Kamis, 19 September 2019 - 23:19 WIB

Mengingat Catatan Simposium Tragedi 1965

Oleh : Indah Pratiwi | Selasa, 19 April 2016 | 01:00 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin


Beritacenter.COM - Sudah lebih dari 50 tahun tragedi 1965 berlalu, namun aromanya masih terasa di bumi pertiwi.

Selama 50 tahun itu pula, luka tragedi yang diperkirakan memakan 500 korban jiwa masih menganga lebar, dibiarkan, tanpa penyelesaian. Setiap kelompok yang terlibat asik dengan kebenaran yang mereka pegang sendiri.

Pada 18 April 2016, Simposium Nasional Tragedi 1965 digelar di Jakarta, dihadiri oleh 200 peserta yang terdiri dari akademisi, pegiat dan tokoh hak asasi manusia, korban pelanggaran HAM berat dan organisasi korban, wakil partai politik, pelaku serta wakil dari lembaga-lembaga pemerintah.

Hari pertama pembukaan, terlihat tempat itu dijaga ketat, Menteri Politik Hukum dan Keamanan Luhut Panjaitan, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Kapolri Badrodin Haiti serta Jaksa Agung M. Prasetyo menghadiri pembukaannya.

Gubernur Lemhanas Agus Widjojo yang juga menjadi pengarah acara tersebut mengatakan simposium ini menggunakan pendekatan sejarah.

"Pendekatan ini lebih objektif, dan komprehensif. Jadi kita seperti memutar film mengenai peristiwa 65, kita akan mendengarkan apa yang terjadi sebelum peristiwa dan setelah peristiwa tersebut," kata Agus, Jakarta, Selasa(19/4).

Menurut dia peristiwa pembantaian besar itu, tidak turun tiba-tiba dari langit, ada sesuatu yang mendasarinya dan dilakukan secara sistemik.

Dia mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang melihat masa lalu dan mengakui kesalahannya.

Simposium tersebut dihadiri 200 orang dari segala kalangan, baik korban, pelaku, aktivis, organisasi masyarakat dan lainnya.

Luhut Pandjaitan mengatakan simposium ini adalah bentuk komitmen pemerintah untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM di Indonesia.

Ada keinginan pemerintah menyelesaikan masalah HAM harus dituntaskan, kami melihat penyelesaian Tragedi 65 ini menjadi pintu masuk menyelesaikan kasus yang lain," kata Luhut.

Pada pembukaan, salah satu orang yang terlibat peristiwa tersebut, Letjen TNI Purnawirawan Sintong Panjaitan mengatakan jumlah korban tidak sampai jutaan jiwa.

Sintong yang mantan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), pada Simposium Nasional 1965 tersebut, mengemukakan, waktu itu Presiden Soekarno membentuk Komisi Pencari Fakta untuk menghitung jumlah korban pembantaian.

"Mayjen Soemarno yang waktu itu sebagai Menteri Dalam Negeri menjadi ketuanya melaporkan korban ada 80 ribu orang, dan angka 500 ribu pertama kali keluar dari Oei Tjoe Tat (pembantu Presiden Soekarno)," kata dia.

Sintong menilai angka-angka itu tidak masuk akal karena RPKAD waktu itu hanya memburu para pemimpin PKI saja.

"Memang benar kami diturunkan ke Jawa Tengah, waktu RPKAD dibantu oleh pemuda Ansor, Muhammadiyah, tetapi kami hanya menangkap para tokohnya saja," kata dia.

Dia mengatakan para tokoh yang ditangkap ada dua kategori yaitu pasif dan aktif. Ia mengaku jika tokoh itu pasif maka mereka akan dilepaskan.

"RPKAD tidak hanya melakukan operasi, tapi RPKAD harus melindungi masyarakat juga, baik PKI atau tidak," kata Sintong.

Peneliti LIPI dan sejarawan Indonesia Asvi Warman Adam mengatakan Sintong tidak salah jika yang menjadi korban di tangan RPKAD tidak sampai ratusan ribu orang, tetapi RPKAD melatih pemuda-pemuda untuk "bersih-bersih" PKI pada waktu itu.

"RPKAD jumlahnya waktu itu sedikit, tetapi mereka juga melatih pemuda-pemuda untuk menumpas PKI, sehingga menurut yang saya ketahui jumlahnya memang sampai 500 ribu orang," kata dia.

Menurut dia tragedi 1965 adalah kasus kekeliruan kebijakan pemerintah yang bisa dituntut di Pengadilan HAM Adhoc.

Hak itu dilihat dari jangka waktu, tempat, pelaku dan korban yang jelas yakni komando pengasingan sejumlah tokoh ke Pulau Buru dalam rentang tahun 1965 hingga 1975.

Dia juga menawarkan salah satu solusi untuk menyelesaikan kasus ini adalah rehabilitasi, maksud rehabilitasi di sini adalah penyetaraan dengan warga Indonesia lainnya, karena tragedi 1965 termasuk pelanggaran HAM berat, dan orang-orang yang masuk golongan PKI atau diduga PKI telah didiskriminasi.

Siapa yang perlu direhabilitasi? "Soekarno dan korban G30S," kata Asvi.

Merehabilitasi Soekarno tidak cukup hanya menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada Soekarno tetapi juga membenarkan jejak sejarah peristiwa tersebut, yang selama ini sering dikonstruksi ulang sesuai dengan perspektif pemenang.

Seperti, Tap MPRS No. 33 Tahun 1967 menyatakan Presiden Soekarno ikut membantu gerakan PKI.

"Tidak mungkin Presiden ikut membantu gerakan yang akan menggulingkan dirinya sendiri, rehabilitasi untuk Soekarno tidak hanya memberinya gelar Pahlawan Nasional. tetapi juga meluruskan kembali sejarah yang terjadi pada waktu itu," ucapnya, menegaskan.

Selain itu, para korban juga harus direhabilitasi dengan menghapuskan diskriminasi pada anak turunan orang yang diduga PKI.

Menurut dia pemerintah harus bertanggung jawab meminta maaf kepada para korban.

Ketua Sekber 65 Winarso mengatakan, pemerintah Indonesia tidak perlu meminta maaf mengenai peristiwa tersebut, tetapi pemerintah perlu memenuhi hak-hak para korban.

"Kita tidak perlu memaksakan pemerintah untuk meminta maaf, karena struktur kebudayaan kita berbeda, yang penting mereka bertanggung jawab untuk memenuhi hak korban, seperti pengakuan negara atas pelanggaran HAM berat pada 1965-1966," ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga perlu merehabilitasi nama baik para korban serta memberikan kompensasi sesuai kemampuan negara.

"Sebenarnya secara tidak langsung pemerintah telah memberikan kompensasi seperti dana kesehatan, hal yang sekecil ini sudah merupakan hal besar bagi korban," kata dia.






Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






5 menit yang lalu

Jadi Tersangka Suap, Imam Nahrawi Pamit Dari Gedung Menpora

Beritacenter.COM - Usai jadi tersangka dalam suap pemberian dana hibah Komite Olahraga Nasional (KONI), Imam Nahrawi..
1 jam yang lalu

4 KKB di Pidie Tewas Usai Baku Tembak Dengan Polisi

Beritacenter.COM - Sebanyak empat orang kelompok kriminal bersenjata (KKB) tewas usai baku tembak dengan petugas..
1 jam yang lalu

DI Tangan KPK "Kasus Korupsi" Anies Baswedan "HILANG", Kok Bisa....?

Beritacenter.COM - Seperti kata pepatah mengatakan tak ada asap jika tak ada api. Begitu pula dalam dunia politik..
3 jam yang lalu

Ada Apa Sebenarnya Dengan KPK?

Apa jadinya jika kejahatan korupsi antara kepentingan Kelompok Oligarkhi bersinergi dengan kepentingan Kelompok..
3 jam yang lalu

Diduga Rem Blong, Truk Seruduk Bengkel dan Rumah di Sukabumi

BeritaCenter.COM - Kecelakaan truk yang menabrak bengkel sekaligus rumah warga memakan satu korban jiwa. Korban..
4 jam yang lalu

BI Turunkan Bunga KPR dan Kendaraan

Beritacenter.COM - Bank Indonesia(BI) akan melakukan pelonggaran Loan to Value(LTV) atau kredit untuk kendaraan dan..
5 jam yang lalu

Uang Puluhan Juta Minimarket Digondol Rampok Bersenjata

Beritacenter.COM - Aksi perampok minimarket yang terjadi di Pantura, Cirebon, Jawa Barat kian meresahkan warga..
5 jam yang lalu

Netizen : Benarkah Ada Taliban Di #KPK

Beritaceter.COM - Isu Polisi Taliban yang berada ditubuh KPK itu sangat membahayakan. Polisi Taliban siapa? Kubu..
6 jam yang lalu

Hutan dan Lahan Gunung Semeru Terbakar Hingga Kalimati

Beritacenter.COM - Gunung tertingg di pulau Jawa bernama Gunung Semeru mengalami terbakar di hutan dan lahan hingga..
6 jam yang lalu

Viral Video Tentara Aceh Usir Semua Penduduk Yang Berasal Dari Luar Aceh

Beritacenter.COM - Sebuah video mengatasnamakan kelompok Pembebasan Kemerdekaan Atjeh Darussalam/Atjeh Merdeka..
6 jam yang lalu

Penemuan Mayat Wanita Terikat Tali Tangan dan Kepala Gemparkan Warga Pasuruan

Beritacenter.COM - Penemuan mayat wanita tanpa identitas sempat membuat gempar warga sekitar Perairan Lekok Kabupaten..
6 jam yang lalu

Begini Cara Melindungi Data dari Virus Ransomware di Windows 10

Beritacenter.COM - Pihak Microsoft kali ini meluncurkan pembahruan pada sistem operasi Windows 10. Pembahruan itu..
7 jam yang lalu

Kapolda NTB Akan Usut Tuntas Kematian Zaenal

BeritaCenter.COM - Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB) Irjen Nana Sudjana akan mengusut tuntas pelaku dari..
7 jam yang lalu

Kebakaran Hutan Salah Mereka Sendiri, Jangan Salahkan Pemerintah

Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan kasus kebakaran hutan yang menimpa saudara-saudara kita yang berada di..
7 jam yang lalu

Gempa Susulan di Tuban Jatim Terasa Hingga Yogyakarta dan Bali

Beritacenter.COM - Gempa susulan kembali mengguncang kawasan Tuban, Jawa Timur, Kamis (19/9/2019) siang. Gempa..
7 jam yang lalu

Tidak Terima Ditegor, Tetangga Saling Bacok Satu Orang Tewas

Beritacenter.COM - Suhari (57) dan Nurhasan (47), dua pria ini yang juga masih tetangga dekat terlibat carok. Suhari..
8 jam yang lalu

Jenazah Bayi Dibawa Nenek Tanpa Mobil Ambulan dari Puskesmas

Beritacenter.COM - Jenazah bayi yang meninggal di Pusat Kesehatan Masyarakat(Puskesmas) di Cilincing dibawa oleh..
8 jam yang lalu

Benarkah KPK "Main Mata" Dengan Anies Baswedan Dalam Kasus Korupsi ?

Beritacenter.COM - Masih banyak pertanyaan bagaimana kinerja KPK dalam memberantas korupsi di negeri ini, pasalnya..
8 jam yang lalu

Gara-gara Lupa matikan Kompor Gas Saat Memasak, Tiga Rumah Dilalap Si Jago Merah

Beritacenter.COM - Kebakaran hebat yang melanda tiga rumah warga di Desa Ngaglik, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten..
8 jam yang lalu

Perempuan Aceh Disekap dan Diperkosa Selama 4 hari

BeritaCenter.COM - Polres Aceh Utara berhasil menangkap pelaku penculikan dan pemerkosan di Desa Alue Mudem,..
8 jam yang lalu

Ditawari Kulit Jadi Putih, Gadis Ini Malah Dibius dan Diperkosa oleh Kenalan Medsos

Beritacenter.COM - Seorang gadis berinsial AM(24) berniat ta'aruf melalui media sosial justru mengalami nasib malang...
8 jam yang lalu

Tawarin Kerjaan Dengan Syarat Mengirim Foto Bugil, AB Dicokok Polisi

Beritacenter.COM - AB (17) warga Desa, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, berhasil diamankan pihak kepolisan..

+Indeks

 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi