Rabu, 19 Pebruari 2020 - 23:31 WIB

Mengingat Catatan Simposium Tragedi 1965

Oleh : Indah Pratiwi | Selasa, 19 April 2016 | 01:00 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin


Beritacenter.COM - Sudah lebih dari 50 tahun tragedi 1965 berlalu, namun aromanya masih terasa di bumi pertiwi.

Selama 50 tahun itu pula, luka tragedi yang diperkirakan memakan 500 korban jiwa masih menganga lebar, dibiarkan, tanpa penyelesaian. Setiap kelompok yang terlibat asik dengan kebenaran yang mereka pegang sendiri.

Pada 18 April 2016, Simposium Nasional Tragedi 1965 digelar di Jakarta, dihadiri oleh 200 peserta yang terdiri dari akademisi, pegiat dan tokoh hak asasi manusia, korban pelanggaran HAM berat dan organisasi korban, wakil partai politik, pelaku serta wakil dari lembaga-lembaga pemerintah.

Hari pertama pembukaan, terlihat tempat itu dijaga ketat, Menteri Politik Hukum dan Keamanan Luhut Panjaitan, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Kapolri Badrodin Haiti serta Jaksa Agung M. Prasetyo menghadiri pembukaannya.

Gubernur Lemhanas Agus Widjojo yang juga menjadi pengarah acara tersebut mengatakan simposium ini menggunakan pendekatan sejarah.

"Pendekatan ini lebih objektif, dan komprehensif. Jadi kita seperti memutar film mengenai peristiwa 65, kita akan mendengarkan apa yang terjadi sebelum peristiwa dan setelah peristiwa tersebut," kata Agus, Jakarta, Selasa(19/4).

Menurut dia peristiwa pembantaian besar itu, tidak turun tiba-tiba dari langit, ada sesuatu yang mendasarinya dan dilakukan secara sistemik.

Dia mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang melihat masa lalu dan mengakui kesalahannya.

Simposium tersebut dihadiri 200 orang dari segala kalangan, baik korban, pelaku, aktivis, organisasi masyarakat dan lainnya.

Luhut Pandjaitan mengatakan simposium ini adalah bentuk komitmen pemerintah untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM di Indonesia.

Ada keinginan pemerintah menyelesaikan masalah HAM harus dituntaskan, kami melihat penyelesaian Tragedi 65 ini menjadi pintu masuk menyelesaikan kasus yang lain," kata Luhut.

Pada pembukaan, salah satu orang yang terlibat peristiwa tersebut, Letjen TNI Purnawirawan Sintong Panjaitan mengatakan jumlah korban tidak sampai jutaan jiwa.

Sintong yang mantan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), pada Simposium Nasional 1965 tersebut, mengemukakan, waktu itu Presiden Soekarno membentuk Komisi Pencari Fakta untuk menghitung jumlah korban pembantaian.

"Mayjen Soemarno yang waktu itu sebagai Menteri Dalam Negeri menjadi ketuanya melaporkan korban ada 80 ribu orang, dan angka 500 ribu pertama kali keluar dari Oei Tjoe Tat (pembantu Presiden Soekarno)," kata dia.

Sintong menilai angka-angka itu tidak masuk akal karena RPKAD waktu itu hanya memburu para pemimpin PKI saja.

"Memang benar kami diturunkan ke Jawa Tengah, waktu RPKAD dibantu oleh pemuda Ansor, Muhammadiyah, tetapi kami hanya menangkap para tokohnya saja," kata dia.

Dia mengatakan para tokoh yang ditangkap ada dua kategori yaitu pasif dan aktif. Ia mengaku jika tokoh itu pasif maka mereka akan dilepaskan.

"RPKAD tidak hanya melakukan operasi, tapi RPKAD harus melindungi masyarakat juga, baik PKI atau tidak," kata Sintong.

Peneliti LIPI dan sejarawan Indonesia Asvi Warman Adam mengatakan Sintong tidak salah jika yang menjadi korban di tangan RPKAD tidak sampai ratusan ribu orang, tetapi RPKAD melatih pemuda-pemuda untuk "bersih-bersih" PKI pada waktu itu.

"RPKAD jumlahnya waktu itu sedikit, tetapi mereka juga melatih pemuda-pemuda untuk menumpas PKI, sehingga menurut yang saya ketahui jumlahnya memang sampai 500 ribu orang," kata dia.

Menurut dia tragedi 1965 adalah kasus kekeliruan kebijakan pemerintah yang bisa dituntut di Pengadilan HAM Adhoc.

Hak itu dilihat dari jangka waktu, tempat, pelaku dan korban yang jelas yakni komando pengasingan sejumlah tokoh ke Pulau Buru dalam rentang tahun 1965 hingga 1975.

Dia juga menawarkan salah satu solusi untuk menyelesaikan kasus ini adalah rehabilitasi, maksud rehabilitasi di sini adalah penyetaraan dengan warga Indonesia lainnya, karena tragedi 1965 termasuk pelanggaran HAM berat, dan orang-orang yang masuk golongan PKI atau diduga PKI telah didiskriminasi.

Siapa yang perlu direhabilitasi? "Soekarno dan korban G30S," kata Asvi.

Merehabilitasi Soekarno tidak cukup hanya menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada Soekarno tetapi juga membenarkan jejak sejarah peristiwa tersebut, yang selama ini sering dikonstruksi ulang sesuai dengan perspektif pemenang.

Seperti, Tap MPRS No. 33 Tahun 1967 menyatakan Presiden Soekarno ikut membantu gerakan PKI.

"Tidak mungkin Presiden ikut membantu gerakan yang akan menggulingkan dirinya sendiri, rehabilitasi untuk Soekarno tidak hanya memberinya gelar Pahlawan Nasional. tetapi juga meluruskan kembali sejarah yang terjadi pada waktu itu," ucapnya, menegaskan.

Selain itu, para korban juga harus direhabilitasi dengan menghapuskan diskriminasi pada anak turunan orang yang diduga PKI.

Menurut dia pemerintah harus bertanggung jawab meminta maaf kepada para korban.

Ketua Sekber 65 Winarso mengatakan, pemerintah Indonesia tidak perlu meminta maaf mengenai peristiwa tersebut, tetapi pemerintah perlu memenuhi hak-hak para korban.

"Kita tidak perlu memaksakan pemerintah untuk meminta maaf, karena struktur kebudayaan kita berbeda, yang penting mereka bertanggung jawab untuk memenuhi hak korban, seperti pengakuan negara atas pelanggaran HAM berat pada 1965-1966," ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga perlu merehabilitasi nama baik para korban serta memberikan kompensasi sesuai kemampuan negara.

"Sebenarnya secara tidak langsung pemerintah telah memberikan kompensasi seperti dana kesehatan, hal yang sekecil ini sudah merupakan hal besar bagi korban," kata dia.






Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






25 menit yang lalu

Ngaku Berangkat Sekolah ke Orang Tua, Pelajar Ini Malah Mesum

Beritacenter.COM - Salah seorang siswa dan siswi pelajar dan lima pasangan mesum lainya terjaring razia di kos yang..
1 jam yang lalu

Perusahaan Seluler Indosat PHK Ratusan Karyawan

Beritacenter.COM - Para karyawan Indosat yang tergabung dalam Serikat Pekerja (SP) mengirimkan surat secara resmi..
2 jam yang lalu

Kecelakaan Beruntun Libatkan 3 Mobil di Lebak Banten, 5 Orang Terluka

Beritacenter.COM - Terjadi kecelakaan berutun di Km 22, Jalan Gunung Kencana-Malingping, Kabupaten Lebak, Banten,..
2 jam yang lalu

Negara Rugi Ratusan Miliar, Kejagung Tetapkan 3 Tersangka soal Kasus Korupsi PT Danareksa Sekuritas

Beritacenter.COM - Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan tiga tersangka terkait kasus dugaan suap dalam..
3 jam yang lalu

Polisi: Pelaku Penyekap Gadis yang Dipaksa 'Threesome' di Brebes Seorang Dukun

Beritacenter.COM - Penyekapan terhadap gadis dibawah umur dilakukan pasangan suami-istri (pasutri), Sarkum (51) dan..
3 jam yang lalu

Mahfud Md Usul Polsek Tak Urus Pidana, Ini Tanggapan Bareskrim...

Beritacenter.COM - Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud Md..
3 jam yang lalu

Apple Akui Penyebaran Virus Corona Berimbas pada Bisnis Perusahaan

Beritacenter.COM - Raksasa teknologi Apple menyebut wabah virus corona berimbas pada bisnis perusahaan. Virus Corona..
4 jam yang lalu

Kabareskrim Polri Berusaha Keras Tangkap Honggo di Singapura

BeritaCenter.COM – Tersangka kasus korupsi kondensat yang merugikan negara Rp 35 triliun, Honggo Wendratno,..
4 jam yang lalu

Fakta Menyebutkan Tak Semua Virus Corona pada Hewan Bisa Menginfeksi Manusia

Beritacenter.COM - Kelelawar dan berbagai hewan lainnya sempat disebut sebagai penyebar wabah virus corona. Meski..
4 jam yang lalu

Demo di Balai Kota Ricuh, Massa Loncat Pagar dan Lempari Tomat ke Kantor Anies Baswedan

Beritacenter.COM - Gerakan Jaga Indonesia (GJI) melakukan demo penolakan revitalisasi Monas dan Taman Ismail Marzuki..
5 jam yang lalu

WNA asal Rusia Tewas Tenggelam di Pantai Pasut Bali

Beritacenter.COM - Hendak berfoto-foto, seorang warga negara asing (WNA) asal Rusia, Avelina (22) tewas usai terseret..
5 jam yang lalu

Sambangi Menko Polhukam Mahfud MD, Kabakamla Bahas UU Keamanan Laut

Beritacenter.COM - Kepala Badan Keamanan Laut (Kabakamla) Laksamana Madya (Laksdya) Aan Kurnia mengunjungi Menteri..
6 jam yang lalu

Disekap 10 Hari, Gadis Dibawah Umur Dipaksa 'Threesome' oleh Pasutri di Brebes

Beritacenter.COM - Seorang gadis asal Bumiayu, Brebes, disekap oleh pasangan suami-istri (pasutri), Sarkum (51) dan..
6 jam yang lalu

Malu Diteriaki Tagih 'Utang', Jadi Alasan IRT di Bandung Pukul Rentenir Pakai Tabung Gas

Beritacenter.COM - Ibu rumah tangga (IRT) berisial S (38) warga Kampung Buni Kasih RT 01/21, Desa Lebakmuncang,..
6 jam yang lalu

Peluang Ahok Maju Pilpres 2024

Kalau dalam sepakbola, kemenangan ditentukan berapa banyak gol yang dicetak dikurangi jumlah kemasukan gol. Secantik..
7 jam yang lalu

Kabareskrim: Tersangka Kondensat Rp35 Triliun Diduga Sembunyi di Singapura

Dalam kesempatan ini kami laporkan juga bahwa beberapa upaya untuk menghadirkan tersangka HW ini sudah kami lakukan..
7 jam yang lalu

Hendak Bakar Sampah, Api Justru Merambat dan Membakar Dapur

Beritacenter.COM - Suminah (70), seorang warga di Dusun 2, Kalurahan Pandowan, Kapanewon Galur, harus kehilangan..
7 jam yang lalu

Cegah Bentrokan, Polisi Larang Jakmania datang ke Laga Perebaya vs Persija di Sidoarjo

Beritacenter.COM - Guna menghindari bentrokan antar kedua suporter, pertandingan Final Piala Gubernur Jatim antara..
8 jam yang lalu

Cara Agar WhatsApp Tak Diretas Orang Lain...

Namun, siapa sangka jika aplikasi paling laris ini rawan disadap? Akhir-akhir ini banyak berita dan informasi yang..
8 jam yang lalu

Mayat Bayi Laki-Laki yang Ditemukan di Kali Ciliwung Diduga Hanyut Dari Daerah Ini...

Beritacenter.COM - Bayi laki-laki ditemukan tewas di kali Ciliwung, Jalan Matraman Dalam, Kelurahan Pegangsaan,..
8 jam yang lalu

Alhamdulillah... Salah Satu TKW Asal Indonesia Berhasil Sembuh dari Virus Corona...

Diketahui juga jika warga negara Indonesia tersebut adalah salah satu Tenaga Kerja Wanita yang sudah lama bekerja di..
8 jam yang lalu

Emak-emak Pukul Rentenir dengan Tabung Gas, Wajah dan Kepala Terluka 40 Jahitan

Beritacenter.COM - Masalah hutang-piutang, membuat rentenir wanita berinisial TRT (50) terluka. TRT dipukuli oleh..

+Indeks

 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi