 dari 9 partai yang hadir di Senayan.

"Apakah pengangkatan AHY sebagai Ketum adalah salah satu usaha agar Demokrat mampu bangkit lagi?"

Bila pilihannya adalah harus anak SBY, Ibas seharusnya lebih paham bagaimana mengelola Partai berlambang Mercy itu. Paling tidak, saat proses partai itu lahir, Ibas ada dan turut menunggu meski belum banyak berperan.

Paling tidak, Ibas tahu dengan baik seluk beluk partai itu berikut lebih dan kurangnya karena dia pernah menjadi sekjend sekaligus beberapa kali telah menjadi anggota DPR.

Paling tidak, demikianlah bisik-bisik terdengar dari internal partai itu ketika AHY tiba-tiba bisa langsung menjadi Ketum tanpa sejarah pernah turut serta membangunnya.

Namun, isu bahwa posisi dia tak aman dari banyak kasus hukum dengan seringnya nama itu disebut oleh Nazarudin, Anas Urbaningrum, hingga Yulianis dan banyak kader Demokrat pada sidang kasus korupsi oleh KPK, nama itu dianggap tak aman.

Atas sanderaan isu itu, pantas kiranya bila dia dianggap bukan orang paling tepat untuk membesarkan apalagi melindungi Partai. Bukan mustahil, dialah yang kini justru harus berlindung di sana bukan? Entahlah..,itu semua masih abu-abu dan masih butuh banyak pembuktian.

Jadilah AHY Ketua Umum Demokrat. Apakah dia akan mampu, lihat saja kiprah partai itu sejak dia menjabat Ketum. Yang jelas, banyak kader senior sudah keluar.

Yang jelas, para kader senior yang tak suka pada cara penunjukan AHY menjadi Ketua Umum telah mendorong seorang Moeldoko menjadi kutub berbeda atas peran AHY dengan membuat Demokrat tandingan.

"Bukankah AHY adalah produk militer yang sarat prestasi? Emang salah apa kalau menjadi Ketua Umum Partai?"

Ketika ukuran Soeharto kita pakai, kita paham bagaimana pangkat dan jabatan militer duduk pada jabatan sipil. Soeharto tercatat sebagai Presiden yang paling sering mengangkat militer pada jabatan sipil dari Bupati, Walikota dan Gubernur hingga Jaksa Agung dan Menteri.

Aturan bakunya tak ada. Namun seorang Dandim yang biasanya berpangkat Letkol atau minimal Mayor sering dia angkat sebagai Bupati atau Walikota. Pun militer berpangkat Brigjen hingga Letjen biasanya akan duduk sebagai Gubernur.

Dulu, Gubernur DKI yang berasal dari militer, biasanya berpangkat Letjen, Gubernur Jawa Tengah atau Jawa Timur Mayjend dan Propinsi yang lebih kecil lagi sering diperuntukkan mereka yang berpangkat Beigjend bahkan terkadang Kolonel.

Itu masuk akal karena mereka yang berpangkat Mayjen misalnya, biasanya pernah menjadi Panglima Kodam atau jabatan setara dimana kewenangan wilayahnya juga hampir serupa dengan wilayah kewenangan Gubernur misalnya.

Wawasan dan pengalaman yang bersangkutan memimpin sebuah wilayah atau kesatuan di militer terkait erat dengan luasan wilayah bagi jabatan sipil yang akan didudukinya.

Pada AHY, pangkat terakhirnya adalah Mayor dan jabatan tertingginya adalah Komandan Batalyon. Dalam level, itu hampir mirip atau setara dengan Komandan Kodim.

Bukan Ketua Umum Partai akan diberikan oleh Soeharto pada pengalaman dan pangkat Mayor pada jaman beliau berkuasa, Bupati atau Walikota dengan level tertentu saja dia akan diberi jabatan. Itu setara dengan pemahaman territorial yang dia kuasai.

Pada posisi Ketua Umum Partai, pak Harto pernah merestui Amir Murtono, Sudharmono dan Wahono sebagai ketua Umum Golkar. Hanya Amir Murtono saja yang berpangkat Mayor Jenderal, dua yang lainnya adalah Letnan Jenderal. Itu sangat terkait dengan dia yang duduk pada level Ketua Umum Partai dimana logikanya harus pernah menjadi pemimpin pada jabatan lain yang selevel. Ada pengalaman setara sebagai dasar bagi rujukan.

"Tapi ini kan bukan jaman Soeharto?"

Iya, makanya bisik-bisik di dalam sana terdengar lebih tepat bila Ibas yang menjadi Ketua Umum. Meski lebih muda namun pemahaman teritorial pada lingkup partai dan pengalaman Ibas sebagai Sekjen maupun jabatannya sebagai anggota DPR 3 periode adalah alasan logis yang mudah diterima.

Berbeda misalnya bila AHY pernah menjadi Walikota dan kemudian menjabat Gubernur, kapasitas jabatan tertingginya sebagai Danyon yang pernah diraih tak lagi akan menjadi olok-olok sebagai level dalam perbandingan.

"Apa buktinya AHY belum pantas menjadi Ketua Umum partai?"

Selain tanda-tanda terpecahnya partai saat dia terpilih sebagai Ketua, tumpul dan tak terarah gaya serangan pada pemerintah ketika berdiri sebagai partai oposisi tercecer di mana-mana.

Kritikan yang dilakukan pada pemerintah sepertinya justru merugikan partainya sendiri. Di saat negara gontai dan kelelahan menangani pandemi, partainya justru terlihat bersorak gembira.

Mereka juga terlihat terlalu bersemangat untuk berusaha mendorong jatuh pemerintah yang sedang berjibaku demi keselamatan banyak pihak. Ini tak menimbulkan respect masyarakat.

Di saat partai lain atau kader dari banyak partai yang lain membantu rakyat yang sedang berjuang di tengah pandemi sebaliknya partai Demokrat seolah menikmati situasi itu.

Itu terlihat dari statement banyak pengurus partai. "Lelahmu adalah lelahku juga" tak terdengar sebagai hiburan namun lebay.

"Indonesia Failed State" terdengar seperti menjadi harapan dibanding kritik ingin disampaikan.

Mereka memilih narasi mempertanyakan kemampuan negara dalam mengatasi penyebaran Coronavirus Diseas. Mereka mengkhawatirkan rakyat tidak bisa diselamatkan dan Indonesia menjadi bangsa yang gagal dalam menangani pandemi Covid-19.

Mereka lebih sibuk membuat narasi dibanding aksi. Padahal, sebagai oposisi yang baik, membantu dan menjadikan diri sebagai pihak penolong manakala pemerintah berkuasa tampak loyo adalah cara paling elegan.

Paling tidak, rakyat akan langsung menerima akibat positif dari sikap oposisinya.

Di mana letak oposisinya? Manakala negara lelah, oposisi masih terlihat bugar dalam semangat dan hadir di tengah rakyat yang membutuhkannya.

Manakala negara kedodoran memberi bantuan, mereka hadir sebagai solusi dengan bantuan yang tersebar secara massif.

Manakala negara tak mampu mendorong pemda yang terkesan ragu dalam menyalurkan bantuan pada rakyat, melalui banyak pemda di mana mereka menang, mereka hadir memberi warna berbeda.

Itu hal baik yang akan dilihat dan diingat oleh rakyat. Itu makna oposisi dalam arti positif dan pasti menguntungkan posisinya.

Ketika mereka beroposisi, masa pandemi adalah masa krusial bagi pemerintah, namun itu adalah masa emas bagi oposisi yang peka.

Pandemi tak selalu hadir ralam kurun waktu tertentu, manfaatkan dengan kebaikan..!

Pandemi adalah tentang kesulitan, maka hadirlah dengan solusi. Pandemi adalah saat menyedihkan, maka hadirlah dengan membawa kegembiraan. Pandemi adalah masa ketidak pastian, maka hadirlah sebagai pembawa harapan.

Itulah makna oposisi ketika pemerintah sebagai pemangku kebijakan terlihat gontai dan tak berdaya. Bukan justru mendorong jatuh. Bukan justru membuat kacau karena penerima akibat adalah rakyat bukan pejabat.

Apa yang kini justru diingat oleh rakyat adalah ajakan demo "Jokowi End Game" seolah berasal dari ide mereka. Padahal, ini belum dapat dibuktikan. Demokrat belum tentu berada dibalik seruan demo tersebut.

Demokrat sudah merugikan dirinya sendiri dan rakyat berpaling darinya adalah akibat logis dari cara yang mereka pilih. sekali lagi, itu karena Demokrat dibawah AHY tak pintar dan tak peka untuk mencoba hadir dengan aksi nyata namun memilih narasi buta.

Akidi Tio telah memberi warna baru dalam kemanusiaan dengan menyumbang 2 triliun rupiah dan masyarakat terperangah dalam bungah. Sosok seperti itulah yang seharusnya hadir ketika rakyat gundah. Berita seperti itulah yang akan membawa perubahan. Di sana, ada kembali tumbuh rasa optimis bahwa duka bersama ini akan segera usai.

Kesempatan emas itu terpaksa diambil oleh Akidi Tio yang tak butuh balasan atas jasanya. Keluarga itu hanya harus mengambil apa yang seharusnya milik dan kewajiban mereka yang selalu bercerita sebagai wakil rakyat namun tak ada aksi segera terdengar.

Bisakah anda bayangkan apa yang akan terjadi bila keluarga Akidi Tio itu adalah keluarga Cikeas?

Dijamin, pada 2024 nanti, posisi partai yang sempat tenggelam pada 2019 itu akan kembali moncer. AHY pun akan otomatis memiliki peluang menjadi kandidat yang akan diperhitungkan.

Kini harapan itu semakin mustahil. Cara dia memimpin partainya terlihat semakin jauh dari pantas sebuah partai seharusnya hadir.

Demokrat terlihat semakin terjerat.
.
.
RAHAYU
.
Karto Bugel





Fokus : Keluarga Cikeas


#Partai Demokrat #Keluarga Cikeas #Demokrat #Demokrat Partai Tukang Nyinyir #Demokrat Partai Tukang Korupsi #Demokrat Partai Tukang Bikin Hoaks #Demokrat Partai Nyungsep


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






4 jam yang lalu

Soroti Keseimbangan Kesehatan-Ekonomi, Jokowi : Krisis dan Pandemi Seperti Api

"Krisis, resesi, dan pandemi itu seperti api. Kalau bisa, kita hindari. Tapi jika tetap terjadi, kita pelajari untuk..
5 jam yang lalu

Temui Keluarga Bomber Bunuh Diri, Menteri Taliban Puji Pengorbanan Para 'Martir'

Beritacenter.COM - Tokoh senior Taliban, Sirajuddin Haqqani, memuji aksi para pengembom bunuh diri, yang disebutnya..
6 jam yang lalu

Merasa Dirugikan Pasca Pemecatan, Viani Limardi Gugat PSI Rp1 Triliun ke PN Jakpus

(Alasan pemecetan karena penggelembungan dana reses) Ini telah merugikan karier saya, nama keluarga besar saya,..
7 jam yang lalu

Kebakaran Diduga Karena Korsleting Listrik Hanguskan 20 Kios di Pasar Kayu Jati Jaktim

Beritacenter.COM - Kebakaran menghanguskan sedikitnya 20 kios di Pasar Kayu Jati, Rawamangun, Jakarta Timur...
8 jam yang lalu

PDIP Apresiasi 2 Tahun Jokowi Ma'ruf : Stabilitas Politik Terjaga-Persatuan Kokoh

Beritacenter.COM - Hari ini, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan wapres Ma'ruf Amin genap memasuki usia..
9 jam yang lalu

Liverpool Berhasil Taklukan Atletico Madrid di Liga Champions 2021

Beritacenter.COM -  Liverpool berhasil merebut kemenangan atas Atletico Madrid di laga lanjutan Grup B Liga..
10 jam yang lalu

Waspada !!! Jakarta Diprediksi Akan Diguyur Hujan Disertai Petir Mulai Siang hingga Malam Hari

Beritacenter.COM - Tiga wilayah di Ibu Kota Jakarta diprediksi akan turun hujan disertai kilat mulai dari siang hari..
16 jam yang lalu

Ini Segudang Manfaat Wortel Bagi Kesehatan Tubuh

Beritacenter.COM - Wortel adalah salah satu sayuran yang digemari oleh banyak orang. Pasalnya, di balik kerenyahan..
17 jam yang lalu

Ini Alasan BPBD Bangli Larang Pendaki Naik ke Gunung Abang

Beritacenter.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangli mengimbau kepada para pendaki agar..
18 jam yang lalu

Polisi Amankan 4 Pelaku Tawuran di Lenteng Agung

Beritacenter.COM - Jajaran anggota kepolisian menangkap 4 pemuda yang diduga terlibat dalam tawuran di Lenteng Agung,..
19 jam yang lalu

Terobsesi Video Porno ! Bocah 15 Tahun di Sumsel Nekat Perkosa Adik Kandung

Beritacenter.COM - Seorang pemuda berinisial UNS (15) di Kecamatan Karang Dapo, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera..
20 jam yang lalu

Lima Pilar Tokoh NU

Ada lima tokoh pada awal berdirinya NU yang karakternya akan selalu ada dalam perkembangan NU. Mari kita simak!..
20 jam yang lalu

Masuk Musim Hujan, PKB dan PPP : Drama Politik Banjir Jangan Terulang ya Pak Anies

Beritacenter.COM - Fraksi PKB-PPP DPRD DKI Jakarta mempertanyakan program penanggulangan banjir di Ibu Kota di bawah..
21 jam yang lalu

Terungkap ! Ini Motif Pelaku Nekat Bunuh Penjaga Pantai Anyer secara Kejam

Beritacenter.COM - Polisi mengungkapkan motif pelaku nekat membunuh penjaga Pantai Anyer, Jujut Armana (27). Polisi..
21 jam yang lalu

Bermedia sosial dengan Santun dan Aman

Setiap tahunnya, warganet merayakan Hari Media Sosial yang jatuh pada 10 Juni. Tagar dengan #HariMediaSosial pun..
21 jam yang lalu

Tak Pandang Bulu ! Polri Copot Kapolsek Parigi Sulteng Usai Kirim Chat Mesum ke Anak Tersangka

Beritacenter.COM - Kapolsek Parigi, Sulawesi Tengah, Iptu IDGN dicopot dari jabatannya lantaran diduga mengirim chat..
22 jam yang lalu

Mantap ! PT Ajinomoto Manfaatkan Drone untuk Penyemprotan Pupuk

Beritacenter.COM - PT Ajinomoto Indonesia menghasilkan produk samping berupa pupuk Ajinomoto Foliar Fertilizer atau..
22 jam yang lalu

Nyuks...! Kita Kupas Manfaat Air Garam

Selama ini, sebagian orang banyak yang memanfaatkan air garam sebagai obat kumur untuk mengatasi bau mulut hingga..
1 hari yang lalu

Beginilah Cara Ampuh Hadapi Pasangan Selalu Diam Saat Marah

Memiliki pasangan yang selalu diam saat marah memang bisa menjadi hal yang membingungkan. Usaha yang kamu lakukan..
1 hari yang lalu

Dosis Ketiga Vaksin COVID 19, Upaya Tambahan untuk Melindungi Tubuh

Dosis ketiga vaksin COVID-19 merupakan vaksin tambahan yang diberikan kepada seseorang setelah ia menerima dosis..
1 hari yang lalu

Indonesia Siap Hadapi Gugatan Uni Eropa Soal Nikel

Uni Eropa lewat WTO menggugat Indonesia perihal nikel. Semua ini karena kebijakan yang dikeluarkan Pak Jokowi. Semua..
1 hari yang lalu

Terima Kasih, Pembenci Jokowi

Pak Jokowi dibilang jenius, banyak yg sewot. Kenapa sih kalau hal baik yg di sematkan ke Jokowi banyak yg iri, kan..

+Indeks
Buat Artikel






 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi